Refleksi Surat Al-A‘raf 11–31: Hakikat Kemuliaan Manusia, Godaan Setan dan Jalan Takwa

Refleksi Surat Al-A‘raf 11–31: Hakikat Kemuliaan Manusia, Godaan Setan dan Jalan Takwa
*) Oleh : Chandra Aditya
Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Kediri & Sekretaris PDPM Kota Kediri
www.majelistabligh.id -

‎Surat Al-A‘raf ayat 11–31 merupakan rangkaian ayat yang sangat fundamental dalam membangun pandangan hidup seorang manusia terutama seorang muslim. Ayat-ayat ini tidak hanya mengisahkan sejarah penciptaan manusia pertama, tetapi juga mengungkap akar persoalan kemanusiaan, sebab-sebab kejatuhan moral, serta solusi ilahiah agar manusia tetap berada di jalan kemuliaan dan keselamatan.

Dalam konteks kehidupan modern, pesan-pesan ayat ini semakin relevan, karena tantangan yang dihadapi manusia hari ini sejatinya tidak jauh berbeda dengan ujian yang dihadapi Adam ‘alaihis salam.

‎Penciptaan Adam dan Awal Konflik antara Ketaatan dan Kesombongan

‎Allah SWT memulai ayat ke-11 dengan mengingatkan manusia tentang asal-usul penciptaannya. Adam diciptakan, dimuliakan, dan diperintahkan kepada para malaikat untuk bersujud sebagai bentuk penghormatan. Semua malaikat patuh, kecuali Iblis. Penolakan Iblis bukan karena ketidaktahuan, tetapi karena kesombongan intelektual dan spiritual. Ia merasa lebih mulia karena diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah.

‎Di sinilah Al-Qur’an menanamkan pelajaran besar: kesombongan adalah bentuk dosa pertama dalam sejarah makhluk hidup. Iblis menggunakan logika tanpa ketaatan, rasionalitas tanpa ketundukan. Ini menjadi peringatan bahwa ilmu, ibadah, dan pengalaman spiritual tidak akan menyelamatkan seseorang jika disertai rasa superior dan meremehkan perintah Allah.

‎Dalam kehidupan modern, kesombongan seringkali menjelma dalam bentuk lain: merasa paling benar, paling suci, paling berilmu, atau paling modern. Ayat ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah asal-usul, status sosial, atau kecanggihan berpikir, melainkan ketaatan dan kerendahan hati.

‎Adam, Kesalahan, dan Makna Tobat dalam Islam

‎Ayat 19–25 mengisahkan tergelincirnya Adam dan Hawa akibat bujuk rayu setan. Setan tidak datang dengan ajakan maksiat yang vulgar, melainkan dengan janji keabadian, kemuliaan, dan kebaikan. Ini menunjukkan bahwa tipu daya setan seringkali dibungkus dengan narasi yang tampak rasional dan menarik.

‎Namun, perbedaan mendasar antara Adam dan Iblis tampak jelas setelah kesalahan terjadi. Adam tidak membela diri, tidak menyalahkan takdir, dan tidak mencari pembenaran. Ia mengakui dosa dan memohon ampunan Allah. Inilah yang menjadikan Adam tetap mulia meskipun pernah bersalah.

‎Refleksi penting dari ayat ini adalah bahwa Islam tidak menuntut manusia menjadi makhluk tanpa dosa, tetapi mengajarkan bagaimana bersikap ketika terjatuh. Tobat adalah jalan pemulihan martabat manusia. Kesalahan yang disadari dan disesali justru dapat mengangkat derajat seseorang, sementara kesombongan dalam kebenaran semu justru menjatuhkan.

‎Permusuhan Abadi Setan dan Manusia

‎Dalam ayat 16–18, Iblis bersumpah akan menyesatkan manusia dari berbagai arah: depan, belakang, kanan, dan kiri. Ini menegaskan bahwa permusuhan setan bukan bersifat insidental, tetapi sistematis dan berkelanjutan. Setan tidak memaksa, melainkan membujuk, memperindah keburukan, dan melemahkan kewaspadaan manusia.
‎Kesadaran akan permusuhan ini seharusnya melahirkan sikap waspada, bukan paranoia. Islam mengajarkan keseimbangan: menyadari adanya musuh, tetapi tidak menyerahkan kesalahan sepenuhnya kepada setan. Manusia tetap memiliki kehendak dan tanggung jawab moral atas pilihannya.

‎Pakaian Takwa dan Penjagaan Martabat Manusia

‎Ayat 26–27 membawa pesan simbolik yang sangat dalam tentang pakaian. Allah menyebut dua jenis pakaian: pakaian fisik untuk menutup aurat dan pakaian takwa sebagai hiasan terbaik. Ini menegaskan bahwa aurat bukan sekadar persoalan tubuh, tetapi juga mencakup moral, etika, dan rasa malu.

