”The spirit of prayer is solemn. Without solemnity, prayer is just a movement of the body without a soul, like a body without a spirit”
”(Ruh salat adalah khusyuk. Tanpa khusyuk, salat hanyalah gerakan raga tanpa jiwa, seperti badan tanpa ruh)”
Tanyakan pada diri kita masing-masing, dari sekian bacaan salat yang kita kerjakan, berapa persen yang diketahui maknanya? Dari sekian gerakan salat yang kita lakukan, berapa persen yang diresapi hakikatnya?
Salat bukanlah rutinitas fisik tanpa makna. Ia adalah munajat, perbincangan hamba dengan Tuhannya. Kunci kualitas salat adalah khusyuk, yaitu ketenangan hati yang menghadirkan Allah SWT di hadapan kita. Allah SWT berfirman,
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ .الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ
Artinya:
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (Qs. Al-Mu’minun: 1-2)
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa khusyuk adalah ketenangan, ketentraman, sakinah, dan kerendahan diri dalam salat, yang intinya adalah di hati. Jika hati khusyuk, maka anggota badan pun akan tunduk. Dalam hadits Abu Ad-Darda’ , Rasulullah Saw bersabda,
أوَّلُ شَيءٍ يُرفعُ مِن هذِهِ الأمَّةِ الخُشوعُ حتَّى لا تَرى فيها خاشِعًا
Artinya:
“Perkara yang pertama kali diangkat dari umat ini adalah khusyuk sampai tak terlihat orang yang khusyuk di dalam shalatnya.” (HR. Ath-Thabrani, dengan sanad hasan. Lihat Shahih At-Targhib wa At-Tarhib, 1:288)
Hal Ini menunjukkan betapa berharganya khusyuk, menjadikannya ‘ruh’ salat.
Mari kita berusaha menambal kebocoran salat kita. Pelajari makna bacaan dan resapi setiap gerakan. Sebab, salat yang tidak disertai khusyuk laksana raga tanpa jiwa, yang berat dan mudah terlupakan. Jadikanlah salat sebagai penolong dan penyejuk mata.
Semoga bermanfaat. (*)
