Kita sering kali menyadari sebagian kenikmatan yang Allah berikan, namun sesungguhnya masih terlalu banyak nikmat yang terlupakan dan terlalaikan.
Bukankah banyak dari organ tubuh kita yang bergerak dengan sendirinya, di luar kesadaran manusia, demi keberlangsungan hidup?
Jantung terus berdetak sekitar 100 ribu kali sehari tanpa kita perintah. Paru-paru menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida sekitar 20 ribu kali setiap hari.
Ginjal menyaring sekitar 50 galon darah setiap 24 jam. Saraf menyampaikan jutaan sinyal ke seluruh tubuh tanpa kita sadari. Semua ini berlangsung atas izin Allah SWT.
Allah SWT berfirman:
“Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzaariyat: 21)
Ilustrasi sederhana bisa kita rasakan ketika sakit. Saat flu ringan saja melanda, tubuh lemah, kepala pusing, dan aktivitas terganggu.
Padahal sebelumnya kita sehat dan beraktivitas bebas, tetapi jarang kita benar-benar menghargai nikmat itu sampai ia hilang sesaat. Inilah bukti nyata bagaimana manusia sering lalai dari nikmat yang Allah limpahkan.
Sungguh, betapa sering Allah menggiringkan kenikmatan kepadamu, wahai manusia, hingga engkau dapat menikmatinya tanpa menyadarinya.
Dan betapa banyak keburukan serta musibah yang Allah jauhkan darimu, sementara engkau tidak mengetahuinya.
Tentang penjagaan-Nya kepada manusia, Allah SWT berfirman:
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya; mereka menjaganya atas perintah Allah.” (QS. Ar-Ra‘d: 11)
Renungkan pula perjalanan sehari-hari: kita berkendara di jalan raya, di samping kita ada truk besar, di belakang kita ada pengendara terburu-buru, namun Allah menjaga kita dari bahaya yang tak terlihat.
Banyak peristiwa yang seharusnya bisa celaka, namun karena rahmat dan penjagaan-Nya kita tetap selamat.
Maka benar adanya firman Allah SWT:
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sesungguhnya manusia itu benar-benar sangat zhalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).” (QS. Ibrahim: 34)
Rasulullah saw pun mengingatkan dalam sabdanya:
“Dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menafsirkan, manusia sering baru merasakan nilai kesehatan ketika sakit, dan menyesali waktu luang yang terbuang ketika kesibukan datang.
Maka sudah selayaknya kita memperbanyak syukur atas segala nikmat yang tampak maupun tersembunyi.
Syukur ini tidak hanya dengan ucapan alhamdulillah, tetapi juga dengan menggunakan nikmat sesuai kehendak-Nya: mata untuk membaca Al-Qur’an, tangan untuk menolong, lisan untuk berzikir, dan waktu untuk amal saleh.
Mari kita berdoa agar selalu terhindar dari sikap lalai dan kufur nikmat, sebab sejatinya syukur adalah kunci ditambahkannya nikmat, sebagaimana janji Allah:
“Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7)
