Rapor Hati: Lebih dari Sekadar Angka

Rapot Hati: Lebih dari Sekadar Angka
*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S.Pd. K. Mdy
Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM) Pimda 030 Jombang
www.majelistabligh.id -

​”Every child is a shining star in his own sky; don’t force fish to climb trees.”
​”(Setiap anak adalah bintang yang bersinar di langitnya sendiri; jangan paksa ikan memanjat pohon)”

​Momen bagi rapor bukan ajang penghakiman, melainkan ruang apresiasi. Jika dulu Anda dituntut juara, jangan wariskan beban itu pada anak, karena zaman telah berganti. Ingatlah, nilai akademik bukanlah satu-satunya penentu masa depan.

Fokuslah pada minat unik mereka, hargai setiap tetes keringat usahanya, dan jadilah pelabuhan dukungan yang hangat. Kesuksesan sejati adalah saat anak merasa dicintai tanpa syarat. Allah SWT berfirman,
لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا
Artinya:
​​“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”(Qs. Al-Baqarah: 286)

​Ayat ini menegaskan bahwa Setiap anak diciptakan dengan kapasitas dan keunikan beban yang berbeda. Memaksa anak melampaui batas kemampuannya (seperti menuntut nilai sempurna di semua bidang) bertentangan dengan prinsip kasih sayang Allah yang mengukur hamba-Nya dari proses dan ketaatan, bukan sekadar hasil akhir.

Dalam kutipan ucapan Ali bin abi thalib berbunyi,
علموا أولادكم فإنهم خلقوا لزمان غير زمانكم
Artinya
​”Ajarilah anak-anakmu sesuai dengan zamannya, karena mereka hidup di zaman yang berbeda dengan zamanmu.” (Ali bin Abi Thalib ra.)

​Makna pesan ini menekankan pentingnya relevansi dalam mendidik. Standar kesuksesan masa lalu tidak bisa dipaksakan sepenuhnya pada anak di era modern.

​Jadi rapor adalah evaluasi belajar, bukan vonis harga diri anak. Tugas orang tua bukan mencetak “juara kelas”, melainkan membimbing anak menjadi versi terbaik dari potensi fitrahnya masing-masing.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Search