Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Kalimantan Timur menggelar Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) ke-2 Tahun 2026 di Hotel Grand Sawit Samarinda, Jumat–Sabtu (16–17 Januari 2026). Kegiatan ini menjadi momentum konsolidasi untuk memperkuat tata kelola, visi, dan arah pendidikan Muhammadiyah di Kalimantan Timur.
Rakerwil diikuti pimpinan Majelis Dikdasmen dan PNF PD Muhammadiyah se-Kaltim, kepala SMA/SMK/MA Muhammadiyah, serta unsur pimpinan wilayah. Forum ini diselenggarakan dalam rangka menunaikan amanah AD/ART Muhammadiyah, Qaidah UPP, dan Pedoman Pendidikan Muhammadiyah, sekaligus menjawab berbagai tantangan pengelolaan sekolah di era saat ini.
Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Kaltim, Zainul Muttaqin, MM dalam sambutannya menekankan pentingnya penataan administrasi sekolah secara tertib dan profesional. Ia menilai banyak persoalan hukum di sekolah berawal dari lemahnya sistem administrasi dan tata kelola kelembagaan.
“Sekolah Muhammadiyah harus ditertibkan administrasinya, terutama surat-menyurat dan dokumen resmi. Ini penting agar sekolah terlindungi secara hukum,” ujarnya.
Zainul juga menegaskan sikap Muhammadiyah terkait pembiayaan pendidikan. Menurutnya, sekolah Muhammadiyah tetap diperbolehkan memungut SPP atau infaq pendidikan selama digunakan untuk operasional dan kesejahteraan guru.
“Jika ada surat yang meminta SPP digratiskan karena dana BOS, harus dibaca secara cermat. Dana BOS tidak sepenuhnya menutup kebutuhan operasional, khususnya gaji guru,” jelasnya.
Rakerwil secara resmi dibuka oleh Ketua PWM Kaltim, KH. Siswanto, yang dalam keynote speech-nya menekankan penyatuan visi pendidikan Muhammadiyah harus diawali dengan penguatan ideologi persyarikatan. Ia mengingatkan agar seluruh pengelola pendidikan kembali menelaah AD/ART, Kaidah Organisasi, MKCH, dan Kepribadian Muhammadiyah.
“Dokumen-dokumen ini adalah pemandu gerak Muhammadiyah hingga mampu bertahan lebih dari satu abad. Jika ini dipahami dengan baik, visi pendidikan tidak akan kehilangan arah,” tegasnya.
- Siswanto juga menekankan bahwa pemahaman tauhid yang benar akan menyatukan banyak hal dalam pengelolaan pendidikan. Menurutnya, tauhid bukan hanya konsep akidah, tetapi kekuatan pemersatu hati, pikiran, gerak, dan program.
“Tauhid yang lurus akan menyatukan hati, pikiran, langkah, bahkan program yang kita susun,” ujarnya.
Lebih lanjut, KH. Siswanto mendorong agar pendidikan Muhammadiyah di Kalimantan Timur tidak berjalan sendiri-sendiri, apalagi terpusat di kota tertentu. Ia mengajak seluruh sekolah untuk mewujudkan program bersama antar sekolah se-Kalimantan Timur, bukan hanya antar sekolah di Samarinda.
“Program bersama ini penting untuk membantu membesarkan sekolah-sekolah kecil secara bergilir. Sekolah yang sudah kuat harus membantu yang masih tumbuh,” ungkapnya. Program tersebut, lanjutnya, perlu dikoordinasikan secara sistematis oleh Wakil Ketua PWM yang membidangi pendidikan, bersama Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM Kaltim, serta Ketua Forum Guru Muhammadiyah (FGM) Kaltim.(ay.1)
