Jumat, 30 Mei 2025 menjadi hari istimewa yang penuh makna di Masjid Al Badar Kertomenanggal, Surabaya. Dalam suasana khidmat dan akrab, para imam lintas generasi yang pernah menjadi bagian dari denyut spiritual masjid ini dipertemukan dalam sebuah momen bersejarah. Mereka saling berjabat tangan, berangkulan, tersenyum, dan mengenang perjalanan dakwah yang pernah mereka ukir di masjid megah yang terletak di jantung kawasan Muhammadiyah Jawa Timur, Jalan Kertomenanggal IV Surabaya.
Momen itu seolah telah dijanjikan. Hadir dalam kesempatan tersebut sosok-sosok istimewa seperti Ustadz Zaki Ulinuha, M.Pd, Ustadz Muhammad Roissudin, M.Pd, Ustadz Saiful Anam, serta para imam muda yang kini rutin memimpin salat rawatib di Masjid Al Badar.
Jejak Dakwah yang Mengesankan
Setiap imam memiliki kisah dan kontribusi tersendiri. Ustadz Zaki, misalnya, bertugas di Masjid Al Badar sejak 2018 hingga 2021, saat dirinya masih berstatus mahasiswa. Dengan hafalan Al-Qur’an yang kuat, suara yang menenangkan, dan makhraj yang nyaris sempurna, ia menjadi imam yang dicintai jamaah. Kini, ia aktif sebagai dosen Bahasa Arab di STAI Ali bin Abi Thalib Surabaya dan terus menebar dakwah melalui pendidikan.
“Masjid Al Badar membentuk karakter dan spiritualitas saya. Di sana saya belajar berdakwah dengan ketulusan,” kenangnya.
Sementara itu, Ustadz Muhammad Roissudin, yang dikenal sebagai “Imam Besar” Al Badar, bertugas pada 2020–2023. Dalam reuni kali ini, ia tampil sebagai khatib Jumat dengan tema “Menyiapkan Generasi Tangguh.” Ia membawakan kisah Nabi Ibrahim dan Ismail serta keteguhan iman Sa’ad bin Abi Waqqas. Gaya khutbahnya yang reflektif dan sarat makna membangkitkan semangat jamaah untuk mendidik anak-anak dengan keberanian dan keikhlasan.
Kini menempuh studi doktoral di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ustadz Rois tetap aktif mengajar di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Ia dikenal dengan suara khas dan tajwid yang sempurna.
“Kalau Ustadz Rois jadi imam, saya selalu request surat Ali Imran ayat 16 sampai 23. Naghom Rost-nya bikin hati saya bergetar,” ungkap H. Ali Mu’ti, Ketua Takmir Masjid.
Generasi Penerus yang Memikat
Sosok penerus Ustadz Zaki dan Ustadz Rois adalah Ustadz Saiful Anam, yang kini menjadi Imam Utama Masjid Al Badar. Dengan pengalaman panjang, ia juga membina dan melatih para imam muda. Suaranya merdu, berkarakter kuat, dan menyerupai nada khas Misyari Rashid, imam besar Makkah, membuatnya semakin digemari jamaah.
“Masjid lain sampai mengundang beliau hanya untuk jadi imam. Suaranya magnet dakwah,” ujar Abah Djarot Ilusya, pengurus takmir, yang juga merekomendasikan beliau sebagai imam utama.
Puncak keharuan reuni ini hadir saat adzan dikumandangkan oleh Ustadz Misbakhul Munir, muazin tetap masjid, yang juga aktif menyampaikan kajian mingguan. Suaranya yang kuat dan berwibawa menjadi jembatan antara kenangan masa lalu dan semangat baru yang tumbuh hari itu.
Masjid Al Badar bukan sekadar bangunan megah dengan arsitektur yang memadukan gaya Eropa dan Arab klasik. Ia adalah episentrum dakwah modern di Surabaya. Terletak di kompleks kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, masjid ini aktif menggelar pelatihan tahfidz, pengajian tematik, hingga pembinaan remaja masjid.
Kiprah dakwahnya terus tumbuh melalui kaderisasi imam muda seperti Ustadz Wafa’ Atqiya’ Fikan, Ustadz Wildan Nadhif, dan Ustadz Muhammad Safaril — mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya yang dibina langsung oleh para senior imam.
“Kami tidak sekadar mengisi mihrab, tapi membawa semangat dakwah yang sesuai dengan zaman,” ujar Ustadz Wafa.
Masjid ini juga telah menjadi panggung bagi para dai nasional dan internasional. Dari Ustadz Adi Hidayat, Prof. Menachem Ali, hingga Syaikh Abdul Ghani Jamal Muhammad dari Gaza — lulusan Al-Azhar dan hafidz bersanad — semua pernah menyampaikan dakwah di sini. Kehadiran tokoh-tokoh ini menegaskan visi dakwah Al Badar yang melintasi batas-batas geografis dan budaya.
Ketua Takmir H. Ali Mu’ti menekankan pentingnya kualitas imam, mulai dari karakter, tajwid, fashohah, hingga akhlak dalam berinteraksi dengan jamaah. “Mereka bukan hanya memimpin shalat, tapi menjadi teladan,” ujarnya.
Mihrab yang Menginspirasi, Komitmen yang Tak Pernah Padam
Reuni lintas generasi ini bukan sekadar ajang nostalgia, melainkan momentum memperkuat komitmen dakwah. Para imam duduk berdampingan, tanpa sekat usia, berbagi pengalaman, visi, dan semangat baru.
Acara ditutup dengan foto bersama, pelukan hangat, dan senyum penuh harap. Mihrab yang dahulu menjadi saksi perjuangan mereka, kini menjadi tempat lahirnya tekad baru. Di balik lantunan ayat dan doa, tersimpan cinta dan keteguhan dari para penjaga masjid.
Reuni ini bukan akhir cerita — justru ia menjadi awal dari babak baru perjuangan dakwah yang lebih bersinar di masa depan. (*/tim)
