Saat Al-Qur’an Menjadi Barang Pujaan

Saat Al-Qur'an Menjadi Barang Pujaan
*) Oleh : Bahrus Surur-Iyunk
Warga Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -
Rasulullah Muhammad SAW tidak pernah mengeluh selama hidupnya. Ia selalu sabar tegar dalam menghadapi semua cobaan yang menimpanya. Namun, Rasulullah pernah mengeluh atas suatu masalah yang menimpa umatnya. Hal itu terekam dalam Al-Qur’an surat Al-Furqan ayat 30, “Berkatalah Rasul: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an itu sesuatu yang tidak diacuhkan“.
Cara orang mengacuhkan Al-Qur’an itu berbeda-beda. Jika orang yang tidak beriman terhadap Al-Qur’an, maka jelas ia memang tidak percaya. Tetapi, orang Islam yang jelas-jelas mengaku beriman, kemudian tidak peduli atau tidak acuh atau tidak memiliki perhatian dengan Al-Quran itulah yang disebut dengan mahjuran.

Ada banyak perilaku yang bisa disebut tidak peduli dengan Al-Qur’an. Setidaknya, ada empat tingkatan orang yang tidak peduli dengan Al-Qur’an. Pertama, orang yang mengaku beriman kepada kitab-kitab Allah, tetapi tidak pernah sedikitpun beriteraksi dengan Al-Qur’an. Masalah dan alasannya bisa beragam. Sikap ini muncul karena sejak kecil tidak pernah atau jarang diperkenalkan dan didekatkan kepada Al-Qur’an oleh orang tuanya.

Di kemudian hari, ia hanya mengimani tetapi tidak pernah belajar membaca dan akhirnya tidak bisa membaca Al-Qur’an. Karenanya, Al-Qur’an menjadi barang yang asing dan diacuhkan. Pengalaman saya sebagai guru banyak menemukan kasus seperti ini.

Kedua, ada orang yang mengimani dan menyadari bahwa Al-Qur’an itu adalah bacaan mulia dan kitab suci tiada duanya. Karena keimanannya, ia kemudian memuji dan mengagungkannya. Ia letakkan Al-Quran di tempat yang tinggi di lemarinya. Ia dekap dan ciumi Al-Qur’an dengan penuh cinta. Ayat-ayatnya, biasanya ayat kursi dan al-Fatihah, pun dijadikan kaligrafi indah dan dipajang di dinding rumahnya. Ia bisa marah jika ada Al-Qur’an dibakar. Anehnya, ia sendiri jarang membaca Al-Qur’an. Sesempatnya saja. Orang yang semacam ini sebenarnya termasuk orang yang dikeluhkan oleh Nabi SAW.

Ketiga, adalah orang yang mengimani, meyakini keagungannya, dan secara rutin membacanya. Bahkan, ia sudah mulai menghafalkan semampunya. Bisa jadi, ia berhasil menjalankan program One Day One Juz (satu hari satu juz). Orang seperti ini sudah sangat beruntung, karena berhasil meraih ribuan dan bahkan jutaan kebaikan yang dijanjikan oleh Rasulullah bagi kehidupan di dunia dan akhirat.

Sebagaimana sebuah hadis, “Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata: “Rasulullah SAW bersabda: “Siapa yang membaca satu huruf dari Al Quran maka baginya satu kebaikan dengan bacaan tersebut, satu kebaikan dilipatkan menjadi 10 kebaikan semisalnya dan aku tidak mengatakan الم  satu huruf akan tetapi Alif satu huruf, Laam satu huruf dan Miim satu huruf.” (HR. Tirmidzi dan dishahihkan di dalam kitab Shahih Al Jami’, no. 6469).

Tetapi, sayangnya, ia masih belum sampai ke tingkat mempelajarinya. Ia masih baru sebatas membaca dan menghafalnya. Alhamdulillah yang seperti ini sudah berjalan di berbagai lembaga pendidikan dan keagamaan. Artinya, gerakan mencintai Al-Quran dengan membaca dan menjaga melalui hafalan sudah ada di mana-mana. Namun, ini pun masih dianggap bagian dari mengacuhkan Al-Quran, meski sangat ringan.

Keempat, adalah orang yang mengimani, mengagungkan, membaca dan menghafalkan semampunya, dan berusaha mempelajarinya, tetapi tidak mengamalkan apa yang telah ia pelajari dari Al-Qur’an. Cara membacanya jangan sampai mengikuti cara membacanya orang Arab. “Kelemahan” orang Arab itu kalau membaca Al-Qur’an itu tidak dengan terjemahannya. Itu anekdotnya.

Sesekali kita perlu membaca terjemahannya agar mengetahui isi kandungan Al-Qur’an. Membaca dan mempelajari memang sudah mendapat pahala berlipat ganda. Namun, akan menjadi sebuah ironi jika umat pemiliknya tidak mengetahui dan mengerti apa yang sedang ia baca. Jika “hanya” ini yang kita lakukan, maka kita masih termasuk orang yang mengacuhkan Al-Qur’an, karena belum mengamalkannya dalam kehidupan sehari-harinya.

Dengan demikian, orang yang dianggap tidak mengacuhkan Al-Qur’an adalah orang yang mengimaninya sepenuh hati, mengagungkannya sebagai firman-Nya dan kitab sucinya, kemudian membaca dan menghafalkan semampunya, berusaha mempelajari dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Tentu saja, melakukannya tidak mungkin secara sempurna. Tuntutan bagi kita adalah melakukannya semampu mungkin dalam setiap tahapnya. Dengan berusaha dan ikhtiar saja Allah sudah mencatat dan menetapkan pahalanya.

Seorang KH Ahmad Dahlan, pendiri ormas Islam besar Muhammadiyah, pernah bertutur, bahwa beliau baru bisa mengamalkannya beberapa ayat saja. Tidak sampai satu surat dalam Al-Qur’an. Beliau baru berusaha mengamalkan Surat Al-Ma’un. Itupun belum lengkap.

Dalam pandangan kita, baru tahap berusaha mengamalkannya saja KH Ahmad Dahlan sudah bisa melahirkan Muhammadiyah dengan ratusan ribu lembaga pendidikan, rumah sakit dan panti asuhannya. Tidak terbayangkan, jika ajaran Islam yang tertuang dalam Al-Qur’an itu bisa dijalankan dengan sebaik-baiknya oleh umat pemiliknya. Insya Allah, umat akan bisa menguasai dunia seperti pada masa-masa yang lampau. (*)

Tinggalkan Balasan

Search