Satu Kata yang Menghancurkan Hidup

*) Oleh : Sigit Subiantoro
Anggota Majelis Tabligh PDM Kabupaten Kediri
www.majelistabligh.id -

Tentang anak yang mengangkat suara kepada ibunya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَلَا تَقُلْ لَّهُمَاۤ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

“…maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS Al-Isra’ 17: 23)

Dalam tafsir klasik karya Ibnu Katsir dijelaskan bahwa kata “ah” adalah bentuk paling ringan dari rasa kesal. Jika paling ringan saja dilarang, maka membentak atau menyakiti hati orang tua tentu lebih besar dosanya.

Kisah ini disebutkan dalam atsar para salaf dan dijadikan pelajaran oleh para ulama dalam kitab-kitab tentang birrul walidain.

Seorang Pemuda yang Dulu Lembut

Ada seorang pemuda yang dulunya sangat berbakti kepada ibunya. Ia rajin bekerja, menafkahi, dan dikenal santun. Namun setelah ia sukses dan menikah, sikapnya berubah. Ibunya yang sudah tua sering bertanya hal yang sama berulang-ulang. Sering lupa, sering lambat memahami. Suatu hari, ibunya memanggilnya dari dapur:

“Nak….tolong ambilkan air! ”

Ia sedang sibuk dengan urusan dagang.

“Iya Bu, nanti…”

Ibunya memanggil lagi.

“Nak…airnya..”

Nadanya mulai meninggi.

“Iya Bu! Tadi sudah dibilang nanti! Jangan cerewet!”

Awal Kehancuran

Kalimat itu terdengar biasa. Tapi bagi hati seorang ibu, itu seperti pisau. Ibunya terdiam. Air matanya jatuh. Ia tak berkata apa-apa lagi.

Sejak hari itu, hidup pemuda itu berubah perlahan. Usahanya mulai merugi. Teman-temannya menjauh. Rumah tangganya sering ribut. Ia merasa hidupnya sempit, padahal hartanya masih ada.

Dalam kitab-kitab akhlak klasik disebutkan, di antara hukuman tercepat atas dosa adalah durhaka kepada orang tua.

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Dua dosa yang Allah segerakan hukumannya di dunia: kedzaliman dan durhaka kepada orang tua.” (HR Al-Hakim no. 7350)

Pemuda itu tidak sadar, bahwa satu bentakan kecil telah membuka pintu kesempitan hidupnya.

Penyesalan yang terlambat

Suatu malam ia pulang dan mendapati ibunya terbaring lemah. Tubuhnya kurus, nafasnya pendek. Ia duduk di sampingnya.

“Bu…maafkan aku”

Ibunya menatapnya dengan mata yang sudah redup. Dengan suara pelan ibunya berkata:

“Ibu tidak marah, Nak. Ibu hanya sedih. Ibu hanya ingin suaramu selembut dulu.”

Kalimat itu menusuk jantungnya. Ia menangis. Menangis seperti anak kecil. Namun tak lama kemudian, ibunya menghembuskan nafas terakhir.

Kini, ia ingin mendengar panggilan “Nak” sekali lagi. Tapi suara itu telah pergi untuk selamanya.

***

Renungan

Durhaka tidak selalu berupa memukul. Tidak selalu berupa menelantarkan. Kadang hanya nada suara. Kadang hanya raut muka. Kadang hanya helaan nafas kesal. Dan itu cukup membuat langit tidak ridha.

Allah menggandengkan tauhid dengan berbakti kepada orang tua bukan tanpa alasan. Karena hati seorang ibu adalah tempat Allah menitipkan rahmat.

Jangan menunggu sampai kita berdiri di atas tanah kuburnya, baru berkata:

“Maaf ya Bu…”

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Search