Ramadan adalah bulan tarbiyah, bulan pembinaan jiwa dan pemurnian hati. Pada Ahad (23/2/2026), kultum Ramadan ke-7 di Hamas School kembali menghadirkan pesan pencerahan melalui tausiyah yang disampaikan Ustadz Taqwim. Dalam suasana yang tenang dan penuh kekhusyukan, ia mengangkat tema yang sarat makna: “Puasa Ulat dan Puasa Ular.”
Mengawali tausiyahnya, Ustadz Taqwim mengajak jamaah merenungi proses kehidupan seekor ulat. Ulat dikenal sebagai makhluk yang terus makan. Namun pada waktunya, ia berhenti, berdiam diri dalam kepompong, seakan berpuasa dari aktivitasnya. Dari proses menahan diri itulah, ulat berubah menjadi kupu-kupu yang indah.
Inilah hakikat puasa. Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi latihan menahan hawa nafsu, amarah, dan kebiasaan buruk. Ramadan adalah “kepompong” bagi setiap mukmin. Jika dijalani dengan iman dan kesungguhan, ia akan melahirkan pribadi yang lebih sabar, lebih bertakwa, dan lebih mulia akhlaknya.
Sebaliknya, beliau juga menghadirkan perumpamaan tentang ular. Ular berpuasa ketika hendak berganti kulit. Ia berdiam diri hingga kulit lamanya terlepas. Namun pergantian itu hanya menyentuh bagian luar. Sifat dan bisanya tetap sama.
Pesan ini menjadi peringatan agar Ramadan tidak berhenti pada perubahan simbolik. Jangan sampai ibadah hanya meningkat selama bulan suci, tetapi akhlak dan perilaku kembali seperti semula setelahnya. Ramadan harus menghadirkan perubahan substansial—pada hati, pola pikir, dan amal perbuatan.
Dalam penegasannya, Ustadz Taqwim menyampaikan bahwa Ramadan memberikan dua pilihan jalan: menjadi seperti ulat yang bertransformasi menuju kebaikan, atau seperti ular yang hanya berganti tampilan tanpa perubahan hakiki.
Momentum Ramadan semestinya melahirkan insan bertakwa, sebagaimana tujuan puasa yang Allah tetapkan—agar manusia mencapai derajat takwa. Transformasi itulah yang menjadi ukuran keberhasilan ibadah, bukan sekadar selesainya hari-hari puasa.
Kultum ditutup dengan doa agar seluruh jamaah Hamas School mampu keluar dari Ramadan sebagai pribadi yang lebih baik, lebih lembut hatinya, lebih terjaga lisannya, dan lebih nyata amal salehnya. Semoga Ramadan benar-benar menjadi jalan perubahan menuju derajat ketakwaan. (*/tim)
