Rahasia Lepat Gayo, Tradisi Menggugah Selera yang Eratkan Silaturahmi Masyarakat Aceh di Bulan Ramadan 

Rahasia Lepat Gayo, Tradisi Menggugah Selera yang Eratkan Silaturahmi Masyarakat Aceh di Bulan Ramadan 
www.majelistabligh.id -

Memasuki wilayah dataran tinggi Aceh yang meliputi Bener Meriah, Aceh Tengah, hingga Gayo Lues menjelang bulan suci Ramadan, aroma khas daun pisang yang diasapi mulai menyeruak dari dapur-dapur warga. Di sinilah, identitas kuliner dan kearifan lokal bertemu dalam sepotong kudapan bernama Lepat Gayo.

​Lebih dari sekadar takjil, Lepat Gayo adalah simbol “guyub” yang hingga kini masih menjadi nafas kehidupan masyarakat setempat.
Tradisi saling menghantarkan makanan ini seolah menjadi ritual wajib untuk mempererat ikatan persaudaraan sebelum fajar pertama Ramadhan menyingsing.

​Secara teknis, Lepat Gayo merupakan penganan berbahan dasar labu, ketan, atau singkong yang dihaluskan. Adonan ini kemudian dipadukan dengan manisnya gula aren yang legit. Namun, keistimewaannya terletak pada proses akhir, setelah dikukus, lepat akan diasapi.

Proses pengasapan inilah yang memberikan aroma smoky yang khas sekaligus membuat makanan ini memiliki daya simpan yang lebih lama. ​Namun, nilai utama dari kudapan ini bukan terletak pada komposisinya, melainkan pada perpindahan piring dari satu rumah ke rumah lainnya.

Di Tanah Gayo, hampir setiap keluarga memproduksi lepat dalam porsi besar. Tujuannya satu yakni untuk dibagikan kepada tetangga sebagai bentuk sedekah dan penghormatan.

​Dakwah Kultural dan Harmoni Sosial

​Fenomena sosial ini mendapat perhatian dari tokoh agama setempat. Wakil Ketua MPJ Aceh Tengah, Tgk. Mursyidin, menjelaskan bahwa tradisi ini merupakan manifestasi nyata dari ajaran Islam mengenai ukhuwah (persaudaraan).

Menurutnya, momentum saling mengantar lepat ini menjadi ruang bagi warga untuk saling memaafkan dan membersihkan hati sebelum memasuki bulan puasa. Baginya, interaksi antar-rumah ini menciptakan harmoni sosial yang sulit digantikan oleh teknologi modern.

Senada dengan hal tersebut, pengamat budaya dari UNISAI Samalanga, Tgk. Iswadi Laweung atau yang akrab disapa Abah Iswadi, melihat tradisi ini sebagai bentuk dakwah kultural. Abah Iswadi berpendapat bahwa masyarakat Gayo sebenarnya sedang mempraktekkan nilai-nilai religius melalui cara yang sangat membumi.

“Tanpa perlu narasi yang panjang, melalui sepotong lepat, pesan tentang berbagi, kebersamaan, dan saling menghargai tersampaikan secara otomatis,” jelasnya.

​Di tengah gempuran kuliner modern dan gaya hidup instan, kelestarian Lepat Gayo menjadi tantangan tersendiri. Abah Iswadi menekankan pentingnya melibatkan generasi muda dalam proses ini. Tujuannya agar mereka tidak hanya mengenal rasa, tetapi juga memahami nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.

​Lepat Gayo bukan sekadar urusan perut. Di dalam lipatan daun pisangnya, terselip doa, harapan akan keberkahan bulan Ramadhan, serta komitmen untuk terus menjaga warisan leluhur. Tradisi ini menjadi bukti otentik bahwa di Tanah Gayo, agama dan budaya tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan beriringan menciptakan harmoni yang indah bagi generasi ke generasi. (abdul fatah)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search