www.majelistabligh.id -
15. Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. 16. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka.” (QS. Huud: 15-16)
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّم يَقُوْلُ : إِنَّ اَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ رَجُلٌ اسْتُشْهِدَ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: قَاتَلْتُ فِيْكَ حَتَّى اسْتُشْهِدْتُ قَالَ: كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ قَاتَلْتَ ِلأَنْ يُقَالَ جَرِيْءٌ, فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ اْلقُرْآنَ فَأُُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَعَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ وَقَرَأْتُ فِيْكَ اْلقُرْآنَ, قَالَ:كَذَبْتَ, وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ: عَالِمٌ وَقَرَأْتَ اْلقُرْآنَ لِيُقَالَ هُوَ قَارِىءٌ ، فَقَدْ قِيْلَ ، ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ حَتَّى اُلْقِيَ فيِ النَّارِ, وَرَجُلٌ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ وَاَعْطَاهُ مِنْ اَصْْنَافِ الْمَالِ كُلِّهِ فَأُتِيَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا, قَالَ: فَمَا عَمِلْتَ فِيْهَا؟ قَالَ: مَاتَرَكْتُ مِنْ سَبِيْلٍ تُحِبُّ أَنْ يُنْفَقَ فِيْهَا إِلاَّ أَنْفَقْتُ فِيْهَا لَكَ, قَالَ: كَذَبْتَ ، وَلَكِنَّكَ فَعَلْتَ لِيُقَالَ هُوَ جَوَادٌ فَقَدْ قِيْلَ, ثُمَّ أُمِرَ بِهِ فَسُحِبَ عَلَى وَجْهِهِ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ. رواه مسلم (1905) وغيره
Dari Abi Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya manusia pertama yang diadili pada hari kiamat adalah orang yang mati syahid di jalan Allah. Dia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan (yang diberikan di dunia), lalu ia pun mengenalinya. Allah bertanya kepadanya : ‘Amal apakah yang engkau lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Ia menjawab : ‘Aku berperang semata-mata karena Engkau sehingga aku mati syahid.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berperang supaya dikatakan seorang yang gagah berani. Memang demikianlah yang telah dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret orang itu atas mukanya (tertelungkup), lalu dilemparkan ke dalam neraka.
Berikutnya orang (yang diadili) adalah seorang yang menuntut ilmu dan mengajarkannya serta membaca al Qur`an. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengakuinya. Kemudian Allah menanyakannya: ‘Amal apakah yang telah engkau lakukan dengan kenikmatan-kenikmatan itu?’ Ia menjawab: ‘Aku menuntut ilmu dan mengajarkannya, serta aku membaca al Qur`an hanyalah karena engkau.’ Allah berkata : ‘Engkau dusta! Engkau menuntut ilmu agar dikatakan seorang ‘alim (yang berilmu) dan engkau membaca al Qur`an supaya dikatakan (sebagai) seorang qari’ (pembaca al Qur`an yang baik). Memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’
Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeret atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka. Berikutnya (yang diadili) adalah orang yang diberikan kelapangan rezeki dan berbagai macam harta benda. Ia didatangkan dan diperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatannya, maka ia pun mengenalinya (mengakuinya). Allah bertanya : ‘Apa yang engkau telah lakukan dengan nikmat-nikmat itu?’ Dia menjawab : ‘Aku tidak pernah meninggalkan shadaqah dan infaq pada jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.’ Allah berfirman : ‘Engkau dusta! Engkau berbuat yang demikian itu supaya dikatakan seorang dermawan (murah hati) dan memang begitulah yang dikatakan (tentang dirimu).’ Kemudian diperintahkan (malaikat) agar menyeretnya atas mukanya dan melemparkannya ke dalam neraka.’”
Dalam sebuah lawatannya ke negeri Syam, Abu Hurairah r.a. pernah ditanya oleh masyarakat muslim di sana, “Tuan guru, ceritakanlah kepada kami sebuah hadis yang tuan dengar langsung dari baginda Rasulullah SAW dan paling mengesankan dalam diri Tuan.”
Abu Hurairah kemudian menceritakan sebuah hadis Rasulullah yang mengisahkan tentang tiga orang Muslim di hadapan mahkamah Allah kelak. Hadis dari Abu Hurairah yang diriwayatkan Imam Muslim, An-Nasa’i, Imam Ahmad dan Baihaqy ini menceritakan seorang mujahid, seoran alim, dan seorang dermawan. Bukan surga yang diperoleh, justru neraka yang didapat ketiganya.
Orang pertama dipanggil menghadap Allah. Ia merupakan seorang pria yang mati syahid. Saat di hari perhitungan, Allah pun bertanya, “Apa yang telah kau perbuat dengan berbagai nikmat-Ku?” Mujahid itu menjawab, “Saya telah berperang di jalan-Mu, sehingga saya mati syahid,” ujarnya.
Allah pun menyangkalnya, “Kau telah berdusta. Kau berperang agar namamu disebut manusia sebagai orang yang pemberani. Dan ternyata kamu telah disebut-sebut demikian.” Mujahid itu pun diseret wajahnya dan dilempar ke jahannam.
Orang kedua pun dipanggil. Ia seorang ulama yang alim dan suka mengajarkan Al-Quran pada sesamanya. Seperti orang pertama, Allah memberi pertanyaan yang sama, “Apa yang telah engkau perbuat berbagai nikmat-Ku?”
