Rasionalitas itu Wajib, Tapi Jangan Terjebak ke Rasionalisme

Rasionalitas itu Wajib, Tapi Jangan Terjebak ke Rasionalisme
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur.
www.majelistabligh.id -

Sebuah buku kecil judulnya Life After Date (hidup sesudah mati) ditulis oleh Raimen Mude Raimen adalah seorang dokter yang karena pintarnya dia dalam kedokteran kemudian dijadikan guru besar di bisang filsafat kedokteran.

Ketika dia mengajar ditanya oleh mahasiswanya, Pak Mude kalau orang mati itu pergi kemana? Sebagai dosen tertantang, dia menjawab saya harus penelitian. Apa penelitianya itu, yaitu meneliti seratus orang yang mati hidup kembali, diwawancarai. Ketika ditanya apa yang kamu rasakan ketika kamu mati.

Dari seratus orang yang pernah mati. 86 persen itu jawabanya saya keluar dari diri kita sendiri. Dan 14 persen kira-kira mirip jawabanya sama. Terus kemana kamu, terus saya masuk ke lorong yang sangat gelap, sesudah itu saya masuk ke tempat yang terang benderang. Apa yang kamu lihat di tempat yang terang benderang itu.

Ini seratus orang jawabnya sama. Saya melihat seluruh perjalanan hidup saya dalam sekejap. Jadi sekejap dia bisa melihat semua apa yang dilakukan ketika hidup itu. Ketika masuk sekolah, ketika pergi ke pasar, ketika berselingkuh, ketika korupsi dilihat semua dalam sekejap. Terus sesudah itu saya terus ke atas lagi tiba-tiba ada tabir dan saya tidak bisa masuk seakan-akan ada suara ngapain kamu ke sini belum waktunya kamu, tiba tiba saya hidup lagi.

Lalu apa yang terjadi di sini, banyak hal menarik. Pertama bahwa orang itu bisa pergi dari tubuhnya kayak kita pergi, sedang tidur kita pergi berkelana ke tempat lain. Itu mimpi. Yang kedua yang sangat luar biasa, ketika manusia itu di suatu saat di  suatu tempat yang terang benderang manusia itu melihat amalnya sendiri, sehingga dia tidak bisa mengatakan, saya tidak pernah korupsi, ada itu semua di alam terang kamu lihat sendiri.

Itulah yang di dalam Al-Qur’an dikatakan :
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلَّا لَدَيْهِ رَقِيْبٌ عَتِيْدٌ
Artinya: Tidak ada suatu kata pun yang terucap, melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat). (QS. Qof: 18)

Jadi Malaikat Roqib dan Atid itu tinggal menunjukkan. Maka dalam Al-Qur’an Surah Yasin ayat 65 Allah berfirman:
اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰٓى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَآ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ
Artinya: Pada hari ini Kami membungkam mulut mereka. Tangan merekalah yang berkata kepada Kami dan kaki merekalah yang akan bersaksi terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

Pada saat itu amal itu akan ditunjukkan kepadamu, apakah kamu orang baik atau tidak. Mulut kita tidak bisa membantah, terkunci, lalu apa yang bicara, adalah tangannya yang mengatatakan.dan kakinya juga yang mengatakan.

Maka islam itu rasionalitas wajib hukumnya, kita rasional. Tapi jangan terjebak ke dalam rasionalisme dimana yang kita anggap benar itu yang hanya masuk akal, karena seluruh yang masuk akal itu benar dan harus kita percaya. Tetapi di luar itu banyak yang tidak masuk akal yang justru mungkin lebih banyak yang masuk akal yang juga mempengaruhi kehidupan dan selalu di tunjukkan oleh Allah SWT

Rasionalitas wajib, tapi jangan terjebak dalam rasionalisme.
Bedanya apa?
* Rasionalitas adalah kemampuan menggunakan akal sehat untuk memahami, menimbang, dan mengambil keputusan. Dalam Islam, akal adalah anugerah Allah yang menjadi alat untuk mengenal kebenaran, termasuk mengenal tauhid. Karena itu, rasionalitas wajib—tanpa akal, manusia tidak bisa membedakan benar dan salah.

* Rasionalisme, sebaliknya, adalah menjadikan akal sebagai satu-satunya sumber kebenaran, menolak wahyu, dan menganggap segala sesuatu harus tunduk pada logika manusia. Ini berbahaya, karena akal manusia terbatas. Jika akal dijadikan “tuhan”, maka wahyu akan ditolak bila tidak sesuai dengan logika pribadi.

Ilustrasi Qur’an dan Hadis
* Allah berfirman:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ كَالْاَنْعَامِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ
Artinya: Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah. (QS. Al-A’raf: 179).

Ayat ini menegaskan pentingnya akal dan indera sebagai sarana memahami kebenaran.

* Nabi ﷺ bersabda: “Tidak ada agama bagi orang yang tidak berakal.” (HR. Ahmad). Artinya, akal adalah syarat untuk beragama.

Praktisnya
* Gunakan akal untuk memahami dalil, tapi jangan menolak dalil hanya karena akal terbatas.
* Rasionalitas menuntun kita untuk menerima wahyu; rasionalisme bisa menjerumuskan kita menolak wahyu.
* Analogi sederhana: akal itu seperti lampu senter, berguna untuk melihat jalan. Tapi wahyu adalah peta lengkap. Jika hanya mengandalkan senter, kita bisa tersesat; dengan peta, kita tahu arah yang benar.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Search