Sebagai saintis, menulis, tentu sudah dipersiapkan konsepnya, metodologinya, sumber penelitiannya, datanya, pisau analisisnya, dan seterusnya, bukan nol dipersiapkan, tidak punya hipotesa, tidak punya konsep, tidak punya metodologi, tidak punya data, dst.. Menulis memang harus alim, pintar, ekspert, punya keahlian, punya ilmu, tidak boleh bodoh, tak punya ilmu, dan tidak punya keahlian. Kalau bodoh dan tidak punya ilmu, tidak bisa nulis dan pasti salah tulisannya.
Rismon yang menyimpulkan bahwa ijazah Jokowi 11.000 trilyun palsu, pasti berdasarkan data, metodologi, pendekatan penelitian, ada alat analisis, uji statistik, dan seterusnya. Lalu kemudian berubah kesimpulan, tentu ada sesuatu yang menyebabkan perubahan tersebut? Mungkin karena data baru sebagaimana kata Rismon (https://www.youtube.com/watch?v=k6f3Dk8y7qg ), atau juga ada tekanan kekuasaan, kekerasan, ancaman nyawa, atau godaan lainnya seperti yang dinyatakan oleh Mikhael Sinaga (https://www.youtube.com/watch?v=p16ki3DxBos ). Tidak lumrah, ilmuwan “ujug-ujug” merubah sikap 180 derajat, ghairu ma’qul al-ma’na, tidak mathuk di akal sehat.
Memang dalam sejarah kenabian, ada penggunaan kalimat majazi, sebagai kalimat kiasan untuk mengungkapkan yang tidak sebenarnya dari hakikat yang sesungguhnya. Dan itu harus disertai dengan “qarinah” (tanda) yang jelas, sehingga kalimat majazinya difahami sebagai kalimat majaz. Namun yang dimaksud tentu bukan verbatim yang diucapkan atau skripta yang dituliskan, tetapi makna majazi yang dimaksudkan, sehingga tidak merubah subtansi verbal yang diucapkan atau skriptural yang dituliskan.
Nabi Ibrahim pernah menggunakan kalimat majaz sebagai bahasa diplomatis, agar selamat dari ancaman penguasa yang lalim. Bahasa yang digunakan Nabi Ibrahim saat ditanya raja, “Siapa perempuan yang kamu bawa?” Ibrahim menjawab, “Saudara saya.” Tujuannya agar tidak dibunuh, karena bila mengaku sebagai suami Sarah, Ibrahim akan dibunuh. Sarah pun saat tahu Ibrahim mengucapkan dirinya sebagai “saudara”, marah, karena menganggap Ibrahim tidak “gentelman”. Kata Ibrahim, “Sarah kan saudara seiman dan seagama.” Yang dimaksud Ibrahim tentu bukan kalimat verbal, an sich, yang dimaksud, namun makna majazinya. Dengan kalimat tersebut Ibrahim selamat dari ancaman kematian.
Apakah Rismon akan kembali ke posisi awal sebagaimana diplomasi politisnya Ibrahim? Rismon genuin, pernah mengatakan, “Betapa hinanya Rismon, bila minta maaf dan menarik buku Jokowi Whites Paper dan Gibran End Game.” Rismon juga ngomong, “Lebih baik mati daripada daripada dicap pengkhianat seumur hidup saya.” (https://www.youtube.com/shorts/7HSiv6tN2lU) Seperti itulah seharusnya ilmuwan sejati sebagaimana yang ditampilkan Socrates dan Galileo Gailei, juga Masithah. Tapi itu sebelum berubah.
Socrates, filusuf Yunani yang sangat terkenal, dihukum penguasa minum racun Hemlock atas keyakinannya yang tidak mau menyembah dewa-dewa Yunani dan menyembah Dewa yang dia yakini menurut keyakinan dan kebenaran yang dia fikirkan dan dia imani. Juga atas tuduhan merusak kaum muda didasarkan pada kebiasaan Socrates yang sering terlibat dalam debat publik, di mana dia mempertanyakan kepercayaan dan nilai-nilai tradisional di Athena.
Atas keyakinan dan aktifitasnya tersebut, Socrates dihukum mati dengan meminum racun Hemlock. Socrates pun dirayu dan dibujuk dengan tawaran yang menggiurkan agar merubah sikap, aktifitas, dan keyakinannya, tetapi Socrates tidak bergeming dan memilih dihukum mati. Socrates tidak takut penguasa, tidak terpedaya oleh rayuan gemerlap kenikmatan duniawi, namun tetap tetap pada pendirian dan keyakinannya.
Masithah, pegawai Tata Rias kerajaan Fir’aun, “tertangkap basah” mengucapkan kalimat Tauhid saat alat riasnya terjatuh. Kejadian tersebut dilaporkan kepada raja. Atas kejadian tersebut Masithah diadili. Disuruh merubah keyakinannya, namun tidak mau. Dia lebih memilih mati daripada merubah keyakinan Tauhid kembali kepada keyakinan bathil: Fir’aun sebagai Tuhan.
Singkat cerita, atas pendirian Masithah tersebut, Firaun memerintahkan untuk dimasukkan ke dalam bejana dari tembaga yang panas. Dia perintah untuk melemparkan anak-anak Masithah satu persatu di hadapannya, hingga tiba giliran bayi yang masih disusuinya. Siapa tahu Masithah merubah pendiriannya. Tiba-tiba bayinya berbicara, “Wahai Ibu, lompatlah! Sungguh siksaan di dunia lebih ringan daripada siksa akhirat.” Masithah lebih memilih mati daripada merubah keyakinan Tauhid kembali kepada keyakinan sesat: Fir’aun sebagai Tuhan. (https://islamqa.info/ar/answers/39678/قصة-ماشطة-ابنة-فرعون).
