Dalam rangka merayakan Hari Kartini dan Hari Buku Dunia, RBC Institute A. Malik Fadjar mengadakan sebuah acara talkshow dan diskusi interaktif bertajuk Ruang Gagasan: Menyoal Pendidikan Perempuan yang berlangsung pada akhir bulan April lalu.
Acara ini menjadi wadah bagi para peserta untuk berdiskusi lebih dalam mengenai isu-isu penting seputar pendidikan perempuan, serta tantangan yang dihadapi perempuan dalam dunia pendidikan.
Tak hanya itu, acara ini juga mempertemukan penulis dan aktivis gender ternama, Kalis Mardiasih, yang diundang sebagai narasumber utama. Acara tersebut diselenggarakan secara tatap muka di Rumah Baca Cerdas yang terletak di Kota Malang.
Lebih dari 70 peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, seperti mahasiswa, guru, aktivis komunitas, hingga orang tua, turut hadir memeriahkan acara ini. Bahkan, beberapa peserta datang dari luar kota, termasuk Surabaya dan Pasuruan, menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap isu pendidikan perempuan yang memang masih relevan dan sangat penting untuk dibahas.
“Antusiasme yang kami terima menunjukkan betapa besar kepedulian masyarakat terhadap isu pendidikan perempuan, yang selalu menjadi topik yang relevan di setiap era,” ujar Subhan Setowara, Direktur Eksekutif RBC Institute A. Malik Fadjar.
Dalam pemaparannya yang penuh makna, Kalis Mardiasih menekankan pentingnya sebuah pendidikan yang tidak hanya memberikan akses secara formal, tetapi juga harus mampu membebaskan dan memberdayakan perempuan.
“Pendidikan yang sesungguhnya adalah pendidikan yang membebaskan, yang bukan hanya memberikan akses formal, tetapi juga mengubah paradigma berpikir. Perempuan harus diberi ruang untuk meraih potensi mereka tanpa dibatasi oleh stereotip dan norma yang tidak adil,” ungkap Kalis dalam diskusinya.
Dia juga menggarisbawahi bahwa pendidikan harus dimaknai dengan cara yang lebih mendalam.

“Kesetaraan bukanlah sebuah slogan. Itu adalah bagian dari budaya berpikir dan bersikap yang harus terinternalisasi dalam setiap proses pendidikan, mulai dari keluarga hingga ruang kelas,” tambah Kalis Mardiasih, yang juga dikenal sebagai penulis buku dengan tema pemberdayaan perempuan.
Diskusi yang berlangsung pun sangat hidup, penuh interaksi dan refleksi dari para peserta yang dengan antusias mengajukan pertanyaan dan berbagi pandangan mereka.
Banyak peserta yang mengungkapkan kekhawatiran terkait sistem pendidikan yang masih dianggap bias gender, yang mempengaruhi akses perempuan terhadap kesempatan pendidikan yang setara.
Salah seoarang pesertadari Surabaya mengungkapkan, “Saya merasa bahwa pendidikan di Indonesia masih belum sepenuhnya inklusif. Banyak tantangan yang harus dihadapi perempuan untuk mendapatkan akses pendidikan yang sama dengan laki-laki.”
Forum ini menjadi ajang yang sangat berharga untuk saling bertukar pikiran, memperkaya wawasan, serta memperluas perspektif tentang bagaimana pendidikan perempuan dapat menjadi alat perubahan yang lebih inklusif dan berkeadilan.
“Kami ingin memperingati Hari Kartini bukan sekadar dengan seremonial, tetapi dengan menghadirkan gagasan yang membawa dampak nyata. Pendidikan adalah jalan sunyi menuju perubahan, dan perempuan harus menjadi bagian yang utuh dalam perjalanan tersebut,” ujar Subhan Setowara dalam sambutannya, menegaskan bahwa pendidikan perempuan adalah kunci utama dalam menciptakan masyarakat yang lebih adil dan sejahtera.
Ruang Gagasan sendiri merupakan salah satu inisiatif dari RBC Institute untuk mengajak masyarakat terlibat dalam diskusi-diskusi yang berkaitan dengan isu-isu penting, dengan pendekatan yang inklusif, terbuka, dan reflektif.
Melalui forum ini, RBC Institute berharap dapat mendorong lahirnya diskursus yang lebih mengakar, berpihak kepada keadilan, dan tentunya membebaskan dari segala bentuk ketidaksetaraan yang ada.
Dengan adanya acara ini, diharapkan semakin banyak pihak yang terinspirasi untuk bersama-sama menciptakan perubahan nyata dalam dunia pendidikan, khususnya dalam memberikan ruang lebih besar bagi perempuan untuk berkembang dan meraih cita-cita mereka. (*/wh)
