Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr KH M Saat Ibrahim, MA menyampaikan, semua manusia mempunyai potensi untuk mengenal Allah lebih dekat apapun latarbelakangnya. Untuk itu, dakwah Muhammadiyah harus diarahkan untuk mendorong potensi tersebut agar semua kalangan lebih dekat dengan Allah.
Hal itu disampaikan Kiai Saad Ibrahim dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) II Lembaga Dakwah Khusus PP Muhammadiyah di Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Jumat (30/1/2026) dengan tema “Akselerasi Dakwah Muhammadiyah Terpadu”.
“Manusia, bahkan sebelum memiliki tubuh, telah bersaksi kepada Allah. Ketika para ruh ditanya, ‘Bukankah Aku ini Tuhanmu?’, mereka menjawab, ‘Benar, Engkaulah Tuhan kami.’ Dari peristiwa ini kita bisa memahami bahwa sejatinya seluruh manusia memiliki potensi untuk mengenal agama, meskipun dalam realitasnya ada yang mengaku tidak bertuhan (atheis),” ujarnya.
Lebih lanjut, Ia menekankan bahwa manusia diciptakan dengan fitrah kebaikan. Oleh karena itu, dakwah tidak semestinya dilakukan dengan cara-cara yang keras dan ekstrem. Melainkan perlu dilakukan dengan cara-cara yang penuh kebaikan dan kebijakan sebagaimana yang dilakukan dalam aspek dan prinsip kemanusiaan.
“Sejak awal penciptaannya, manusia didesain membawa fitrah kebaikan. Maka dakwah harus berangkat dari keyakinan bahwa pada dasarnya manusia itu baik. Islam hadir sebagai rahmat bagi semua, bukan dengan cara-cara ekstrem yang jauh dari aspek kemanusiaan,” jelasnya.
Saad juga mengingatkan para dai sebagai garda utama dalam aktivitas dakwah Muhammadiyah agar selalu menekankan prinsip kemanusiaan sebagai landasan utamanya dalam menyampaikan pesan-pesan islam di tengah masyarakat yang beragam.
Melalui penekanan dakwah semacam inilah, Saad meyakini dakwah islam akan dapat menyentuh dimensi terdalam kemanusiaan yang mana diharapkan akan semakin memperluas pemahaman keagamaan dan menghadirkan Islam sebagai solusi kebaikan, kedamaian dan kesejahteraan untuk seluruh umat.
Dalam kesempatan tersebut, Saad juga mengingatkan dalam berdakwah juga harus menguasai strategi karena masyarakat Indonesia adalah majemuk. Selain iu juga perlunya kesiapan untuk menghadapi beberapa tantangan baik internal maupun eksternal diantaranya adalah teknologi dan prakmatisme. “Oleh karena itu kreativitas dan akselerasi dakwah Muhammadiyah harus terus dilakukan. (m sholihin fanani)