Si alim ulama itu menjawab, “Saya telah membaca, mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an kepada manusia karena Engkau.” Allah berfirman, “Kamu berdusta. Kau mempelajari ilmu agar disebut sebagai seorang alim dan kau membaca Al-Qur’an agar kamu disebut sebagai seorang qari’.” Sang alim ulama pun menyusul si mujahid, masuk ke neraka.
Orang ketiga pun dipanggil. Kali ini ia seorang yang sangat dermawan. Sang dermawan dianugerahi Allah harta yang melimpah. Allah pun menanyakan tangung jawabnya atas nikmat itu, “Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat-Ku?”
Sang dermawan menjawab, “Saya tidak pernah meninggalkan sedekah dan infaq di jalan yang Engkau cintai, melainkan pasti aku melakukannya semata-mata karena Engkau.”
Dia pun tak jauh beda dengan dua orang sebelumnya. “Kau berdusta. Kau melakukannya karena ingin disebut sebagai seorang dermawan. Dan begitulah yang dikatakan orang-orang tentang dirimu.” Sang dermawan yang riya’ ini pun diseret dan dilempar ke neraka, bergabung dengan dua temannya yang juga menyimpan sifat riya’ di hati.
Jangan-jangan jika ketika kita dipanggil dan ditanya, “Apa yang telah engkau perbuat dengan berbagai nikmat-Ku di dunia?”
Kita lalu menjawab, “Saya telah menjalankan ibadah puasa Ramadhan beserta amal ibadah di dalamnya selama berpuluh-puluh tahun, Ya Allah. Dan aku melakukannya semata-mata karena Engkau.”
Allah pun kemudian menimpali jawaban kita, “Kau berdusta. Kau melakukannya karena ikut-ikutan saja. Kau melakukannya karena malu dilihat tetangga jika tidak berpuasa. Kau membaca al-Quran karena ingin disebut ahli baca Al-Quran dan sering ke masjid biar disebut orang serius beribadah di bulan Ramadhan. Dan begitulah yang dikatakan orang-orang tentang dirimu.”
Kita yang berpuasa karena riya’ pun diseret dan dilempar ke neraka, bergabung dengan mereka yang menyimpan sifat riya’ (ingin dilihat), sum’ah (ingin didengar) dan ‘ujub (bangga dan sombong dengan amal salehnya) di hati.
Di mata manusia, semuanya merupakan seorang yang taat beribadah dan diyakini akan menjadi penduduk surga. Namun, hanya Allah yang mengetahui segala isi hati hamba-Nya. Rahasia ikhlas ternyata benar-benar tak seorang pun yang tahu. Hanya Allah yang benar-benar mengetahuinya, “Sirrun min asrariy, rahasia di antara rahasia-Ku,” kata sebuah hadis Qudsi.
Di kalangan para ulama, sebagaimana Ust. Moh. Arifin Ilham, menyebut beberapa tanda keikhlasan dalam diri seseorang. Pertama, istiqamah, terus-menerus dalam ibadah, baik ada maupun tidak ada orang, dipuji atau dihina.
Kedua, tidak mudah Ge-Er-an karena pujian dan tidak sakit hati karena hinaan. Tidak mudah terpengaruh jika dipuji dan tidak mudah tersinggung jika dihina. Dalam bahasa yang keren, Disanjung tidak melambung, dicaci tidak akan mati.
Ketiga, pantang berkeluh kesah karena semuanya diputuskan Allah dengan rahmat, ilmu, dan kebijakan-Nya, sehingga tampaklah pada wajahnya yang selalu tersenyum.
Keempat, berbaik sangka dengan selalu memuji Allah atas segala peristiwa dan kejadian-Nya. Dalam Al-Quran itu ada khaufan wa thama’an, khawatir dan penuh harap. Ia merasa takut amal salehnya tidak diterima oleh Allah, sehingga ia senantiasa berdoa memohon kepada Allah agar diterima amal baiknya. Setelah itu, ia berhusnuzh-zhan optimis penuh harap bahwa semua akan diterima oleh Allah.
Kelima, puas bukan hanya dengan nikmat Allah, melainkan atas segala keputusan Allah. dalam kajian akhlak hal ini disebut qanaah. Ia meyakini sepenuhnya bahwa semua terjadi karena kehendak dan kuasa-Nya, bukan karena yang lain.
Keenam, at-tawadhu’ (rendah hati), lalu asy-syahiyyu (ringan tangan) untuk memberi. Meski diberi kekayaan oleh Allah, tetapi ia merasa bahwa semua hanyalah titipan dan atas karunia-Nya saja bisa seperti itu. Karena merasa tidak memiliki, maka ia bagikan kepada makhluk Allah yang lain.
Ketujuh, bersemangat hanya pada yang halal karena orientasi hidupnya Akhirat. Ia memaafkan dengan mendoakan yang menyakiti. Jika pun dipuji ia balas dengan doa.
Kedelapan, hobi dan kesibukannya adalah bermuhasabah diri dan tidak tertarik mencari aib orang lain, lalu lisannya terus berzikir, beristighfar, dan bershalawat. Hati bertekad selalu menghidupkan sunah harian Rasulullah SAW. Dan, mudah menitikkan air mata ketika sedang dalam puncak kenikmatan taat.
Jangan sampai kita termasuk orang yang merugi seperti yang disindir oleh Allah dalam QS. Al-Kahfi: 103-104, “Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.”(*)
