Kajian Safari Ramadan yang dilaksakanan oleh PDPM Lamongan, Ahad (8/3/2026) berjalan meriah dan penuh refleksi. Agenda yang bertempat di Masjid Al Falah Dusun Gabus Desa Tambakploso Turi ini diikuti oleh warga Jamaah Muhammadiyah ranting gabus, Pemuda Muhammadiyah Turi, PCPM Se Kabupaten Lamongan dan jajaran PDPM Lamongan
Hadir pula Ketua PCM Turi, Ketua PCA Turi dan pemateri Ketua PWPM Jawa Timur Ustadz M Anang Nafiuzzakki. Tema yang diusung ialah “Organisasi Sebagai Ladang Ibadah dan Dakwah : Paradigma dan Tantangan”.
Ketua PCM Turi Sapuwan menyampaikan terima kasih telah menyelenggelarakan agenda seperti ini di Cabang Turi. Ia bangga dengan adanya forum kajian Ramadan semacam ini.
Sementara itu, Ketua PDPM Lamongan Husnul Abid Saputra mengajak hadirin untuk bersyukur atas nikmat sehat, nikmat kesempatan,dan nikmat waktu luang yang telah berikan Allah kepada kita semua. Ia menyampaikan, agenda kajian ini bergilir dan sekaligus turba.
“Kami membuat 3 titik kajian sebagai ajang silaturahmi dan memperdalam ilmu di bulan Ramadan,” jelasnya.
Agenda ini juga terdapat bingkisan bantuan dari Lazizmu Lamongan kepada warga Muhammadiyah ranting Gabus sebanyak 15 penerima.
Ketua PCPM Turi Moch. Muzaki sekaligus tuan rumah acara ini menegaskan, tema kajian ini adalah refleksi sekaligus merekontruksi kembali bahwa kita berorganisasi ini adalah paradigma agung yang harus kita miliki.
“Jadikan organisasi sebagai ladang untuk beribadah kepada Allah dan sebagi sarana untuk berdakwah agar bisa menyelematkan banyak manusia,” tegasnya.
M. Anang Nafiuzzakki, selaku pemateri kajian menjelaskan, organisasi layaknya organ tubuh manusia. Ia adalah kumpulan jaringan dan saling terhubung dan memiliki fungsi masing-masing, serta jika terus diperluas maka akan terbentuk sebuah sistem.
Maka organisasi juga seperti itu, ia juga bisa dikatakan “Kumpulan. Kumpulan orang yg memiliki tujuan yang sama,” jelasnya.
Jika sudah jelas berkumpulnya maka ini adalah kesempatan untuk menjadikannya sebagai sarana ibadah dan dakwah, khususnya pengurus yang diberikan amanah.
“Tinggal mau mengambil kesempatan itu atau tidak, kebanyakan kita sudah tahu namun hati dan langkah berat untuk mengambil kesempatan yang baik itu.”
Lebih dalam lagi Nafiuzzakki menjelaskan, paradigma itu semacam kerangka berpikir dan dasar melaksanakan sesuatu. Sehingga jika dihubungkan dengan organisasi maka paradigma yang harus menjadi dasar ialah berangkat dari niat. Niat yang baik dan benar akan menumbuhkan kemaslahatan.
“Tidak cukup hanya dengan niat namun juga harus dilakukan lewat perilaku nyata,” ujarnya.
Selanjutnya Ia menegaskan, berorganisasi harus berorientasi mencari ridaAllah, niatkan dalam hati untuk berjuang lewat organisasi.
“Organisasi harus berjalan dengan rapi (Ayyat Asshaaf), layaknya bangunan rumah yang kokoh,” tegasnya.
“Namun juga perlunya terdapat komunikasi yang baik, perintah yang jelas, apapun harus didiskusikan dan musyawarah agar organisasi berjalan dengan semestinya,” imbunya.
Terakhir M. Anang Nafiuzzakki menyampaikan, kesuksesan organisasi juga perlu strategi agar tujuan tercapai dengan maksimal. “Kebaikan yang tidak terorganissir akan kalah dengan kejahatan yang terorganisir,” pungkasnya. (*/tim)
