Refleksi Ramadan, Puasanya Hewan, dan Etika Lingkungan

Refleksi Ramadan, Puasanya Hewan, dan Etika Lingkungan
*) Oleh : Agus Santosa
Tapak Suci Pimda 166 Grobogan Jawa Tengah
www.majelistabligh.id -

Dalam diskursus etika lingkungan, alam tidak dipahami sebagai objek pasif yang bebas dieksploitasi, melainkan sebagai bagian dari tatanan ciptaan yang tunduk sepenuhnya kepada kehendak Allah. Al-Qur’an berulang kali menggambarkan semesta sebagai makhluk yang “bertasbih”, berjalan menurut hukum-Nya, dan tidak pernah melampaui batas.

Dalam kerangka ini, relasi manusia dengan alam seharusnya berangkat dari pengakuan akan keteraturan Ilahi (sunnatullah), keseimbangan, keberlanjutan, dan perbaikan.

Salah satu cara membaca keteraturan tersebut adalah melalui fenomena “puasa” pada hewan. Puasa di sini tentu bukan ibadah dalam pengertian syariat, melainkan perilaku biologis yang mencerminkan kepatuhan fitri terhadap sunnatullah.

Fenomena ulat yang berhenti makan sebelum bermetamorfosis, ayam yang mengurangi asupan selama mengerami telur, ular yang menahan diri sebelum berganti kulit, elang yang melewati fase lemah sebelum paruhnya diperbarui, beruang kutub yang berhibernasi berbulan-bulan, hingga ikan salmon yang bermigrasi bermil-mil tanpa makan, secara ilmiah adalah mekanisme adaptif. Namun secara etis dan spiritual, ia mengandung pesan yang jauh lebih dalam.

Hewan-hewan tersebut berhenti makan bukan karena ketiadaan sumber daya, melainkan karena keteraturan hidup menuntut demikian. Mereka tidak mengonsumsi secara berlebihan ketika tubuh atau lingkungan tidak memungkinkan. Dalam perspektif etika lingkungan, hal ini menunjukkan bahwa keberlanjutan hidup bergantung pada kemampuan menahan, bukan semata-mata mengambil. Alam hidup dengan prinsip keseimbangan, pengendalian, dan kecukupan.

Di titik ini, muncul satu refleksi penting bahwa hewan bisa saja buas, tetapi tidak pernah melampaui batas. Hewan memang membunuh, tetapi hanya untuk makan. Ia memangsa, tetapi berhenti ketika cukup. Tidak ada hewan yang menimbun makanan demi keserakahan, merusak ekosistem demi kesenangan, atau mengeksploitasi lingkungan tempat ia hidup secara sadar. Kebuasannya adalah fungsi biologis, bukan pelampiasan nafsu.

Dalam perspektif tauhid, justru di sinilah ketundukan hewan tampak murni dan alami. Hewan tidak memiliki kebebasan moral sebagaimana manusia, tetapi karena itulah mereka tidak pernah keluar dari koridor fitrah. Mereka makan ketika perlu, berhenti ketika cukup, dan menahan diri ketika keadaan menuntut. Seluruh makhluk berjalan sesuai ukuran yang telah Allah tetapkan seperti matahari tidak mendahului bulan, malam tidak melampaui siang, dan hewan tidak melampaui batas hidupnya.

Sebaliknya, manusia diberi akal, kehendak, dan kemampuan mengubah alam. Namun tanpa kendali etis, kelebihan ini justru melahirkan kerusakan. Manusia membunuh bukan untuk bertahan hidup, tetapi untuk keuntungan. Mengambil bukan untuk kebutuhan, tetapi untuk akumulasi. Mengeksploitasi bukan karena terpaksa, tetapi karena keinginan tanpa batas.

Dalam kerangka etika lingkungan Islam, pelampauan batas inilah akar dari kerusakan bumi. Alam rusak bukan karena kekurangan sumber daya, melainkan karena manusia gagal mengenal batas.

Di sinilah puasa Ramadan menemukan relevansinya yang paling luas. Puasa bukan sekadar ibadah individual, tetapi training etis yang membentuk relasi manusia dengan dirinya, dengan sesama, dan dengan alam. Dengan menahan diri dari konsumsi yang halal sekalipun, manusia diajarkan bahwa tidak semua yang bisa diambil harus diambil. Prinsip inilah fondasi utama etika lingkungan yaitu pengakuan atas batas.

Puasa hewan menunjukkan bahwa menahan diri adalah bagian dari kelangsungan hidup. Puasa manusia, jika dipahami secara etis, seharusnya menumbuhkan kesadaran yang sama bahwa keberlanjutan bumi tidak mungkin dicapai tanpa pengendalian nafsu konsumsi.

Dari sudut pandang tauhid, alam bukan milik manusia, melainkan amanah tuhan untuk kemakmuran. Manusia ditetapkan sebagai khalifah bukan untuk menguasai tanpa batas, tetapi untuk menjaga keteraturan yang telah Allah tetapkan.

Maka refleksi atas puasanya hewan memperluas makna Ramadan dari sekadar ritual spiritual menjadi praktik etika lingkungan. Ramadan mengajarkan manusia untuk hidup secukupnya, bergerak seperlunya, dan mengambil seperlunya sebagaimana makhluk lain telah melakukannya sejak awal.

Pada akhirnya, etika lingkungan dalam Islam berakar pada satu pengakuan mendasar bahwa ketaatan kepada Allah tidak hanya tercermin dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam cara manusia memperlakukan bumi. Ramadan tidak mengajak manusia menjadi lemah, tetapi menjadi terukur. Tidak menghapus keinginan, tetapi menundukkannya.

Dan mungkin, refleksi paling jujur yang bisa kita ambil adalah ini: makhluk paling berbahaya di bumi bukanlah yang buas,
melainkan yang lupa batas. Wa Allahu A’lam

Tinggalkan Balasan

Search