‎Allah SWT berfirman:

‎يَا بَنِي آدَمَ قَدْ أَنْزَلْنَا عَلَيْكُمْ لِبَاسًا يُوَارِي سَوْآتِكُمْ وَرِيشًا ۖ وَلِبَاسُ التَّقْوَىٰ ذَٰلِكَ خَيْرٌ

‎“Wahai anak cucu Adam, sungguh Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan sebagai perhiasan. Tetapi pakaian takwa itulah yang paling baik.” (QS. Al-A‘raf: 26)

Setan digambarkan berusaha menanggalkan pakaian Adam dan Hawa. Ini bukan sekadar peristiwa historis, tetapi simbol bahwa misi setan adalah menelanjangi manusia dari nilai-nilai takwa. Ketika rasa malu hilang, dosa tidak lagi dianggap aib, bahkan dipertontonkan dan dibanggakan.

‎Dalam konteks hari ini, ayat ini menjadi kritik tajam terhadap budaya yang mengglorifikasi kebebasan tanpa batas, normalisasi maksiat, dan relativisme moral. Islam menegaskan bahwa kemajuan peradaban tidak diukur dari terbukanya aurat dan hilangnya batas, tetapi dari terjaganya kehormatan dan nilai kemanusiaan.

‎Kritik terhadap Pembenaran Maksiat atas Nama Tradisi

‎Ayat 28–30 menyoroti kebiasaan kaum musyrikin yang membenarkan perbuatan keji dengan alasan tradisi dan takdir. Allah menolak keras logika ini. Tidak semua yang diwariskan leluhur adalah kebenaran, dan tidak semua yang dilakukan manusia bisa dinisbatkan kepada kehendak Allah.

‎Allah SWT menegaskan:

‎قُلْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ

‎“Katakanlah: Sesungguhnya Allah tidak memerintahkan perbuatan keji.” (QS. Al-A‘raf: 28)

‎Refleksi ayat ini sangat penting mengingat di tengah masyarakat yang sering membenarkan kesalahan dengan dalih budaya, kebiasaan sosial, atau tekanan zaman. Islam mengajarkan bahwa kebenaran diukur dengan wahyu, bukan sekadar popularitas atau kelaziman.

‎Relevansi Surat Al-A‘raf Ayat 11–31 dalam Krisis Moral dan Identitas Manusia Modern

‎Kekuatan Surat Al-A‘raf ayat 11–31 terletak pada kemampuannya menembus batas zaman. Ayat-ayat ini menjadi cermin tajam bagi krisis moral dan identitas manusia modern. Di tengah kemajuan teknologi dan kebebasan berekspresi, manusia justru menghadapi problem klasik: kesombongan, pembenaran diri, dan hilangnya rasa malu.

‎Allah SWT mengingatkan:

‎يَا بَنِي آدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطَانُ كَمَا أَخْرَجَ أَبَوَيْكُمْ مِنَ الْجَنَّةِ

‎“Wahai anak cucu Adam, janganlah sekali-kali setan memperdayakan kamu sebagaimana ia telah mengeluarkan kedua orang tuamu dari surga.” (QS. Al-A‘raf: 27)

‎Sejarah kesesatan manusia selalu berulang dengan pola yang sama. Jika dahulu Adam tergoda janji keabadian, hari ini manusia tergoda popularitas, kekuasaan, dan validasi sosial. Setan tidak menciptakan dosa baru, tetapi mengemas dosa lama agar tampak wajar dan menarik.

‎Puncaknya, Allah menegaskan prinsip keseimbangan hidup:

‎كُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

‎“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A‘raf: 31)
‎Ayat ini memberikan penegaskan bahwa Islam bukan agama pengekangan, tetapi juga bukan agama permisif. Di tengah budaya konsumtif dan hedonisme, Islam menawarkan jalan tengah yang beradab dan menenangkan.

‎Jalan Keselamatan dan Kemuliaan Manusia

‎Surat Al-A‘raf ayat 11–31 mengajarkan bahwa musuh terbesar manusia bukanlah setan semata, melainkan kesombongan, pembenaran diri, dan hilangnya takwa. Sebaliknya, keselamatan terletak pada kerendahan hati, kesadaran akan kelemahan diri, serta kesiapan untuk kembali kepada Allah setiap kali terjatuh.

‎Ayat-ayat ini menegaskan bahwa kemuliaan manusia tidak terletak pada asal-usul, status, atau simbol lahiriah, tetapi pada ketaatan, akhlak, dan pakaian takwa. Selama manusia menjaga hubungan dengan Allah dan waspada terhadap tipu daya setan, pintu hidayah dan ampunan akan selalu terbuka. (*)

Tinggalkan Balasan

Search