Sebuah karya sastra bernuansa refleksi tentang kegelisahan manusia modern resmi terbit dan mulai dapat dinikmati publik. Buku berjudul Hidup atau Sekadar Bertahan? karya dua penulis muda, Fathan Faris Saputro dan Uswatun Hasanah, hadir sebagai kumpulan puisi yang mengajak pembaca menelusuri lapisan-lapisan batin: apakah manusia benar-benar hidup, atau sekadar melewati hari demi hari.
Sejak halaman pertama, suasana kontemplatif langsung terasa. Melalui puisi-puisi seperti “Ada Tapi Tiada”, “Bernapas, Tapi Mati”, dan “Bayang Nestapa”, kedua penulis menggambarkan paradoks kehidupan masa kini ketika raga hadir, tetapi jiwa kerap tertinggal. Rasa asing di tengah keramaian, kekosongan dalam rutinitas, dan kehilangan yang tidak bersuara menjadi tema yang dipotret secara puitis.
Meski banyak menyentuh sisi kelam batin manusia, kumpulan puisi ini tidak larut dalam pesimisme. Pada bagian “Bertahan dalam Sepi” dan “Ada, Tanpa Hampa”, pembaca dibawa memasuki perjalanan rekonsiliasi diri. Dari luka menuju penerimaan, dari kehampaan menuju harapan. Puisi “Batas Kota” dan “Berjalan Tanpa Tujuan” menegaskan bahwa makna hidup kerap ditemukan dalam langkah-langkah kecil, bukan semata pada pencapaian besar.
Fathan Faris Saputro mengungkapkan bahwa proses kreatif buku ini berangkat dari pergulatan pribadi yang kemudian berkembang menjadi refleksi universal. “Buku ini lahir dari perjalanan panjang antara bertahan dan menjalani. Kami ingin pembaca tidak merasa sendirian menghadapi retakan hidup. Setiap bait adalah bentuk kejujuran, sekaligus undangan untuk berdamai dengan diri sendiri,” ujar Fathan, Koordinator Divisi Pustaka dan Informasi MPID PDM Lamongan, Selasa (9/12/2025).
Buku ini mencapai titik emosionalnya pada puisi “Antara Hidup dan Pasrah”, yang merangkai kecemasan, keheningan, dan ketidakpastian hidup dalam renungan yang kembali mengarah pada pertanyaan besar: Apakah kita sedang hidup, atau hanya bertahan?
Uswatun Hasanah menyampaikan, setiap kata dalam buku tersebut memiliki jejak perjalanan personal. “Setiap kata yang kami tulis adalah bagian dari perjalanan kami sebagai manusia. Kami berharap buku ini menjadi teman bagi siapa pun yang sedang mencari pijakan, pengingat bahwa cahaya tidak pernah benar-benar hilang, hanya menunggu untuk ditemukan kembali,” tutur Uswatun, guru di SD Muhammadiyah 1 Mantingan yang aktif di berbagai organisasi, termasuk DPD Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Jawa Timur dan PCNA Mantingan. Ia juga menjabat Sekretaris Wakil Bidang Pustaka dan Literasi Kwarda HW Kabupaten Ngawi.
Secara keseluruhan, Hidup atau Sekadar Bertahan? bukan sekadar rangkaian puisi, melainkan sebuah ruang permenungan bagi siapa pun yang tengah bergulat dengan sunyi, resah, atau pertanyaan-pertanyaan tentang makna keberadaan. Karya ini menjadi bacaan yang layak bagi pencinta sastra maupun pembaca yang sedang mencari arah dalam perjalanan hidup. (Bilal)
