Sudah berlalu beberapa waktu, kesibukan ayah di luar rumah menjadi realitas yang tak terelakkan di banyak keluarga aktivis dakwah. Rapat, pengajian, musyawarah, dan aktivitas sosial sering mengisi malam-malam mereka. Bukan karena mengejar nama, melainkan karena amanah dan tanggung jawab sosial yang diemban.
Di tengah kesibukan itu, anak-anak kerap menyampaikan pertanyaan polos, “Kenapa Ayah sering pergi?” Pertanyaan sederhana ini bukan bentuk penolakan, melainkan ungkapan rindu. Anak ingin memastikan bahwa ayah tetap hadir sebagai tempat pulang, meski perannya meluas ke masyarakat.
Ketika ayah mampu menjelaskan bahwa dirinya tidak hanya milik keluarga kecil di rumah, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial, anak perlahan belajar memahami. Bahkan, pemahaman itu sering berubah menjadi doa dan perhatian tulus. Di sinilah anak mulai belajar bahwa kebaikan tidak hanya dilakukan di rumah, tetapi juga untuk orang lain.
Menariknya, kesibukan ayah tidak selalu identik dengan jarak emosional. Kedekatan justru tumbuh dari kebersamaan sederhana yang konsisten: membersamai anak bangun pagi, sarapan bersama, menyiapkan mereka beraktivitas, dan menyambut mereka kembali dengan penuh perhatian. Meski singkat, kehadiran yang utuh sering kali jauh lebih bermakna daripada waktu yang panjang tanpa keterlibatan.
Beberapa waktu lalu, MPK SDI PP Muhammadiyah pada media sosialnya pernah memuat meme yang menjadi pengingat untuk para Ayah aktivis dakwah, “Ayah, ajak anakmu kegiatan Muhammadiyah. Jangan sampai ayah asyik bermuhammadiyah, sementara anak-anak di rumah bertanya, ‘Ayah kok tidak pulang-pulang?’”
Pesan ini menegaskan bahwa aktivisme tidak boleh menciptakan jarak antara ayah dan keluarga: anak dan istrinya. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam, adalah gerakan nilai dan kaderisasi keluarga. Dalam banyak kesempatan, anak justru perlu diajak mengenal dunia perjuangan ayahnya, tentu dengan cara yang ramah anak dan penuh kasih.
Teladan paling indah dalam hal ini adalah Rasulullah saw. Beliau tidak memisahkan dunia dakwah dari dunia keluarga. Rasulullah saw mengajak cucunya, Hasan dan Husain ra, ke masjid. Bahkan ketika salah satu dari mereka naik ke punggung beliau saat salat, Rasulullah saw memanjangkan sujud demi menjaga kenyamanan cucunya. Ini menunjukkan bahwa anak kecil adalah bagian dari kehidupan ibadah, bukan gangguan.
Rasulullah saw juga pernah salat sambil menggendong cucu perempuannya dari Zainab ra, Umamah binti Abu Al ‘Ash Ibn Ar Rab’i, membonceng anak-anak dan remaja dalam perjalanan, serta menyampaikan nasihat agung dalam suasana penuh kehangatan. Ibnu Abbas ra pernah dibonceng Rasulullah saw lalu diberi nasihat tentang tauhid yang hingga kini menjadi pelajaran lintas zaman.
Setiap perjalanan dakwah dan jihad Rasulullah saw dikisahkan juga selalu mengajak istrinya secara bergiliran. Bersama ‘Aisyah ra sebagai istri, menunjukkan teladan kasih sayang dan kebersamaan dalam kehidupan social yang dapat dilihat dan menjadi teladan bagi apra sahabat. Rasulullah saw memberi ruang kebahagiaan, perhatian, dan kehadiran penuh, menegaskan bahwa keluarga, istri dan anak, bahkan cucu adalah bagian penting dari dakwah, bukan korban dari kesibukan.
Dari teladan ini, jelas bahwa anak bukan penghalang perjuangan, melainkan bagian dari perjuangan itu sendiri. Mengajak anak ke masjid, pengajian, atau kegiatan sosial bukan sekadar menemani ayah, tetapi bentuk kadesisasi dakwah, ajang untuk menanamkan nilai, identitas, dan rasa memiliki sejak dini.
Pada akhirnya, menjadi ayah bukan soal seberapa sering berada di rumah, melainkan seberapa hadir ketika bersama. Aktivisme yang sehat adalah aktivisme yang menguatkan keluarga, mendekatkan anak pada nilai kebaikan, dan menjadikan rumah sebagai titik berangkat dan kaderisasi dakwah. Maka idealnya jika ayah adalah seorang aktivis Muhammadiyah, istrinya juga aktivis ‘Aisyiyah, anak-anaknya juga menjadi aktivis AMM.
Karena ayah memang milik banyak orang. Namun sebelum itu, ayah adalah milik istri dan anak-anaknya, teladan pertama, sekolah pertama, dan cinta pertama yang akan mereka ingat sepanjang hidup.
