Saat Tuhan Terasa Begitu Dekatnya

Saat Tuhan Terasa Begitu Dekatnya
*) Oleh : Bahrus Surur-Iyunk
Warga Muhammadiyah
www.majelistabligh.id -

Sejak malam 21 Ramadan, kita sudah mulai menjalankan iktikaf di masjid. Ada juga yang tidak sempat melaksanakannya. Mungkin karena kesibukan di siang hari yang menjadikannya lelah di malam hari. Kita tidak bisa menyalahkan, apalagi mengklaim, orang lain lebih buruk dari diri kita hanya karena iktikaf.

Jika kita kemudian merasa “lebih baik” dari orang lain karena ibadah kita, maka amal ibadah kita akan menjadi kayu bakar di hari akhir nanti. Na’udzu billah.

Pada saat masuk masjid atau musalla, kita niatkan untuk beriktikaf. Di rumah Allah itu kita hamparkan sajadah untuk shalat dan berdzikir. Dan yang tidak kalah pentingnya adalah kita sebagai hamba Allah mulai merenungkan segala apa yang telah kita lakukan selama ini. Pada saat itulah kita sesungguhnya terasa begitu dekatnya dengan Yang Maha Pencipta.

Kedekatan manusia kepada Allah juga tergantung pada perasaan, pikiran dan cara pandang tentang Allah. Jika ia merasa begitu dekat Allah dalam dirinya, maka Allah akan menempatkannya dalam diri-Nya. dalam sebuah hadis qudsi disebutkan,

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – « يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِى بِى ، وَأَنَا مَعَهُ إِذَا ذَكَرَنِى ، فَإِنْ ذَكَرَنِى فِى نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِى نَفْسِى ، وَإِنْ ذَكَرَنِى فِى مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِى مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ بِشِبْرٍ تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا ، وَإِنْ تَقَرَّبَ إِلَىَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا ، وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً »

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata bahwa Nabi SAW bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat). Jika ia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya sedepa. Jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan (biasa), maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat.” (HR. Bukhari no. 6970 dan Muslim no. 2675).

Dalam Al-Qur’an Surat Qaaf ayat 16, Allah berfirman,

وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ

Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (Qaaf : 16).

Kedekatan seseorang dengan Tuhannya akan dipresentasikan dalam kehidupan sehari-hari. Saat ia merasa dekat dengan Allah dan merasakan kehadiran-Nya, ia akan berhati-hati dengan perilakunya. Karena ia merasa betapa Allah senantiasa melihat dan mengetahui tingkah lakunya.

Bukan hanya itu, kedekatan seseorang kepada Allah akan melimpahkan kasih saying sesame manusia. Ia merasa cintanya kepada Allah, bukan untuk dirinya sendiri. Ia menjadi lebih santun, berlaku halus, kepada sesamanya, karena ia merasa betapa dirinya tidak jauh lebih dari orang lain. Semua sama di hadapan-Nya. dan semua sama-sama membutuhkan kasih sayang-Nya. kasih saying-Nya tidak hanya datang dari Allah, melainkan juga dari uluran tangan sang makhluk karena limpahan rahmat-Nya mengalir tanpa batas.

Saat sudah begitu dekat, seorang hamba akan terasa mudah jika hendak memohon pertolongan apapun kepada-Nya. Bahkan, berdoa, memohon, menghibah dan bermanja-manja dengan Allah menjadi jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Kita bisa menggambarkan kedekatan ini layaknya seseorang yang dekat saudaranya. Ketika sudah dekat dan akrab, maka –biasanya—apa yang diminta akan dikabulkan. Atau, kitab isa melihat bagaimana manjanya seorang isteri kepada suaminya. Kemanjaannya bisa menjadi symbol betapa keduanya sangat dekat dan akrab.

Dalam sebuah kesempatan Abu Musa Al-Asy’ari pernah bercerita, “Kami pernah bersama Rasulullah SAW. Saat sampai ke suatu lembah, kami bertahlil dan bertakbir dengan mengeraskan suara kami. Nabi kemudian bersabda, “Wahai sekalian manusia. Lirihkanlah suara kalian. Kalian tidaklah menyeru sesuatu yang tuli dan ghaib. Sesungguhnya Allah bersama kalian. Allah Maha Mendengar dan Maha Dekat. Maha berkah nama dan Maha Tinggi kemuliaan-Nya.” (HR. Bukhari, no. 2992 dan Muslim, no. 2704).

Sebagian para sahabat saat itu kemudian bertanya,  “Wahai Rasulullah, apakah Rabb kami itu dekat sehingga kami cukup bersuara lirih ketika berdoa ataukah Rabb kami itu jauh sehingga kami menyerunya dengan suara keras?” Dari sinilah kemudian Allah menurunkan wahyu (Majmu’ah Al-Fatawa, 35:370),

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al-Baqarah: 186)

Mendekatlah dan berdekat-dekatlah kepada Allah. Bermanja-manjalah kepada-Nya. berdoa dan memintalah apa saja yang anda inginkan kepada-Nya. Mendekat, berdzikir (mengingat-Nya) dalam diam sambil bertafakkur dan berdoa sepuasnya. Allah meridlai kita semua. Amiin…

 

Tinggalkan Balasan

Search