Di era digital, kita mengalami banjir informasi (overwhelmed information). Beragam informasi membanjiri pikiran kita melalui email, youtube, tiktok, WhatsApp, instagram, dan saluran media digital lainnya.
Tidak semua informasi penting dan kita perlukan. Banyak junk mail atau spam berisi informasi yang tidak kita inginkan (unsolicited) dan merusak masuk ke akun pribadi. Informasi sampah itu bisa juga digunakan sebagai upaya sengaja untuk melakukan kejahatan seperti pencurian data, penyebaran virus (phising, malware), hoaks, disinformasi, provokasi, dan beraneka modus kejahatan.
Informasi sampah dan berita negatif berpotensi merusak perangkat elektronik dan merusak pikiran (mindset). Serbuan berita negatif dapat menimbulkan masalah mental di antaranya doomscrolling: mengakses berita-berita negatif seperti kriminalitas, pornografi, bencana, korupsi, gosip, dan lain-lain. Kebiasaan tersebut dapat membuat kita berpikiran negatif seperti prasangka buruk, prejudice, dan stereotyping.
Dalam jangka panjang dan skala luas, informasi negatif dapat merusak moral, pranata sosial, dan kerukunan bangsa.
Di dalam Al-Qur’an, prasangka (dhon) disebutkan sebanyak 60 kali. Secara umum, ada tiga kategori dhon. Pertama, dhon sebagai sikap yang terpuji (mahmud) berprasangka berdasarkan ilmu dan iman: “(Orang yang khusuk) adalah mereka yang yakin akan menemui Tuhannya dan akan kembali kepada-Nya. (Qs. Al-Baqarah [2]: 46). Kedua, dhon sebagai sikap tercela (madhmum) yaitu keraguan atau tuduhan tanpa dasar ilmu. Dhon kategori ini dapat menjurus fitnah. “Sesungguhnya mereka hanya mengikuti dugaan, dan dugaan tidak akan berguna sedikitpun melawan kebenaran.” (Qs. Yunus [10]: 36).
Ketiga, dhon sebagai ilusi, halusinasi (at-tawahhum). “Dan dia (Fir’aun) dan bala tentaranya berlaku sombong di bumi tanpa alasan yang benar, dan mereka mengira bahwa tidak akan dikembalikan kepada Kami.” (Qs. Al-Qashash [28]:39).
Islam melarang pemeluknya berprasangka buruk (suudzon). “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah prasangka (dhon) karena sebagian dari prasangka adalah dosa (Qs. Al-Hujurat [49]:12). Di dalam ilmu akhlak, ada dua prasangka yaitu prasangka baik (husnudzon) dan prasangka buruk (suudzon). Prasangka buruk adalah perbuatan tercela dan perkataan dusta. “Jauhilah olehmu prasangka buruk, karena ia termasuk perkataan yang dusta.” (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).
Meskipun sudah jelas bahwa berprasangka buruk merupakan perbuatan dosa dan berdampak negatif, manusia sulit meninggalkannya. Menurut para pakar psikologi, manusia memiliki “negativity bias”: naluri lebih tertarik dan mengingat pengalaman yang negatif daripada yang positif.
Inilah mengapa berita negatif seperti kriminalitas dan gosip mendominasi berbagai platform media sosial dan media massa utama, bahkan telah menjadi industri. Bad news is good news: berita buruk adalah hal yang bagus. Di Indonesia, ada “industri buzzer” yang menyebarluaskan berita hoaks dan provokasi untuk mengadu domba masyarakat demi keuntungan bisnis dan kepentingan politik kekuasaan. Energi warga terkuras pada hal-hal yang kontraproduktif, saling membenci (mutual hatred), dan saling tidak percaya (mutual distrust).
Menurut Ibrahim Elfiky dalam bukunya Quwwatul Fikr (Terjemah; Terapi Berpikir Positif) perilaku dan kepribadian manusia ditentukan oleh pikiran. Pikiran yang negatif akan membentuk sikap pesimistis dan perilaku negatif serta kepribadian yang buruk. Sebaliknya, pikiran yang positif akan membangkitkan sikap optimistis dan kepribadian utama.
Agar kita hidup tenang, mari bersihkan pikiran dari berita negatif yang meracuni dan mencemari akal sehat. Mari kita gunakan teknologi dan media sosial untuk menyebarluaskan kabar baik, doa, inspirasi, dan informasi yang bermanfaat. Rasulullah SAW memberikan tips agar kita terhindar dari prasangka buruk maka jangan katakan dan ikuti. Buang jauh semua bentuk spam dan junk agar hidup jadi tenang. Lihat orang lain dari sisi positif, ambil hikmat dari setiap peristiwa dan pengalaman hidup.
Ramadan adalah bulan berbagi. Tidak hanya memberi makanan siap saji, tapi juga informasi yang menginspirasi, mendekatkan diri kepada Ilahi. (*)
