Nabi Samuel tidak terlalu popular dalam sejarah kenabian. Dia bukan hanya utusan Allah yang membawa misi agama, tetapi juga seorang pemimpin yang visioner. Betapa tidak, di tengah tuntutan rakyatnya meminta seorang pemimpin (raja) agar membebaskan dari pengusiran dan penindasan, namun Nabi Samuel memverifikasi apakah benar dan tulus keinginan itu. Ketika sudah yakin niat baiknya, maka Nabi Samuel berdoa kepada Allah, dan akhirnya doanya terkabul.
Dia pun mengumumkan nama Thalut sebagai raja. Meskipun diprotes karena tidak memiliki kekayaan yang banyak, namun Nabi Samuel meyakinkan bahkan Thalut memiliki ilmu dan luas-mendalam dan fisik yang kuat. Kepatuhan pada Nabi Samuel, dengan tauhidnya yang kuat, sosok Thalut mampu menampilkan Daud yang nantinya menjadi penentu kemenangan mengalahkan raja Jalut yang pongah dan congkak.
Penunjukan Thalut sebagai Raja
Kekosongan utusan Allah pasca meninggalnya Nabi Musa, dan muridnya, Yusa’ bin Nun, membuat Bani Israil (Yahudi) terus mengalami marginalisasi. Marginalisasi itu disebabkan oleh pelanggaran-pelanggaran orang-orang Yahudi atas ajaran para nabi dan rasul. Bahkan keturunan ini Bani lsrail mengalami pengusiran dan penindasan sehingga membuat mereka menjadi kelompok masyarakat yang sengsara dan terlunta-lunta.
Pada kondisi yang demikian, lahirlah Samuel. Dia lahir dari seorang ibu bernama Hubla. Hubla merupakan keturunan Lawe bin Yakub, yang dalam sejarah senantiasa melahirkan para raja. Samuel tumbuh besar hingga Allah mengangkatnya sebagai nabi. Sebagai nabi yang membimbing umat, Nabi Samuel diminta kaum Yahudi mengangkat seorang raja.
Setelah berdoa dan meminta petunjuk dari Allah, Nabi Samuel mengangkat Thalut sebagai Raja. Hal ini sesuai dengan permintaan orang-orang Yahudi agar diberikan seorang raja yang akan mengembalikan Bani Israil sebagaimana saat dibimbing Nabi Sulaiman.
Thalut yang dipilih sebagai raja merupakan penggembala kambing yang miskin, namun memiliki ilmu yang luas dan keberanian yang luar biasa. Dengan kata lain, terpilihnya Thalut karena keberanian dan kesediaannya menjadi pemimpin, di tengah penolakan orang-orang Yahudi. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
وَ قَا لَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ اِنَّ اللّٰهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَا لُوْتَ مَلِكًا ۗ قَا لُوْۤا اَنّٰى يَكُوْنُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ اَحَقُّ بِا لْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَا لِ ۗ قَا لَ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰٮهُ عَلَيْكُمْ وَزَا دَهُ بَسْطَةً فِيْ الْعِلْمِ وَا لْجِسْمِ ۗ وَا للّٰهُ يُؤْتِيْ مُلْكَهٗ مَنْ يَّشَآءُ ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ
Artinya :
“Dan Nabi mereka berkata kepada mereka, Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi raja atas kamu. Mereka berkata, Bagaimana dia menjadi raja atas kami, padahal kami lebih berhak atas kerajaan itu daripadanya, dan dia tidak diberi kekayaan yang banyak? Nabi mereka berkata, Sesungguhnya Allah telah memilihnya atas kamu, dan Allah telah meluaskan ilmu dan tubuhnya. Dan Allah memberikan kekuasaan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 247)
Kemenangan Kelompok Thalut
Thalut terpilih menjadi raja dan memastikan untuk berperang melawan Jalut dengan tentaranya yang kuat dan banyak. Saat Thalut memimpin perang melawan pasukan Jalut, ada 80 ribu pasukan Yahudi yang siap berperang. Namun, hanya 4 ribu yang lolos dan siap melanjutkan perang setelah lolos ujian dengan tidak minum air laut kecuali beberapa teguk saja.
Setelah melihat pasukan Jalut yang demikian kuat dan perkasa, maka tentara 4 ribu banyak yang mundur karena takut, dan tersisa hanya 314. Namun di antara tentara yang berjumlah kecil itu, terdapat seorang anak kecil yang ingin ikut perang. Dia bernama Daud yang memiliki keahlian berperang, di antara melempar batu.
Dengan kekuasaan Allah, anak muda ini berhasil membunuh Jalut dengan lemparan batunya. Kematian Jalut ini membuat tentaranya takut dan melarikan diri. Atas kemenangan ini, Daud dinikahkan dengan anak putri Thalut dan sebagian kekuasaan, sebagaimana janjinya sebelum perang. Kemenangan tentara Thalut atas Jalut menunjukkan bahwa kelompok kecil bisa mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah, sebagaimana firman-Nya :
كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيْلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيْرَةً ۢ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَا للّٰهُ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya :
“Betapa banyak kelompok kecil dapat mengalahkan kelompok besar dengan izin Allah. Dan Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 249)
Kelompok kecil yang tangguh dan sabar, mereka melewati masa ujian kesabaran yang panjang, sehingga mampu mengalahkan pasukan dengan jumlah banyak. Allah pun mengizinkan kemenangan itu sehingga menjadikan Jalut runtuh begitu mudah.
Kisah Nabi Samuel dan Thalut merupakan contoh kepemimpinan dan keberanian yang patut ditiru. Mereka berkorban untuk negara secara ikhlas, tanpa mengambil keuntungan duniawi. Thalut dan Daud, yang dikenal sebagai orang miskin dan diremehkan. Namun pengetahuan yang luas dan kekuatan fisiknya telah meruntuhkan sosok Jalut yang kuat. Pasukan Jalut yang sangat banyak, tidak mampu mengalahkan pasukan yang jumlahnya sangat kecil. Kedekatan kepada Allah membuat Thalut tegar sehingga Allah menolongnya, dengan mengirim Daud untuk membunuh Jalut.
Surabaya, 28 Desember 2025
