Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sidoarjo menggelar Rapat Kerja Pimpinan Daerah (RAKERPIMDA) Tahun 2026 pada Ahad (25/1/2026) di Aula Mas Mansyur GKB 2 Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA), Kampus 1. Kegiatan ini dihadiri pimpinan harian PDM serta unsur Majelis, Lembaga, dan Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah Sidoarjo.
Acara yang dijadwalkan dimulai pukul 07.00 WIB baru berjalan efektif sekitar pukul 08.00 WIB, diawali dengan pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, serta menyanyikan Indonesia Raya dan Mars Muhammadiyah. Ketua PDM Sidoarjo, Prof. Dr. A. Dzo’ul Milal, MPd dalam amanatnya menekankan pentingnya konsolidasi program dan penguatan peran majelis sebagai motor gerakan persyarikatan.
Rapat pleno kemudian dipimpin oleh Sekretaris PDM Sidoarjo, Burhanuddin, SThI, MPd dengan agenda utama pemaparan dan pengesahan program kerja PDM, majelis, lembaga, serta Ortom tahun 2026. Seluruh agenda berjalan sesuai mekanisme organisasi hingga sesi resmi dinyatakan selesai. Namun, catatan terpenting justru muncul di luar agenda formal.
Catatan Kritis dari Akar Rumput
Menjelang penutupan, sembari menunggu waktu makan siang, Ustaz Zainudin, Wakil Ketua Majelis yang membidangi MTT dan UMKM, menyampaikan kegelisahan yang ia himpun dari sekitar 16 jamaah Muhammadiyah.
Ia menyoroti sejumlah persoalan mendasar yang dinilai belum tertangani secara struktural, di antaranya:
- Belum adanya Majelis Tahsin Al-Qur’an di lingkungan Muhammadiyah Sidoarjo
- Krisis imam masjid Muhammadiyah, baik dari sisi jumlah maupun kualitas.
- Belum terselenggaranya Musabaqah Hifdzil Hadits sebagai sarana pembinaan generasi.
- Minimnya perpustakaan masjid, yang berdampak pada lemahnya budaya literasi keislaman.
Dengan nada santai namun bernilai reflektif, ia melontarkan pertanyaan kepada seluruh pimpinan yang hadir, “Persoalan ini kira-kira masuk bidang majelis yang mana?” Pertanyaan tersebut disambut keheningan forum dan belum menemukan jawaban konkret hingga rapat ditutup.
RAKERPIMDA PDM Sidoarjo kemudian diakhiri dengan doa yang dipimpin oleh Pak Misbah. Meski secara administratif forum berhasil mengesahkan program kerja tahun 2026, sejumlah catatan kritis tersebut menjadi pengingat penting bahwa tantangan Muhammadiyah ke depan, tidak hanya terletak pada perencanaan program, tetapi juga pada kejelasan tanggung jawab dan keberpihakan terhadap kebutuhan riil jamaah. (moh. mas’al)
