”Rain is a blessing that comes down from the sky, but a flood is a disaster that rises from the earth”
“(Hujan adalah rahmat yang turun dari langit, namun banjir adalah musibah yang naik dari bumi)”
Musim hujan, terutama saat cuaca ekstrem, adalah momentum refleksi. Allah SWT menurunkan air hujan bukan tanpa tujuan, melainkan sebagai rahmat dan sumber kehidupan. Allah SWT berfirman,
وَهُوَ الَّذِي يُنَزِّلُ الْغَيْثَ مِنْ بَعْدِ مَا قَنَطُوا وَيَنْشُرُ رَحْمَتَهُ ۚ وَهُوَ الْوَلِيُّ الْحَمِيدُ
Artinya:
“Dan Dialah yang menurunkan hujan setelah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.“(Qs. Asy-Syura: 28)
Ayat ini menegaskan bahwa hujan adalah manifestasi dari rahmat Allah yang diturunkan pada waktu yang tepat, menghidupkan kembali harapan dan bumi yang gersang. Dalam hadis, Nabi Muhammad SAW bersabda,
ثِنْتَانِ مَا تُرَدَّانِ الدُّعَاءُ عِنْدَ النِّدَاءِ وَ تَحْتَ الْمَطَرِ
Artinya:
“Doa tidak tertolak pada 2 waktu, yaitu ketika adzan berkumandang dan ketika hujan turun.” (HR. Hakim, No. 2534).
Hadis ini menunjukkan bahwa kedua waktu tersebut merupakan saat-saat mustajab untuk memanjatkan doa, di mana Allah SWT sangat mengabulkan permohonan hamba-Nya.
Oleh karena itu, agar rahmat hujan membawa manfaat dan maslahat, dan bukan malapetaka, kita wajib menjaga kelestarian lingkungan. Kita harus menghindari penebangan liar, menghentikan kebiasaan membuang sampah sembarangan, dan mengendalikan segala bentuk limbah.
Kesadaran untuk bersyukur atas nikmat hujan, yang diiringi dengan kesungguhan menjaga amanah lingkungan, adalah kunci utama agar hujan senantiasa menjadi berkah, bukan sumber bencana.
Semoga bermanfaat.
