Refleksi Isra Mikraj: Hadirkan Nilai Salat dalam Kehidupan

Refleksi Isra Mikraj : Hadirkan Nilai Salat dalam Kehidupan
*) Oleh : Andi Hariyadi
Anggota Lembaga Dakwah Komunitas PW Muhammadiyah Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Momentum Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW yang membawa perintah menegakkan salat 5 waktu sebagai kewajiban bagi umat Islam, berdampak sangat luas, tidak hanya pada aspek personal tetapi mewarnai peradaban kehidupan.

Disamping adanya penguatan spiritual yang kokoh, dimana keimanan kepada-Nya tidak sekedar ada ketundukan dengan rutinitas menjalankan ibadah, tetapi  juga menambah keimanan yang direfleksikan dalam kehidupan.

Spiritual yang terintegrasi dengan kesalehan untuk menebar kebaikan menjadi teladan keadaban.

Sikap keimanan seperti sosok Abu Bakar ketika mendengar Rasulullah Muhammad SAW melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha hingga ke Shirothol Muntaha dan kembali ke Makkah dalam semalam langsung imannya dikedepankan. Sahabat Khulafaur Rasyidin itu meyakini peristiwa tersebut. Bahkan yang lebih dari itu, sehingga dijuluki Ash Shiddiq.

Berbeda dengan Umar Bin Khattab, yang bertindak logis untuk menguatkan keimanan dengan mempertanyakan keadaan Masjidil Aqsha, dan Rasulullah pun bisa menjawab secara tepat tentang ada berapa jumlah tiang Masjidil Aqsha.

Dari tipologi ini kita bisa menemukan bahwa spiritual dan nalar merupakan hidayahNya, sehingga pengembangan wawasan semakin mencerahkan spiritual dalam kerja intelektual yang berkemajuan.

Isra Mikraj sebuah peristiwa besar yang melampaui dimensi ruang dan waktu, sehingga menjadikan kerja kerja intelektual sebagai perwujudan spiritual yang terintegrasi dengan nalar. Dari peristiwa ini menjadikan Abu Bakar dan Umar Bin Khatab sebagai sosok Sahabat Rasulullah yang penuh keteladanan dan kepedulian.

Dari Isra Mikraj Rasulullah SAW membuat Abu Bakar begitu besar pengorbanannya, harta yang dimiliki sebagai aset strategis disedekahkan untuk suksesnya dakwah Islam. Begitu pula Umar Bin Khattab yang begitu tinggi kepeduliannya dan istiqamah menjaga integritasnya sebagai seorang Khalifah pengganti Abu Bakar yang luar biasa keberanian dibalut kepedulian sebagai sosok kesalehan.

Ada energi ketaatan, ketulusan, kekuatan, pengorbanan, kepedulian dan lainnya terwujud dalam salat.

Rasulullah Muhammad SAW bersabda, “Salat adalah tiang agama, barangsiapa yang mendirikannya, maka ia mendirikan agama. Dan barangsiapa yang meninggalkan, maka ia telah meruntuhkan agama”. (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Agama sebagai pencerah peradaban akan kokoh dengan fondasi yang kuat karena salat. Maka nilai nilai salat harus hadir dalam kehidupan, sehingga peradaban menjadi kondusif, aman damai dan sejahtera serta berkeadilan. Rusaknya peradaban karena tidak hadirnya nilai nilai salat dalam kehidupan. Salat yang sebatas rutinitas dan menggugurkan kewajiban tanpa adanya jejak spiritual dan intelektual akan menjauhkan dari kebermaknaan. Salat tidak sekedar bacaan dan gerakan tetapi membawa dampak perubahan

Sebagaimana Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surat Al Ankabut 45 : “Dan dirikanlah salat, sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan munkar“. Inilah petunjuk yang harus diwujudkan, sehingga apa pun profesi dan jabatannya tetap menghadirkan nilai nilai salat.

Salat sebagai solusi sehingga ucapan, kebijakan dan aktivitasnya membawa dampak perubahan dari kehinaan menjadi kemuliaan, dari permusuhan menjadi persaudaraan, dari kesombongan menjadi kesantunan, dari kekikiran menjadi rela berkorban, dari destruktif menjadi konstruktif.

Fenomena masih maraknya kemungkaran baik secara personal maupun komunal, baik secara lokal hingga mengglobal, tidak hanya meresahkan tetapi sangat membahayakan. Maka menegakkan salat harus menjadi gerakan kesadaran, karena menegakkan salat penuh dengan nilai kedisiplinan yang menyelamatkan dari upaya pengrusakan.

Menegakkan salat, berarti ada kesadaran menghadirkan salat dalam kehidupan. Hadir memberikan pencerahan, hadir memberi keteladanan, hadir memberi kekuatan dan hadir membangun kebersamaan sebagai jamaah yang responsif, produktif, dan konstruktif bukan provokatif dan destruktif.

Kekhusukan salat sebagai bentuk ketaatan padaNya, tetap terbawa dalam aktivitas kesehariannya, sebagai amal saleh. Hadirnya nilai salat dalam kehidupan merupakan solusi perbaikan dan dijauhkan dari kerusakan. (*)

Tinggalkan Balasan

Search