Ramadan sebagai Momentum Membangun Kalcer Islami

Ramadan sebagai Momentum Membangun Kalcer Islami
*) Oleh : M. Nizar Syahroni
Mahasiswa Magister PAI UMM & Ketua Bidang Seni Budaya PW IPM Jatim.
www.majelistabligh.id -

Ramadan, bukanlah bulan yang hanya menahan lapar dan haus semata. Ramadan merupakan madrasah kehidupan, yakni sebuah tempat yang dijadikan Allah untuk mendidik umat Islam dalam membangun kebiasaan dan karakter yang baik. Dalam bahasa yang sering digunakan anak muda hari ini, kita bisa menyebutnya sebagai membangun kalcer Islami, yaitu sebuah budaya hidup yang berlandaskan nilai-nilai keislaman.

Jika kita perhatikan, selama bulan Ramadan kita dilatih dengan berbagai kebiasaan baik, seperti; disiplin waktu melalui sahur, berbuka puasa hingga sholat dengan tepat waktu. Selain itu, kita juga dilatih untuk mampu menahan diri dari amarah, menjaga lisan dan memperbanyak ibadah dan amal saleh.

Allah SWT telah menggambarkan karakter orang-orang yang bertakwa dalam firmannya, pada surah Ali Imran ayat 134:

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Artinya: (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

 Melalui ayat tersebut, Allah SWT menunjukkan bahwa seorang muslim yang bertakwa itu memiliki kalcer hidup yang mulia; seperti kalcer berbagi, kalcer menahan amarah dan kalcer memaafkan sesasama.

 Dalam Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka memberikan penjelasan mengenai surah Ali Imran ayat 134. Hamka, menekankan bahwa ayat tersebut merupakan kelanjutan dari perintah untuk segera menuju ampunan Allah. Baginya, ciri-ciri orang yang bertakwa dalam ayat tersebut bukan hanya ritual ibadah, tetapi kematangan akhlak dalam hablum minan nash.

Pertama, Kalcer berinfak dalam lapang maupun sempit

Hamka menjelaskan bahwa orang yang bertakwa memiliki jika sosial yang hidup. Mereka tidak menunggu kaya untuk berbagi. Bahkan ketika hidup dengan kesederhanaan pun masih mau menolong orang lain. Baginya, inilah tanda hati yang tidak dikuasai oleh harta. Orang yang hatinya bersih akan mudah memberi.

Islam menanamkan kepada umatnya budaya kepedulian dan kedermawanan. Seorang muslim tidak hanya hidup untuk dirinya sendiri, tetapi juga memberi manfaat bagi orang lain. Hal ini sebagaimana hadis Nabi:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا:أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَهُوَ عَلَى المِنْبَرِ، وَذَكَرَ الصَّدَقَةَ، وَالتَّعَفُّفَ، وَالمَسْأَلَةَ: «اليَدُ العُلْيَا خَيْرٌ مِنَ اليَدِ السُّفْلَى، فَاليَدُ العُلْيَا: هِيَ المُنْفِقَةُ، وَالسُّفْلَى: هِيَ السَّائِلَةُ

Artinya: Abdullah bin Umar -raḍiyallāhu ‘anhumā- meriwayatkan: Rasulullah SAW bersabda saat beliau di atas mimbar ketika berbicara tentang sedekah dan menjaga diri agar tidak meminta-minta, “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. Tangan di atas adalah yang bersedekah, sedangkan tangan di bawah adalah yang meminta.”   [Sahih] – [Muttafaq ‘alaih] – [Ṣaḥīḥ Bukhari – 1429]

Kedua, Kalcer Menahan Amarah

Secara puitis, Hamka menggambarkan bahwa marah itu seperti api yang meluap. Orang yang bertakwa bukan tidak bisa marah, tetapi ia memiliki kendali diri untuk menelan kemarahannya demi kemaslahatan yang lebih besar. Ini adalah tanda kekuatan jiwa, bukan kelemahan.

Islam juga mendidik umatnya untuk memiliki kemampuan mengendalikan diri, terutama ketika emosi dan amarah muncul. Sebab ukuran kekuatan seseorang dalam pandangan Islam bukanlah kekuatan fisik, tetapi kekuatan menguasai dirinya. Hal ini sebagaimana hadis Nabi:

عن أبي هريرة رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:«لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

 Artinya: Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda,”Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam bergulat. Sesungguhnya ‎orang kuat ialah siapa yang dapat menahan dirinya ketika marah.‎” [Sahih] – [Muttafaq ‘alaih] – [Ṣaḥīḥ Bukhari – 6114]

Ketiga, Kalcer Memaafkan Manusia

Hamka mengatakan, bahwa menahan amarah saja belum cukup. Tingkatan yang lebih tinggi adalah memaafkan orang yang bersalah kepada kita. Orang yang mudah memaafkan, memiliki kelapangan hati. Ia tidak menyimpan sedikitpun dendam, karena hatinya lebih luas daripada kesalahan orang lain.

Memaafkan bukanlah tanda kelemahan. Justru orang yang mampu memaafkan adalah orang yang memiliki kelapangan hati. Allah sendiri menjanjikan kemuliaan bagi orang yang memaafkan kesalahan orang lain. Hal ini sebagaimana hadis Nabi:

عن أبي هريرة رضي الله عنه عن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:«مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زَادَ اللهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلَّا عِزًّا، وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلهِ إِلَّا رَفَعَهُ اللهُ

Artinya: Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- meriwayatkan dari Rasulullah SAW bahwa beliau bersabda,”Tidaklah sedekah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan pada seorang hamba dengan sebab memaafkan kecuali kemuliaan. Dan tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Allah mengangkat derajatnya.”  [Sahih] – [HR. Muslim] – [Ṣaḥīḥ Muslim – 2588]

 Pada akhirnya puncak dari semuanya, bahwa surat Ali Imran ayat 134 ditutup dengan kalimat:

وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”

Buya Hamka menutup penjelasannya dengan menyoroti potongan ayat terakhir: “Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (Ihsan).”

Beliau menjelaskan bahwa Ihsan adalah tingkatan tertinggi. Tidak hanya menahan diri dari membalas kejahatan, tetapi justru membalas kejahatan tersebut dengan kebaikan. Inilah puncak dari akhlak seorang Muslim yang dicintai Allah. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search