Rumah bukan hanya sekadar sebuah bangunan fisik yang dapat melindungi kita dari terik matahari dan dinginnya hujan. Al-Qur’an dan hadis menggambarkan rumah ideal sebagai tempat yang dihidupkan dengan ibadah, terutama shalat dan bacaan Al-Qur’an, menjadikan tentram, penuh keberkahan, dihadiri malaikat, dijauhi setan serta berfungsi sebagai pusat ketenangan dan perlindungan keluarga, bukan tempat kosong atau seperti kuburan.
Dalam Al Qur’an Surat Ar’d ayat 28 Allah SWT berfirman :
لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُۗ ٢٨
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram. ( Ar-Ra’d : 28)
Sebagai orang beriman, maka kita harus menjadikan rumah sebagai tempat yang dapat memberikan hati menjadi tenang dan nyaman tentu saja caranya adalah memenuhi hati dengan senantiasa mengingat Allah SWT di saat berbaring, duduk maupun berdiri. Jangan sampai sebaliknya rumah terasa lengang, sepi seolah-olah seperti kuburan.
…………..وَاللّٰهُ جَعَلَ لَكُمْ مِّنْۢ بُيُوْتِكُمْ سَكَنًا
Allah menjadikan bagimu rumah sebagai tempat tinggal (ketenangan, kenyamanan dan perlindungan). (QS. An-Nahl :80).
Dalam pandangan Islam, rumah merupakan madrasah pertama (al-madrasatul ula) dan benteng kedamaian (baiti jannati). Oleh karenannya menjadikan rumah sebagai tempat pulang paling nyaman tentu memerlukan lebih dari sekadar interior rumah yang mewah, ia membutuhkan aliran cinta yang dirawat dengan nilai-nilai langit.
Ada beberapa tips agar kehangatan cinta yang di bangun dalam rumah itu menjadikan setiap anggota keluarga selalu merasakan rindu untuk pulang dan berkumpul bersama keluarga :
- Menghidupkan Ibadah Bersama
Kita ketahui bersama bahwa, fondasi utama rumah tangga yang bahagia adalah adanya hubungan yang kuat dengan Allah SWT. Oleh karena itu rumah yang hidup merupakan rumah yang didalamnya senantiasa terdengar lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan tegaknya shalat berjamaah’
Maka rasulullah SAW itu menganjurkan umatnya untuk tidak menjadikan rumah seperti kuburan.
لَا تَجْعَلُوا بُيُوتَكُمْ مَقَابِرَ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْفِرُ مِنَ الْبَيْتِ الَّذِى تُقْرَأُ فِيهِ سُورَةُ الْبَقَرَةِ
Janganlah kalian jadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan, karena sesungguhnya setan akan lari dari rumah yang dibacakan di dalamnya surat Al Baqarah. (HR Muslim ).
Dengan shalat berjama’ah dan berdoa bersama akan menjadikan keberkahan itu turun, menenangkan hati yang gelisah, sedang galau, gundah, sedih serta dapat menyatukan visi spiritual suami istri.
- Komunikasi dengan Qoulan Layyinan (Perkataan yang Lembut).
Pada zaman modern dan serba digital ini seringkali, terjadinya konflik rumah tangga itu bermula dari cara berkomunikasi antara pasangan suami istri itu sendiri. Maka, Islam itu mengajarkan kepada kita untuk senantiasa berkata dengan lemah lembut, santun serta penuh sikap kesopanan.
Hendaklah sedapat mungkin untuk menghindari membentak atau berkata menggunakan kata-kata yang kasar dan keras saat terjadi perbedaan pendapat. Tentu saja Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam memperlakukan keluarga dengan penuh kelembutan.
Tentunya sebuah senyuman yang nampak dari bibir istri saat menyambut suami pulang kerja itu akan sangat menjadikan hubungan pasangan suami istri akan semakin harmonis, atau ungkapan terima kasih dari suami kepada istrinya atas masakan istri adalah sebuah investasi kecil dan sederhana yang akan memiliki dampak besar bagi kehangatan hubungan tersebut.
- Saling Menghargai Peran dan Pengabdian
Jika setiap pasangan suami istri saling merasa dihargai maka kehangatan hubungan itu ada dapat tetap terjaga dengan baik, namun apabila sebaliknya antara pasangan suami istri tidak rasa saling mengahargai tentunya akan menjadikan hubungan itu jauh dari kata bahagia dan tidak dapat merasakan kehangatan cinta.
Oleh karena itu seorang suami sebagai pemimpin keluarga harus menyadari bahwa istri telah mencurahkan seluruh energinya untuk mengurus rumah tangga, terlebih di zaman modern saat ini banyak wanita juga memiliki karier dan pekerjaan untuk membantu menopang ekonomi keluarga.
Sebaliknya juga istri perlu menghargai kerja keras suami dalam mencari nafkah yang halal, meskipun terkadang hasilnya belum sesuai harapan atau mungkin pendapatan suami tidak lebih banyak dari pendapatan istri, maka penting untuk saling membantu pekerjaan rumah tangga.sebagaiman yang dilakukan Rasulullah SAW yang tidak segan menjahit sandalnya sendiri atau membantu istrinya, hal ini akan dapat menumbuhkan rasa kasih sayang yang mendalam.
- Menciptakan Suasana Aman dari Prasangka.
Rumah sudah seharusnya dapat menjadi tempat di mana seseorang merasakan paling aman untuk menjadi dirinya sendiri, dalam artian rumah harus menjadi tempat ternyaman dan terramah bagi penghuninya. Hindari kebiasaan sifat prasangka buruk (su’udzon) .
Jika ada ganjalan dalam hati, maka bicarakan dengan penuh kejujuran, kelembutan, lapang dada dan penuh keterbukaan (tabayyun). Dan penting juga untuk dipahami bahwa, sebuah kepercayaan merupakan ruh dari sebuah ikatan karena tanpanya. Rumah hanya akan menjadi tempat yang penuh masalah, ketegangan dan sumber huru hara. Naudzubillah.
- Menjaga Kebersihan dan Keindahan sebagai Bagian dari Keimanan
Rumah yang bersih dan indah secara fisik juga memiliki peran penting dalam menciptakan sebuah kenyamanan. Islam mencintai keindahan dan kebersihan, karena rumah yang bersih, rapi dan harum akan menciptakan suasana yang tenang dan nyaman. Tidak perlu perabotan mahal, cukup pastikan bahwa setiap sudut terawat dengan baik, karena suasana rumah yang nyaman secara fisik akan mendukung kenyamanan batin para penghuninya.
Maka perlu untuk diingat bahwa rumah yang paling nyaman adalah rumah yang didalamnya terdapat ridha Allah SWT. Maka mari jadikan rumah kita sebagai tempat di mana cinta tidak hanya diucapkan, tetapi dirasakan melalui keteladanan, kesabaran dan syukur. (*)
