Rismon, Socrates dan Masithah

Rismon, Socrates dan Masithah
*) Oleh : Bukhori at-Tunisi
Alumni IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta
www.majelistabligh.id -

Ada juga sejarah perjuangan Tengku Umar, yang pura-pura ikut Belanda, tapi berhasil mengelabuhi Belanda dengan membawa ratusan senjata dari Tangsi Belanda untuk digunakan para pejuang Atjeh melawan penjajah Belanda. Apakah Rismon mau bersikap seperti Tengku Umar? Sehingga di kalangan Ceboker Nusantara –sebagaimana yang dinamai Roy Suryo—tidak mempercayai Rismon.

Atau seperti Kapiten Jonker, yang sejak dari awal memang menjadi laskar Londo. Jongker menjadi pimpinan pasukan tentara “Londo ireng” yang jadi andalan untuk diadu dengan para pejuang yang memberontak kepada kolonial Belanda; yang berakhir dengan mengenaskan, “Habis manis, sepah dibuang.” Jongker dihukum bunuh tembak karena dainggap “berkhianat” kepada Belanda. Apakah “Rismon memang penyusup dari pihak Solo,” sebagaimana dikatakan dr. Zulkifli. (https://www.youtube.com/shorts/D_sfJaDsl-E).

Lihatlah akirnya! Sentot Prawiro Dirdjo, yang berdamai dengan Belanda, akhirnya diadu kayak ayam jago, perang melawan saudaranya sendiri, seagama, dan setanah air, Perang Paderi yang dipimpin Imam Bonjol di Sumatera Barat. Sentot berdamai dengan kompensasi diberi gaji dan pasukan bersenjata sendiri, dan kelak diberi kekuasaan di daerah luar Jawa sebagai raja. Namun akhirnya juga dibui dan dibuang Belanda ke Bengkulen.

Tirulah Pangeran Diponegoro, berjuang, berperang hingga akhir hayat. Meski ditipu lalu ditangkap Belanda, diasingkan dan dipenjara di Manado, lalu di Makassar, tetap istiqamah bahwa Belanda adalah penjajah yang harus dilawan dan disingkirkan dari tanah Nusantara. Meninggal dalam keyakinan dan pendiriannya melawan penjajahan Belanda. Beliau jasadnya meninggal, namun namanya harum tetap hidup abadi.

Teladani Imam Bonjol, malim basa (“mu’allim besar”, guru besar, kyai besar) Sumatera Barat, yang dari kecil belajar di Surau-surau di nagarinya sendiri dan nyantri hingga di Dayah Atjeh, angkat senjata untuk mempertahankan dan membebaskan negerinya dari penjajahan Belanda, ditangkap, diasingkan, dan dipenjara di Manado hingga akhir hayatnya. Sama seperti Pangeran Diponegoro, Imam Bonjol meninggal, jasadnya wafat, namun namanya harum tetap hidup abadi.

Contohlah Soekarno, rela dipenjara untuk memperjuangkan kemerdekaan negerinya, tidak bekerjasama dan membeo sama penjajah Londo. Andai Soekarno dan juga Hatta menarik sikap melawan dan perjuangan memerdekakan bangsanya, berubah dengan bekerjasama dengan Londo putih, dengan menjadi pegawai, dapat gaji, dan fasilitas mewah, Indonesia belum tentu merdeka tahun 1945.

Dalam Islam ada istilah “murtad” (convert ke luar Islam) dan “mualllaf” (masuk ke agama Islam). Yang menginformasikan bahwa secara skriptural, diakui adanya konversi keyakinan atau pendirian oleh agama. Dan konversi keagamaan ada sejak agama itu ada. Dalam Islam, ada kelompok “Al-Sabiqun al-Awwalun” adalah kelompok awal para Sahabat Nabi yang konvert dari kepercayaan syirik ke kepercayaan Tauhid (Islam). Para Sahabat Nabi, dulunya adalah penganut paganisme, Nashrani, atau pun ada dari kalangan Yahudi.

Di atas dijelaskan, pada peristiwa Hijrah pertama kaum muslim ke Ethiopia, ada sahabat Nabi yang konvert menjadi Nasrani, karena terpedaya wanita Habasah. Ubaidullah bin Jahsy suami dari Ummu Habibah sebelum diperistri Nabi, pindah ke Nashrani hingga meninggalnya. al-Baladzari dalam Ansab al-Asyraf) juga menyebutkan nama As-Sukran bin Amru yang dikabarkan murtad setelah kembali dari Habasyah. Sahabat Nabi yang lain yang dipercaya Nabi untuk menulis wahyu yang murtad atau keluar dari Islam ialah Abdullah bin Abi Sarh. (https://bincangsyariah.com/khazanah/dua-penulis-wahyu-yang-murtad/

Abdah bin ‘Abdurrahim, seorang pejuang yang hafal Al-Qur’an, terkenal kealimannya, kezuhudannya, ibadahnya, puasa dawudnya, serta ketaqwaan dan keimanannya. Namun tak dinyana, di akhir hayatnya, mati murtad sebagai Nasrani. Karena godaan perempuan. (https://www.panjimas.com/citizens/opini/2015/05/29/kisah-malang-tabiin-mujahid-hafal-al-quran-yang-murtad-apa-penyebabnya/).

Adam dan Hawa merubah keyakinan keharaman buah “khuldi” karena bujukan Setan. Karena itu, now tidak tahu, apakah kepindahan keyakinan, pendirian, visi perjuangan, juga karena “bujuk” dan “rayuan” setan yang berupa verbal maupun material seperti rayuan kepada Adam.

Tinggalkan Balasan

Search