Malam gerhana bulan total yang menyelimuti langit pada Selasa (3/3/2026), menjadi momentum yang sarat makna bagi jamaah Masjid Sabilil Haq Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sidomojo Kecamatan Krian Sidoarjo. Syiar komunal di setiap terjadinya fenomena alam seperti ini hampir selalu dimanfaatkan jamaah di wilayah Sidomojo ini untuk melakukan bertadabbur dan bertafakkur.
Malam mulai menyapa ditengah redupnya cahaya rembulan berselimut mendung, tepat setelah Shalat Maghrib pukul 18.20 jamaah berkumpul dalam suasana khusyuk; menyatukan raga, rasa, dan ruh dalam irama dzikir yang sama. Inilah saat di mana kesadaran kolektif umat diuji dan dikuatkan: bagaimana iman dan takwa tidak hanya hidup dalam diri masing-masing, tetapi juga bergetar bersama dalam kebersamaan, dalam satu frekuensi menuju ridha Allah SWT.
Dalam momen ini, langit seolah membungkuk hormat kepada Penciptanya. Saat cahaya meredup, justru panggilan sujud menggema dalam hati yang tenang. Di Bulan Suci ini, momen langka menjadi kesempatan emas kaum mukmin menyelaraskan iman dan takwa dalam kerendahan raga dan rasa sebagai perwujudan ketaatan semesta dengan PenciptaNya.
Gerhana Sebagai Seruan Langit untuk Jiwa Yang Tunduk dan Beriman
Fenomena gerhana bulan bukan sekadar tontonan astronomi yang memukau mata, melainkan sebuah panggilan ilahi untuk merenung. Di bawah langit yang sebagian tertutup bayangan bumi, kita diingatkan tentang betapa kecilnya diri manusia di hadapan kebesaran Sang Pencipta yang mengatur seluruh semesta dengan ketepatan nan sempurna. Peristiwa ini adalah ayat-ayat kauniyah Allah yang terbentang, mengajak kita untuk membuka mata hati.
Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 190 dan191:
¯ إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلَٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ لَءَايَٰتٍ لِّأُو۟لِى ٱلْأَلْبَٰبِ
ٱلَّذِينَ يَذْكُرُونَ ٱللَّهَ قِيَٰمًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِى خَلْقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَٰطِلًا سُبْحَٰنَكَ فَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.’”
Alam semesta ini tak pernah berhenti menjalankan perintah-Nya. Ia adalah komunitas yang patuh, tunduk, dan senantiasa bertasbih memuji nama-Nya. Keteraturan gerhana adalah bukti nyata dari ketaatan itu. Sebagaimana FirmanNya dalam QS. Al-Isra ayat 44.
تُسَبِّحُ لَهُ ٱلسَّمَٰوَٰتُ ٱلسَّبْعُ وَٱلْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ ۚ وَإِن مِّن شَىْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِۦ وَلَٰكِن لَّا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗ إِنَّهُۥ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
“Tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka.”
أَلَمْ تَرَ أَنَّ ٱللَّهَ يُسَبِّحُ لَهُۥ مَن فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱلطَّيْرُ صَٰٓفَّٰتٍ ۖ كُلٌّ قَدْ عَلِمَ صَلَاتَهُۥ وَتَسْبِيحَهُۥ ۗ وَٱللَّهُ عَلِيمٌۢ بِمَا يَفْعَلُونَ
“Tidakkah engkau tahu bahwa kepada Allah bertasbih apa yang di langit dan di bumi, dan (juga) burung-burung dengan mengembangkan sayapnya? Masing-masing telah mengetahui cara sembahyang dan tasbihnya.” (QS. An-Nur: 41)
Rasulullah ﷺ pun telah memberikan tuntunan yang jelas, memalingkan kita dari mitos menuju tauhid. Sabda beliau:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ ، وَإِنَّهُمَا لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَكَبِّرُوا وَادْعُوا اللَّهَ وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Maka apabila kalian melihat gerhana, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, sholatlah, dan bersedekahlah.” (HR. Bukhari-Muslim)
Inilah esensinya: gerhana adalah momen untuk kembali kepada-Nya, merenungi keagungan-Nya, dan memperbanyak amal kebajikan.
Menyelaraskan Frekuensi Hati dan Rasa Dengan Harmoni Alam
Lantas, apa kaitannya fenomena langit yang agung ini dengan kehidupan spiritual kita? Peristiwa gerhana, sambung Sulton Dedi Wijaya sebagai Khatib Salat Khusuf, adalah metafora yang sangat dalam untuk kondisi jiwa manusia. Ia menjadi cermin bagi kita untuk menyesuaikan kembali “frekuensi” hati dengan getaran dan ritme iman dan takwa dalam kosmos semesta. Seperti alam yang tunduk dan tertib, hati kita pun perlu diselaraskan dengan sistem ketuhanan (sunnatullah) yang Maha Sempurna.
Iman adalah penghubung yang menyambungkan kita dengan Allah, sementara takwa adalah penuntun praktis bagaimana hubungan itu diwujudkan dalam laku amal saleh sehari-hari. Ketika iman dan takwa berada dalam frekuensi yang sama dan seirama, hidup terasa selaras, tenang, dan penuh makna, bagai harmoni alam semesta yang senantiasa bertasbih.
Namun, seringkali frekuensi itu terganggu. Dunia dan hiruk-pikuknya dapat membuat iman melemah dan ketakwaan memudar. Saat itulah, jiwa pun tertutup kegelapan, persis seperti rembulan yang perlahan diselubungi bayangan bumi. Kegelapan hati itu terasa pekat, membuat kita kehilangan arah dan cahaya ilahi.
Tapi, renungkanlah: gerhana tidaklah kekal. Ia hanya sementara. Lambat laun, bulan akan kembali bersinar dengan terangnya. Begitu pula kegelapan dalam hati; ia tidak akan abadi. Kegelapan itu akan sirna ketika cahaya dzikir, sholat, doa, dan amal shaleh kita nyalakan kembali untuk menerangi sudut-sudut batin yang gelap.
Maka, di malam yang penuh barakah ini, Dosen UMSURA ini mengajak seluruh jamaah yang hadir untuk menjadikan momentum gerhana bulan di bulan Ramadan tahun ini sebagai proses tazkiyatun nafs; penyucian diri dan penguatan ikatan jamaah. Semoga dari balik proses memudarnya cahaya hingga kembali terang benderang, lahir pula cahaya iman yang baru dalam diri setiap kita.
Cahaya yang tidak hanya bersinar untuk diri sendiri, tetapi juga menyatu dalam semangat kolektif, membawa kita semua menuju ketundukan dan kedekatan yang hakiki kepada Allah SWT. Aamiin. Nashrun minallahi wa fathun qorib
