Ramadan 1447 H (2026 M) kembali menyapa umat Islam di tengah situasi global yang menyesakkan dada. Faktanya, puasa Ramadan tahun ini dijalani warga di Gaza, Iran serta kawasan Timur Tengah lainnya di bawah bayang-bayang konflik yang memanas antara poros Iran melawan Israel dan Amerika Serikat.
Dentuman bom, suara drone serta kehancuran bangunan menjadi menu berbuka puasa dan sahur harian yang menggantikan hangatnya kebersamaan keluarga. Namun, di tengah puing-puing kehancuran dan ancaman perang, semangat menjalankan puasa Ramadan tetap menyala, hal ini menunjukkan keteguhan iman yang luar biasa.
Berbeda dengan kita umat Islam yang tinggal di Indonesia, kita dapat menjalankan puasa Ramadan dengan suasana yang sangat kondusif, kehangatan berkumpul dengan keluarga dapat dirasakan serta dapat beribadah dengan tenang, hal ini harus kita syukuri bersama dengan cara berusaha mengisi Ramadan ini dengan hal-hal yang positif serta berfastabiqul khairat.
Menjalani puasa di zona perang merupakan ujian sabar yang hakiki. Ia bukan sekadar menahan lapar dan dahaga semata, melainkan menahan diri daripada rasa putus asa serta kemarahan yang meluap. Rasulullah SAW pernah melalui pertempuran besar, seperti Perang Badar di bulan Ramadan, hal ini mengajarkan bahwa puasa adalah kekuatan spiritual, bukan kelemahan.
Al-Qur’an menegaskan pentingnya sabar dalam situasi sulit:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اصْبِرُوْا وَصَابِرُوْا وَرَابِطُوْاۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَࣖ ٢٠٠
Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu, kuatkanlah kesabaranmu, tetaplah bersiap siaga di perbatasan (negerimu), dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. (QS. Ali Imran:200).
Konflik ini mengingatkan kita bahwa puasa merupakan madrasah ketakwaan (QS. Al-Baqarah :183). Di tengah bara peperangan, puasa mengajarkan solidaritas bahwa rasa lapar yang dirasakan warga baik di Gaza maupun di Iran merupakan rasa lapar yang seharusnya menggugah empati dunia.
Puasa di tengah perang menginspirasi kita bahwa meskipun fisik terkurung dan terancam, jiwa manusia tetap merdeka untuk terhubung dengan Pencipta-Nya, yakni Allah SWT.
Oleh karena itu, mari kita jadikan bulan suci Ramadan ini menjadi momentum untuk memohon pertolongan kepada Allah SWT, agar kedamaian segera terwujud.
Puasa dalam konflik bukan sekadar menahan, melainkan bukti ketahanan iman tertinggi. Meski Ramadan saat ini diwarnai suasana yang mencekam, penuh ketakutan, namun harapan akan fajar perdamaian tetap harus dijaga.
Semoga puasa Ramadan yang kita jalani saat mampu menjadi perisai dan doa serta menjadi senjata paling ampuh untuk keselamatan umat manusia. (*)
