Rismon, Socrates dan Masithah

Rismon, Socrates dan Masithah
*) Oleh : Bukhori at-Tunisi
Alumni IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
www.majelistabligh.id -

“Doeloe galak kayak Singa, sekarang kayak Kucing meong.” AA. Termul.

Semua dibuat terkejut, tiba-tiba “balik kucing”. Awalnya menggebu-gebu, hantam siapa saja yang pernah dihadapi, suaranya lantang, tak punya takut sama sekali, mengaung bagai macan kelaparan mau menerkam apa saja di depannya, keras, tegas, terarah, fokus pada titik utama sasaran. Itu doeloe. Sekarang kata AA Termul, “Kayak kucing meong.” (https://www.youtube.com/watch?v=R_-z4KKde20)

Awalnya gak percaya, tiba-tiba Polda Metro Jaya releas konferensi pers, “Ada tersangka yang mengajukan Restorative Justice” (RJ).” Semalam full searche vidio tentang info tersebut. Terkejut. Sama, seperti banyak orang yang terkejut adanya info tersebut. Besuk dan lusa, info sudah seabrek, ternyata benar, Rismon mengajukan RJ. Langit seolah runtuh, dulu dielu-elu sebagai pejuang kebenaran hingga setinggi langit, sekarang jatuh bak langit runtuh ke permukaan bumi berkeping-keping jatuh ke jurang, jadi pecundang.

Hai, dulu suaranya lantang, sekarang lidahnya kelu, suaranya lain, menjilat ludahnya sendiri yang sudah dikeluarkan. “Lezaaaattt, preeetttt,” kata Nitizen.

Berarti benar sinyalmen yang dilontarkan seorang purnawirawan TNI yang mengatakan, “Akan ada yang menyusul ke Solo ikut Eggi dan DHL.” Saat peluncuran buku dr. Tifa. Info intelejennya kuat dan akurat. Jawaban dari pernyataan purnawirawan TNI baru ketemu ketika si Rich Mon** berbalik arah, ikut Genk Solo.

Belakangan, pada bulan Maret 2026, info dari circle Rismon ternyata sejak Januari sudah ada upaya untuk datang ke Solo.

Ternyata, langit tak runtuh gara-gara Rismon balik kucing. Planet pun beredar sebagaimana biasanya, Matahari pagi juga masih terbit dari timur, bukan dari barat, dunia belum Kiamat. Yang terguncang hanya harapan tinggi anak bangsa yang ingin mengetahui ijazah mantan presiden asli atau palsu? Kata aktivis, “Jangan kaget, aktivis biasa menghadapi kenyataan, kadang pejuang menjadi pecundang, pejuang jadi pengkhianat.” Digadang-gadang jadi pejuang yang sesungguhnya, malah berkhianat ikut jadi barisan musuh.

Mungkin Pangeran Diponegoro dulu juga tergoncang saat Kyai Mojo mengundurkan diri dari perjuangan melawan kompeni meski akhirnya dibuang ke Manado, dan juga Sentot Ali Basha sebagai panglima perangnya berdamai dengan Londo untuk memperoleh kompensasi gaji, mau diangkat jadi raja di luar Jawa, dan diberi izin memimpin 200 pasukan bersenjata, akhirnya juga dibuang ke Bengkulen.

Cuma zaman itu belum ada WA, sehingga tidak viral di masyarakat. Namun Pangeran Diponegoro, selangkah pun tidak pernah mundur untuk mempertahankan keyakinannya berperang membebaskan bangsanya dari penjajahan dan mengusir para penjajah.

Secara teologis, agama pun mengingatkan, “Jangan menukar kebenaran dengan materi yang tak ada nilainya.” (QS. 2: 16, 41; 174-5; ) Juga, “Jangan menyembunyikan kebenaran berdasar pengetahuan yang telah diperoleh.” (QS. 2: 42). Artinya, kemungkinan adanya “perubahan” sikap seseorang yang berpihak kepada kebenaran berubah sikap berpihak kepada yang salah, sifatnya potensial. Sama potensialnya dengan kemungkinan perubahan dari jalan yang sesat ke jalan yang benar (QS. 29: 69; 27: 81; 30: 53;)

Sahabat Nabi pun, Ubaidullah ibn Jahsy, konvert agama saat hijrah ke Habasah karena godaan wanita; juga ada penulis wahyu, Abdullah bin Abi Sarh yang kembali ke keyakinan lama, ada perangai buruk yang disembunyikan, meski akhirnya taubat, dan kembali ke Islam atas permohonan sahabat Utsman ibn Affan, karena masih ada hubungan famili, Nabi “sukut-sukut faqath” saja atas permohonan amnestinyz, kata anak santri. Artinya, pertama meyakini adanya kebenaran, berubah, namun berakhir kembali kepada keyakinan kebenaran awal.

Zaman Nabi pun ada sahabat Nabi yang berasal dari kalangan priyayi Arab bajunya terinjak oleh masyarakat biasa saat haji. Merasa sebagai priyayi, dipukullah orang Arab desa sehingga hidungnya berdarah. Kejadian tersebut dilaporkan kepada Nabi, lalu Nabi memerintah untuk dihukum yang setimpal atas penganiayaannya.

Takut diqishash, ia melarikan diri ke Damaskus, lalu konverst keyakinan hingga meninggalnya. Artinya, ada orang yang konversi dari jalan kebenaran berubah ke jalan yang sesat hingga akhir hayatnya.

Ada juga yang menjadi musuh Nabi bahkan jadi penglima perang penentang Nabi, masuk Islam seperti Khalid ibn Walid. Ada ahli pelontar tombak, Wahsyi, membunuh Hamzah paman Nabi dalam perang Uhud, lalu berbalik arah masuk Islam, saat terjadi pemberontakan Yamamah dan Nabi palsu, Wahsyi berhasil membunuh Musailamah al-Kadzab sang nabi palsu. Hingga sejarawan mengatakan, “Wahsyi membunuh sahabat terbaik Nabi, dan membunuh musuh terburuk Nabi.” Maknanya, orang bisa berubah dari jalan yang sesat ke jalan yang benar, dan perubahan tersebut dipertahankan hingga akhir hayatnya.

Dalam al-Qur’an pun dikisahkan, zaman Fir’aun ada ilmuwan yang jadi justifikator dan think thank kekuasaan despotiknya. Jadi jangan heran jika sekarang banyak ilmuwan yang jadi penyokong kekuasan korup dan kartelis. Fir’aun juga ada bohir penyokong dana, bahkan dulunya adalah dari kelompok Nabi Musa (Ali Musa). Sekarang pun juga seperti itu, bohir-bohir oligarkhi menjadi pemodal politik kleptotratik. Jadi, indikasi awal bahwa istiqamah akan ada ujiannya, diingatkan juga oleh Tuhan, oleh Allah SwT.

 

Tinggalkan Balasan

Search