Rehat dari Layar, Iktikaf Bagi Mata dan Hati

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: M.Ainul Yaqin Ahsan, M Pd
Anggota MTT PDM Lamongan

Dalam lanskap dunia modern yang serba cepat dan terkoneksi, tak bisa dimungkiri bahwa layar—baik itu ponsel, laptop, maupun televisi—telah menjadi jendela utama untuk melihat dunia. Dunia kini tergenggam dalam genggaman. Notifikasi datang silih berganti, seperti bisikan yang tak pernah lelah mengajak kita kembali membuka layar. Namun, pernahkah kita bertanya: apa yang dikorbankan oleh kehadiran yang terlalu lama di dunia maya?

Ketergantungan Layar dan Kelelahan Psikologis

Secara ilmiah, fenomena ini dikenal dengan istilah screen fatigue atau kelelahan akibat terlalu lama menatap layar. Dalam bidang neuropsikologi, paparan cahaya biru dari gawai dalam durasi panjang terbukti menurunkan produksi hormon melatonin, yang berakibat pada gangguan tidur dan kestabilan emosi.

Aktivitas digital yang berlebihan juga dikaitkan dengan meningkatnya kecemasan, kesepian, hingga penurunan kualitas hubungan interpersonal.

Lebih dari sekadar dampak fisik dan mental, digital fatigue juga menyerang sisi spiritual manusia. Pikiran yang sibuk melompat dari satu konten ke konten lain membuat kita sulit fokus dalam ibadah, membaca Al-Qur’an, apalagi merenung tentang hidup.

Dalam konteks inilah, rehat dari layar bukan sekadar saran kesehatan, melainkan tindakan spiritual yang menyelamatkan. Ia adalah i’tikaf bagi mata dan hati—penarikan diri dari hiruk pikuk dunia maya, untuk kembali menyelami keheningan batin.

Iktikaf: Tradisi Kontemplatif yang Relevan Sepanjang Zaman

Iktikaf adalah ibadah sunah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ, terutama di sepuluh hari terakhir bulan Ramadan. Dalam iktikaf, seseorang memutus hubungan dengan dunia luar untuk fokus menyembah Allah, merenung, dan menyucikan diri dari hiruk pikuk kehidupan.
“…Dan janganlah kamu campuri mereka (istri-istrimu), sedang kamu beriktikaf di dalam masjid…”
(QS. Al-Baqarah: 187)

Ayat ini menggambarkan bahwa iktikaf adalah bentuk pengasingan diri yang total demi mendekat kepada Allah. Maka, dalam konteks kekinian, mengasingkan diri dari layar dan notifikasi digital bisa menjadi analogi modern dari semangat iktikaf: memilih sunyi di tengah riuh, memilih fokus di tengah distraksi.

Imam Syafi’i pernah berkata:

“Andai manusia merenung sejenak saja tentang makna surat Al-‘Ashr, niscaya itu sudah cukup bagi mereka.”

Hal ini menunjukkan bahwa renungan mendalam (tafakkur) adalah kunci kecerdasan spiritual. Namun, bagaimana mungkin seseorang bisa merenung jika tiap menit tergoda untuk membuka notifikasi?

Bayangkan seandainya Imam Syafi’i hidup di zaman sekarang, lalu ia menulis kitab Ar-Risalah sambil terus diganggu suara “ting!” dari grup WhatsApp. Akankah lahir karya sedalam itu? Bisa jadi tidak.

Spiritual Digital: Mengapa Kita Butuh Iktikaf dari Layar?

Rehat dari layar bukan berarti anti teknologi. Justru, dalam dunia yang penuh kebisingan visual dan informasi, kemampuan untuk menjeda adalah bentuk kecerdasan emosional dan spiritual.

Konsep ini sejalan dengan takwa, yang bukan sekadar takut kepada Allah, tapi juga peka terhadap hal-hal yang melemahkan ruhani. Layar yang tak dikendalikan bisa menjadi hijab antara kita dan kekhusyukan. Maka, mengatur waktu online dan memberi ruang sunyi untuk jiwa, adalah bagian dari upaya menjaga qalbun salīm—hati yang bersih.
“Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu (tazkiyah an-nafs), dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams: 9–10)

Praktik Tirakat Digital: Membawa Ruh I’tikaf ke Era Modern

Tirakat digital bisa dilakukan dengan langkah-langkah sederhana:
1. Menjadwalkan waktu tanpa layar setiap hari (misalnya 1 jam menjelang tidur)
2. Mematikan notifikasi aplikasi non-prioritas
3. Membiasakan dzikir, membaca Al-Qur’an, atau tafakur setelah Subuh tanpa distraksi
4. Mengikuti i’tikaf di masjid dan berkomitmen tidak membawa gadget kecuali untuk Al-Qur’an digital

Mungkin kita tak bisa hidup tanpa gawai, tapi kita bisa menghidupi jiwa di sela kesibukan digital.

Dalam sunyi, kita menemukan kembali siapa diri kita. Dalam jeda, kita mendengar kembali suara hati. Dan dalam rehat dari layar, kita memberi ruang bagi Allah untuk menyapa jiwa yang selama ini sibuk menatap dunia.
Rehat dari layar bukan sekadar istirahat bagi mata, tapi juga iktikaf modern bagi hati yang rindu ketenangan. (*)

Tinggalkan Balasan

Search