Ramadan Bulan Tazkiyatun Nafs

Ramadan Bulan Tazkiyatun Nafs
www.majelistabligh.id -

Ramadan merupakan momentum agung untuk membersihkan jiwa dan memperkuat kualitas spiritual seorang mukmin. Pesan itu disampaikan Muhammad Roissudin, MPd, Anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Timur, dalam khutbah Jumat di Masjid Al Ikhlas Polres Nganjuk, Jumat (28/02/2026).

Dalam khutbahnya, ia mengangkat tema Tazkiyatun Nafs sebagaimana dijelaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya Ihya Ulumuddin. Roissudin yang juga mahasiswa doktoral di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menegaskan, Ramadan bukan sekadar ibadah ritual, tetapi proses sistematis penyucian hati. Proses ini menjadi fondasi bagi lahirnya pribadi berakhlak mulia dan masyarakat yang berkeadaban.

Dalam penjelasannya, Roissudin memaparkan, konsep tazkiyatun nafs memiliki tiga fase penting, yaitu takhalliyah, tahalliyah, dan tajalliyah. Ketiga tahapan ini menggambarkan perjalanan spiritual manusia dari kegelapan menuju cahaya ilahi.

“Ramadan adalah laboratorium rohani yang membentuk karakter mukmin secara bertahap dan terukur,” ujar Roissudin dalam khutbahnya.

Ia menekankan, tanpa proses bertahap, ibadah Ramadan akan kehilangan makna transformasionalnya. Hati manusia, lanjutnya, ibarat wadah yang harus dibersihkan sebelum diisi dengan nilai-nilai kebaikan.

Tahap pertama adalah takhalliyah, yakni mengosongkan diri dari sifat-sifat tercela. Roissudin menjelaskan, penyakit hati seperti riya’, sombong, iri, dan cinta dunia berlebihan merupakan sumber kehancuran batin. Ia mengutip firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 195: “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

Menurutnya, ayat ini tidak hanya berbicara tentang bahaya fisik, tetapi juga kehancuran spiritual akibat membiarkan hawa nafsu menguasai diri. “Takhalliyah adalah langkah awal agar kita tidak terjerumus pada kebinasaan batin,” tegasnya di hadapan jamaah.

Setelah proses pengosongan diri, tahap berikutnya adalah tahalliyah, yaitu menghiasi diri dengan sifat-sifat terpuji. Ia merujuk QS. Al-An’am ayat 120 yang memerintahkan meninggalkan dosa yang tampak maupun tersembunyi. Menurutnya, meninggalkan dosa harus diiringi dengan penguatan akhlak seperti ikhlas, sabar, syukur, tawakal, dan zuhud.

“Hati tidak boleh dibiarkan kosong, tetapi harus diisi dengan akhlak mulia agar menjadi pusat kebajikan,” ujarnya. Pada fase ini, seorang mukmin mulai merasakan ketenangan batin dan kestabilan spiritual dalam menjalani kehidupan.

Tahap puncak adalah tajalliyah, yakni tersingkapnya cahaya ilahi dalam hati seorang hamba. Roissudin mengutip QS. An-Nur ayat 35: “Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang yang di dalamnya ada pelita.” Ia menjelaskan, ketika hati telah bersih dan terhias dengan akhlak mulia, Allah akan memancarkan hidayah-Nya ke dalam diri seorang mukmin.

“Tajalliyah adalah anugerah, ketika hati menjadi jernih dan mampu membedakan kebenaran serta kebatilan secara terang,” katanya. Pada fase ini, seorang hamba merasakan kedekatan mendalam dengan Allah dalam setiap aspek kehidupannya.

Mengakhiri khutbahnya, Roissudin menegaskan, Ramadhan adalah madrasah penyucian jiwa yang harus dimanfaatkan secara optimal.

“Keberhasilan puasa tidak diukur dari lapar dan dahaga, tetapi dari sejauh mana hati kita mengalami transformasi,” ungkapnya.

Ia mengajak jemaah Polres Nganjuk menjadikan bulan suci ini sebagai momentum perubahan diri yang autentik dan berkelanjutan. Menurutnya, takhalliyah membersihkan wadah, tahalliyah mengisinya dengan kebaikan, dan tajalliyah menjadikannya bercahaya oleh petunjuk Allah. Wallahu musta’an. (*/red)

Tinggalkan Balasan

Search