Satu Abad Suara ‘Aisyiyah, Perkuat Literasi Perempuan

Satu Abad Suara ‘Aisyiyah, Haedar Nashir Perkuat Literasi Perempuan
www.majelistabligh.id -

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, memberikan apresiasi mendalam atas capaian milad satu abad (100 tahun) majalah Suara ‘Aisyiyah (SA). Menurutnya, keberhasilan ini merupakan momentum bersejarah sekaligus tonggak penting bagi dunia literasi perempuan persyarikatan.

“Tentu ini hal yang monumental karena tidak banyak majalah yang mampu bertahan selama satu abad lamanya,” ujar Haedar saat menyampaikan amanat dalam perayaan di SM Tower Malioboro, Sabtu (10/10/2026).

Haedar menegaskan bahwa momentum satu abad ini harus dijadikan pilar refleksi dan proyeksi ke depan. Walaupun memiliki captive market yang sangat besar—terdiri dari jutaan anggota, kader, dan pimpinan ‘Aisyiyah—media persyarikatan tetap menghadapi tantangan berupa pseudo-market atau pasar semu.

“Karena itu, momentum milad satu abad ini harus dijadikan pijakan untuk merancang visi pembangunan media yang lebih jauh ke depan, maju, dan profesional,” tegasnya.

Untuk menyongsong masa depan, Haedar mendorong jajaran redaksi dan pimpinan SA agar konsisten menyajikan konten yang substansial, menarik, dan berbobot. Media ini diharapkan mampu menjadi rujukan utama, baik bagi warga internal ‘Aisyiyah dan Muhammadiyah maupun masyarakat luas.

Para redaktur juga dituntut untuk terus memperluas wawasan dan meningkatkan kapasitas diri agar pengelolaan media berjalan makin adaptif dan profesional.

Di era modern, media cetak berhadapan langsung dengan pergeseran gaya hidup digital yang mengandalkan kecepatan dan kemudahan akses. Di tengah persaingan ketat tersebut, Haedar mengingatkan pengelola SA agar tidak terjebak dalam “lingkaran setan” tata kelola media, terutama pada aspek manajemen dan finansial.

Ia menjelaskan, lingkaran setan itu terjadi ketika upaya menjadi media profesional membutuhkan kekuatan finansial besar—seperti untuk pengembangan SDM dan teknologi—tetapi di sisi lain, keterbatasan dana justru membuat media kesulitan untuk menghidupi dirinya sendiri.

“Di situlah tugas pimpinan umum, bukan sekadar pimpinan redaksi, untuk memikirkan arah pengembangan Suara ‘Aisyiyah. Media ini tidak hanya harus mampu menghidupi dirinya sendiri, tetapi juga terus berkembang dan mekar lebih luas lagi,” kata Haedar.

Menutup amanatnya, Haedar mengajak seluruh pengelola merawat niat tulus, etos keunggulan, serta kesabaran dalam menghadapi dinamika media organisasi.

“Di sinilah pimpinan SA dituntut memiliki niat yang sungguh-sungguh, etos kerja, etos kemajuan yang terus dirawat, serta kesabaran. Sabar untuk meraih keberhasilan, sabar menghadapi masalah, hingga sabar ketika menerima kritik,” pungkasnya.

Haedar berharap di usianya yang genap satu abad, Suara ‘Aisyiyah terus menjadi sumber inspirasi dalam menjaga warisan literasi sejarah sebagai bagian dari risalah dakwah rahmatan lil ‘alamin dan misi Islam yang berkemajuan. (*/tim)

 

Tinggalkan Balasan

Search