Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Kiai Saad Ibrahim, mengingatkan umat Islam pentingnya mengelola iman agar tak sekadar dimiliki, tetapi terus dirawat dan ditingkatkan. Salah satu langkah krusialnya adalah menyatukan pemahaman sains dengan perenungan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an.
“Mengelola iman itu bagian penting. Setidaknya supaya tetap konstan, tetapi kalau bisa bertambah, itu jauh lebih baik,” ujar Kiai Saad.
Pesan ini dinilai sangat relevan di tengah era modern yang didominasi perkembangan ilmu pengetahuan. Menurut Kiai Saad, sains modern tidak boleh berhenti pada penjelasan teknis tentang bagaimana suatu fenomena terjadi, melainkan harus menjadi sarana merenungi keagungan Sang Pencipta.
Pihaknya mengajak masyarakat memperhatikan tanda-tanda kebesaran Allah (ayat kauniah) yang terbentang di alam semesta maupun dalam diri manusia. Mengutip Surah Fussilat ayat 53, ia menegaskan bahwa mempelajari fenomena alam bukan sekadar aktivitas ilmiah, melainkan bentuk perenungan keagamaan.
Sebagai contoh, ia menyoroti disiplin astrofisika dan teori big bang yang menjelaskan terbentuknya galaksi serta tata surya sejak 13,8 miliar tahun lalu. Keteraturan dan presisi alam semesta membuktikan bahwa tidak ada satu pun ciptaan-Nya yang hadir secara kebetulan.
“Artinya, tidak ada yang diciptakan sembarangan; semuanya terukur. Namun, kita tidak boleh berhenti pada penomena fisik saja. Kita harus melangkah lebih jauh hingga menyadari kebesaran Allah di balik fenomena tersebut,” tegasnya.
Ia mengambil contoh ilmuwan ternama Stephen Hawking. Penguasaan mendalam Hawking terhadap astrofisika nyatanya tidak otomatis membawanya pada keimanan. Karena itu, Kiai Saad menekankan bahwa membaca fenomena alam harus disempurnakan dengan memahami Al-Qur’an.
“Bacalah ayat-ayat Allah di alam semesta, lalu sempurnakan dengan membaca kitab suci Al-Qur’an,” imbaunya.
Iman Terlihat dari Perilaku dan Kepasrahan
Lebih lanjut, mantan Ketua PW Muhammadiyah Jawa Timur ini menjelaskan bahwa penguatan iman tidak berhenti pada olah pikir semata, melainkan harus tecermin dalam perilaku sehari-hari.
Merujuk pada hadis “idzā sa’alta fas’alillāh wa idzā ista‘anta fasta‘in billāh”, ia mengingatkan umat untuk senantiasa memohon pertolongan kepada Allah, bahkan untuk urusan-urusan kecil sekalipun.
Kiai Saad menuturkan, kondisi iman seseorang sangat dipengaruhi oleh perbuatannya. Amal kebaikan yang dilakukan ikhlas karena Allah akan memperkuat iman, sedangkan kemaksiatan justru akan menggerogotinya.
Sadar bahwa manusia tak luput dari dosa, ia berpesan agar istigfar dijadikan sebagai rutinitas harian untuk merawat kelurusan iman. Mengutip hadis qudsi riwayat Muslim tentang keutamaan ampunan Allah, ia menutup pesan tersebut dengan ajakan bertobat.
“Semoga istigfar menjadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari: Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah,” pungkasnya. (*/tim)
