Rentanya Orang Tua, Sibuknya Pemuda

Rentanya Orang Tua, Sibuknya Pemuda
*) Oleh : Danang Ramdani
Ketua Bidang Informasi, Komunikasi dan Dakwah Digital Masjid Al-Anwar Muhammadiyah Rungkut
www.majelistabligh.id -

#Menjembatani Regenerasi Kepemimpinan Masjid

Fungsi masjid dalam konteks Islam bukan hanya soal tempat ibadah, melainkan ia adalah pusat peradaban. Dari masjid lahir ilmu, kepemimpinan, teladan dan perubahan sosial.

Namun di banyak tempat hari ini, masjid justru menghadapi persoalan klasik yang belum terselesaikan yaitu regenerasi kepemimpinan.

Kepemimpinan masjid sering kali bertumpu pada generasi senior, sementara pemuda—yang sebenarnya memiliki energi dan potensi besar—masih berada di pinggir jurang pengambilan keputusan, sibuk mengejar karir dan dunia atau bahkan acuh tak acuh pada kondisi masjid itu sendiri.

Situasi ini memunculkan pertanyaan penting: “Bagaimana seharusnya kepemimpinan masjid dikelola agar tetap relevan, berkelanjutan, dan mampu menjawab tantangan zaman?”

Di dalam agama Islam, kepemimpinan itu sendiri adalah sebuah amanah. Kepemimpinan bukanlah kehormatan yang dikejar, sekedar pamer gaya-gayaan, atau bahkan hanya untuk menunjung honararium struktural. Melainkan amanah yang harus dipikul dengan penuh tanggung jawab.

Allah ﷻ berfirman:
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaklah kamu menetapkannya dengan adil.”(QS. An-Nisa: 58)

Ayat ini menegaskan bahwa amanah harus diberikan berdasarkan kelayakan dan kemampuan, bukan semata karena faktor usia, senioritas, atau jasa masa lalu.

Rasulullah Muhammad ﷺ bahkan memberikan peringatan keras:
Jika suatu urusan diserahkan bukan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya.” (HR. Bukhari)

Dalam konteks masjid, kepemimpinan yang tidak mempertimbangkan kapasitas dan kesiapan kerja, sangat berisiko menjadikan masjid stagnan , berjalan di tempat atau mati suri. Hanya berfungsi sebagai tempat salat berjamaah 5 waktu saja.

Ketua Takmir dan Tantangan Zaman

Ketua takmir masjid hari ini menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding masa lalu. Masjid dituntut tidak hanya rapi dan kokoh secara fisik, tetapi juga hidup secara fungsi.

Diantaranya aktif dalam dakwah, adaptif terhadap teknologi, dan mampu menjangkau generasi muda.

Peran ini menuntut kepemimpinan yang:
– Responsif terhadap perubahan sosial
– Terbuka terhadap inovasi
– Mampu mengelola organisasi secara profesional
– Siap bekerja aktif dan berkelanjutan

Kepemimpinan seperti ini jelas membutuhkan energi, waktu, dan ketahanan kerja yang sering kali lebih tersedia pada generasi muda—tanpa menafikan nilai pengalaman generasi senior tentunya.

Orang Tua dan Peran Kebijaksanaan

Islam sangat memuliakan orang tua. Pengalaman, ketenangan, dan kearifan mereka adalah aset besar untuk umat. Namun, dalam realitas objektif, usia lanjut sering membawa keterbatasan fisik dan psikologis yang dapat memengaruhi efektivitas kepemimpinan operasional.

Di sinilah pentingnya menempatkan orang tua pada posisi yang tepat. Bisa sebagai penasehat dan penjaga nilai, bukan sebagai satu-satunya pengendali arah. Dengan begitu, pengalaman tetap terjaga, sementara dinamika kerja tetap berjalan.

Pemuda sebagai Penggerak Masjid

Rasulullah Muhammad ﷺ memberi perhatian besar kepada pemuda. Dalam sebuah hadits beliau menyebut salah satu golongan yang mendapat naungan Allah kelak adalah:
“Pemuda yang tumbuh dalam ketaatan kepada Allah.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Pemuda memiliki keunggulan alami berupa tenaga, kreativitas, dan keberanian mencoba hal baru. Jika potensi ini tidak diberi ruang di masjid, maka masjid berisiko kehilangan relevansinya di mata generasi berikutnya.

Sejarah Islam sendiri memberi teladan kuat. Usamah bin Zaid dipercaya Nabi ﷺ menjadi panglima perang di usia belasan tahun. Ali bin Abi Thalib masih sangat muda ketika mengemban tugas strategis dalam peristiwa hijrah. Mu’adz bin Jabal diutus sebagai pemimpin dan pengajar ke Yaman pada usia yang juga relatif muda.

Mereka dipilih bukan karena usia, tetapi karena amanah dan kemampuan.

Kolaborasi Antar Generasi

Kepemimpinan masjid idealnya tidak dibangun di atas dikotomi tua versus muda, melainkan di atas kolaborasi antar generasi.

Orang tua bisa menjaga nilai dan arah, pemuda mampu menggerakkan dan mengeksekusi program nyata.

Ketika kepercayaan terbangun, masjid tidak hanya bertahan, tetapi berkembang menjadi lebih baik dan bermanfaat.

Allah ﷻ berfirman:
Sesungguhnya yang memakmurkan masjid-masjid Allah hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir…”
(QS. At-Taubah: 18)

Ulama besar Ibn Taimiyah menegaskan prinsip penting kepemimpinan:
Kepemimpinan diberikan kepada orang yang paling kuat dalam bekerja dan paling amanah dalam menjaga.”

Regenerasi kepemimpinan masjid bukan ancaman bagi orang tua, melainkan bentuk ketaatan terhadap sunnatullah kehidupan.

Allah sendiri mengingatkan:
Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia agar mereka mendapat pelajaran.
(QS. Ali Imran: 140)

Jika masjid ingin tetap hidup dan relevan, maka estafet kepemimpinan harus berjalan dengan lapang dada dan saling percaya.

Jika masjid adalah rumah Allah, maka ia layak dipimpin bukan oleh yang paling lama duduk di dalamnya, tetapi oleh mereka yang paling siap menghidupkannya.”

Sebab masjid bukanlah milik satu generasi, melainkan ia adalah amanah lintas zaman tanpa terkecuali.

 

Tinggalkan Balasan

Search