Ramadan: Transformasi Menuju Nafsu Mutmainah

Ramadan: Transformasi Menuju Nafsu Mutmainah
*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S.Pd. K. Mdy
Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM) Pimda 030 Jombang
www.majelistabligh.id -

​”True peace is not found in the satisfaction of desires, but in self-control”
​”(Kedamaian sejati tidak ditemukan dalam pemuasan keinginan, melainkan dalam pengendalian diri)”

​Ramadan bukan sekadar menahan lapar, melainkan medan tarung untuk menundukkan nafsu. Psikologi Islam mengenal empat tingkatan jiwa: Ammarah (buruk), Lawwamah (penyesal), Sufiah (duniawi), dan puncaknya, Nafsu Mutmainah. Melalui puasa di siang hari dan zikir di malam hari, kita mengikis egoisme, kikir, dan amarah, lalu menggantinya dengan kesabaran serta kedermawanan. Allah SWT berfirman,
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ. ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةًۚ
Artinya:
​”Wahai jiwa yang tenang (Mutmainah)! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.” (QS Al Fajr 27-28)

​Ibnu Katsir menjelaskan bahwa jiwa ini adalah jiwa yang tenang, tetap dalam ketaatan, dan tidak tergoncang oleh syahwat dunia karena telah menemukan kebahagiaan bersama Allah.

​Dalam hadis, Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِى يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Artinya:
Yang namanya kuat bukanlah dengan pandai bergelut. Yang disebut kuat adalah yang dapat menguasai dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari No. 6114, Muslim No. 2609)

Hadis tersebut menegaskan bahwa kekuatan sejati dalam Islam bukanlah pada fisik (jago gulat/berkelahi), melainkan kekuatan mental dan batin untuk menahan emosi serta mengendalikan diri saat marah.

Mari jadikan Ramadan tahun ini sebagai jembatan untuk meraih kemurnian fitrah. Ketika nafsu telah tunduk, kedamaian abadi akan menetap di hati.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Search