Rezekiku Di mana?

www.majelistabligh.id -

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnus Sabbah dan Zuhair ibnu Harb. Keduanya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Umar ibnu Yunus, telah menceritakan kepada kami Ikrimah ibnu Ammar, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Abu Talhah, telah menceritakan kepadaku Anas. ibnu Malik yang mengatakan bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) pernah bersabda:

“لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ، مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ رَاحِلَتُهُ بِأَرْضٍ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ، وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ، فَأَيِسَ مِنْهَا، فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا، قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ، فَبَيْنَمَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةٌ عِنْدَهُ، فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ: اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ -أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ”

Sungguh Allah lebih gembira dengan tobatnya seseorang hamba saat si hamba bertobat kepada-Nya daripada seseorang di antara kamu yang unta kendaraannya berada di padang pasir, lalu unta kendaraannya itu kabur darinya, sedangkan pada kendaraannya terdapat makanan dan minumannya. Dia putus asa untuk dapat menangkap unta kendaraannya itu. Akhirnya ia mendatangi sebuah pohon dan membaringkan dirinya di bawah naungannya, karena tidak punya harapan lagi untuk dapat menangkap untanya. Ketika ia sedang dalam keadaan istirahat, tiba-tiba unta kendaraannya ia jumpai sedang berdiri di sisinya, lalu ia pegang tali kendalinya. Kemudian ia mengatakan karena kegembiraan yang sangat, “Ya Allah, Engkau adalah abdiku dan aku adalah tuan-Mu —dia keliru dalam berbicara karena kegembiraan yang sangat—.”

Di dalam kitab sahih telah disebutkan pula melalui riwayat Abdullah ibnu Mas’ud r.a. hal yang semisal.

Abdur Razzaq telah meriwayatkan dari Ma’mar, dari Az-Zuhri sehubungan dengan firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala).: Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya. (Asy-Syura: 25) Sesungguhnya Abu Hurairah r.a. telah mengatakan bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) pernah bersabda:

“لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ مِنْ أَحَدِكُمْ يَجِدُ ضَالَّتَهُ فِي الْمَكَانِ الَّذِي يَخَافُ أَنْ يَقْتُلَهُ الْعَطَشُ فِيهِ”

Sungguh Allah lebih gembira dengan tobatnya seorang hamba ketimbang seseorang dari kamu yang menjumpai barangnya di tempat yang dikhawatirkan dia akan mati padanya karena kehausan.

Hammam ibnul Haris telah mengatakan bahwa sahabat Abdullah ibnu Mas’ud pernah ditanya tentang seorang lelaki yang berbuat mesum dengan seorang wanita, lalu ia mengawininya. Maka Ibnu Mas’ud r.a. menjawab, “Tidak mengapa.” kemudian membaca firman-Nya: Dan Dialah yang menerima tobat dari hamba-hamba-Nya. (Asy-Syura: 25), hingga akhir ayat.

Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim telah meriwayatkan hal yang semisal melalui hadis Syuraih Al-Qadi, dari Ibrahim ibnu Muhajir, dari Ibrahim An-Nakha’i, dari Hammam, lalu disebutkan hal yang semisal.

Firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala).:

{وَيَعْفُو عَنِ السَّيِّئَاتِ}

dan memaafkan kesalahan-kesalahan. (Asy-Syura: 25)

Yakni menerima tobat di masa mendatang dan memaafkan kesalahan-kesalahan di masa lampau.

{وَيَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ}

dan mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Asy-Syura: 25)

Dia mengetahui semua apa yang kalian kerjakan dan yang kalian katakan. Tetapi sekalipun demikian, Dia menerima tobat orang yang mau bertobat kepada-Nya.

Firman Allah (Subhanahu wa Ta’ala).:

{وَيَسْتَجِيبُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ}

dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh. (Asy-Syura: 26)

As-Saddi mengatakan bahwa makna yang dimaksud ialah Allah menerima doa mereka.

Hal yang sama dikatakan oleh Ibnu Jarir, yakni maknanya ialah Allah (Subhanahu wa Ta’ala) memperkenankan doa mereka, baik untuk diri mereka sendiri, untuk teman-teman mereka, ataupun saudara-saudara mereka.

Ibnu Jarir meriwayatkan pendapat ini dari sebagian ahli Nahwu yang menjadikannya semakna dengan firman-Nya:

{فَاسْتَجَابَ لَهُمْ رَبُّهُمْ}

Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya. (Ali-Imran: 195)

kemudian Ibnu Jarir dan juga Ibnu Abu Hatim meriwayatkan melalui hadis Al-A’masy, dari Syaqiq ibnu Salamah, dari Salamah ibnu Sabrah yang mengatakan bahwa Mu’az r.a. berkhotbah kepada kami di negeri Syam; antara lain ia mengatakan, “Kalian adalah orang-orang mukmin dan kalian adalah ahli surga. Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar berharap semoga Allah (Subhanahu wa Ta’ala) memasukkan ke dalam surga orang-orang yang kalian caci maki dari kalangan bangsa Persia dan bangsa Romawi.” Demikian itu karena bilamana seseorang dari kamu beramal karena Allah, yakni seseorang dari mereka mengerjakan suatu amal kebaikan, maka saudaranya mengatakan, “Engkau telah berbuat baik, semoga Allah merahmatimu. Engkau telah berbuat baik, semoga Allah memberkatimu.” Kemudian Mu’az r.a. membaca firman-Nya: dan Dia memperkenankan (doa) orang-orang yang beriman serta mengerjakan amal yang saleh dan menambah (pahala) kepada mereka dari karunia-Nya. (Asy-Syura: 26)

Ibnu Jarir telah meriwayatkan dari sebagian ahli bahasa Arab yang menganggap firman-Nya:

{الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ}

yang mendengarkan perkataan. (Az-Zumar: 18)

Yakni mereka adalah orang-orang yang memperkenankan perkara yang hak dan mengikutinya. Semakna dengan firman-Nya:

{إِنَّمَا يَسْتَجِيبُ الَّذِينَ يَسْمَعُونَ وَالْمَوْتَى يَبْعَثُهُمُ اللَّهُ}

Hanya orang-orang yang mendengar sajalah yang mematuhi (seruan Allah), dan orang-orang yang mati (hatinya) akan dibangkitkan oleh Allah. (Al-An’am: 36)

Tinggalkan Balasan

Search