Salafisme: Model Perempuan di Simpang Jalan

Salafisme: Model Perempuan di Simpang Jalan
*) Oleh : Dr Nurbani Yusuf, MSi
Wakil Ketua PDM Kota Batu & Komunitas Padhang Makhsyar
www.majelistabligh.id -

#Studi kasus: Model Keberagamaan Perempuan Aisyiyah dan Salafism

Salafisme bukan organisasi. Tidak punya pengurus atau anggota. Apalagi kantor sekretariat. Salafisme adalah hamparan berpikir yang tidak berbentuk. Ia hanya ada dalam pikiran berbentuk idealisme.
Salafisme adalah state of mind. Cara pandang. Cara berpikir. Atau paradigma bahkan lebih khusus bisa berupa jalan berpikir yang merindukan masa lampau atau masa terdahulu yang otentik. Murni atau original.

Perempuan salafi tak boleh keluar rumah, tidak boleh belanja ke pasar, semua kebutuhan dapur disediakan suami termasuk garam dan terasi, tidak boleh pergi pelesir sendirian tanpa mahram, bahkan shalat jamaah di masjid juga sangat tidak dianjurkan.

Tempat terbaik buat shalat bagi perempuan salafi adalah di kamar sentong belakang yaitu tempat menyimpan perlengkapan perempuan sehari hari – di ruang tamu arau ruang keluarga sudah pasti tidak boleh karena potensi besar dilihat publik.

Tidak boleh macak: pakai bedak gincu atau skincare atau parfum lainnya bisa mengundang birahi bagi lawan jenis. Dalam terminologi tradisi Jawa : masak macak manak dan mlumah.

Salafisme di Semenanjung Balkan, ribuan pekerja perempuan berhenti menjadi pekerja dan buruh karena dilarang bekerja di satu ruang bersama laki-laki bukan mahram. Perempuan harus di rumah bahkan temui tamu suami tidak boleh. Jendela dan pintu rumah ditutup rapat.

Salafisme menempatkan perempuan sebagai konco wingking, suwargo nunut neroko katut. Tidak punya hak suara, tidak boleh memveto putusan suami, dididik patuh dan taat pada suami. Tidak boleh ngurus SIM apalagi kebut-kebutan di jalan raya. Tidak boleh sekolah tinggi-tinggi— tidak boleh menjabat. Tidak boleh jadi dekan, rektor, direktur, kepala daerah bahkan ketua RT atau RW sekalipun. Wajahnya juga harus ditutup rapat selain dua bola mata yang dibiarkan.

Terpenting harus rela dimadhu— inilah puncak bakti perempuan salafi kepada suami. Satu lagi: harus produktif, potensi punya anak banyak: tiga, lima, tujuh atau sembilan yang penting ganjil. Sebab itu makruh pakai celana dalam saat tidur bersama suami.

Prof Ameena Abdul Wadud, penelitia senior aktifis feminis Islam dari universitas Winconshin Amerika Serikat menyebut bahwa Salafisme memposisikan perempuan bertindak efektif dan efisien— hemat patuh dan tidak ribet. Antithesis lifestyle perempuan liberal: susah di atur, banyak gaya dan banyak biaya.

^^^^
Perempuan Muhammadiyah sebaliknya. Populair disebut Aisyiyah untuk ibu-ibu yang sudah senior dan Nasyiah untuk perempuan Muhammadiyah yunior. Keduanya tetap perempuan dengan berbagai aktifitas.

Berbeda dengan Salafisme, perempuan Muhammadiyah menolak poligami: menganut prinsip monogami sebagai satu-satunya cara meraih keluarga sakinah. Pintu ijtihad dibuka seluas-luasnya, pintu poligami ditutup serapat-rapatnya.

Perempuan Aisyiah adalah representasi perempoean modern yang didambakan Kartini. Bukan hanya boleh keluar rumah tapi juga bebas berserikat dan berkumpul. Boleh arisan, ngopi dan bikin aktifitas apapun. Termasuk mendirikan perkumpulan perempuan yang kemudian populair disebut: Aisyiyah.

Perempuan Muhammadiyah ini bikin sekolah, klinik bersalin, rumah sakit, panti asuhan, senior care dan universitas berkelas. Perempuan Muhammadiyah boleh menjabat menjadi pengurus organisasi baik profesi atau ormas, menjadi menteri, rektor, dekan, kepala daerah termasuk boleh menjadi lurah atau kades.

Pendek kata perempuan Muhammadiyah atau Aisyiyah ini merepresentasi kemodernan, demokrasi dan egaliter punya hak bersuara dan hak veto boleh menolak ajakan suami yang diperankan Sayidah A’isyah ra.

^^^
Ini hanya komparasi perempuan di simpang jalan— tidak menimbang siapa yang lebih baik atau rendah, sebab keduanya adalah niscaya. Sebab hidup adalah pilihan termasuk memilih untuk tidak boleh memilih. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search