Satu Tahun Masjid Ar-Royyan Buduran, Menjadi Rumah Para Musafir

Satu Tahun Masjid Ar-Royyan Buduran, Menjadi Rumah Para Musafir
*) Oleh : Bayu Firdaus
Arroyyan Youth Squad Buduran
www.majelistabligh.id -

Di tengah deru kendaraan dan lalu lalang truk industri di kawasan Jalan Lingkar Timur Jalan Siwalanpanji Sidoarjo, berdiri sebuah masjid yang pelan-pelan mengubah cara orang memandang rumah ibadah. Namanya Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran yang beroperasi sejak 1 Ramadan 1446 H. Tepat sejak satu tahun masjid yang dikelola Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Buduran itu beroperasi.

Masjid ini tak dikelilingi perumahan padat. Tidak pula berada di tengah kampung dengan jamaah tetap yang melimpah. Ia berdiri di kawasan industri dan pergudangan, agak jauh dari pemukiman warga. Secara logika, sulit membayangkan masjid ini hidup dengan denyut jamaah yang stabil.

Namun justru dari tempat yang “sepi jamaah tetap” itulah lahir satu gagasan besar: menjadi masjid ramah musafir.

Rumah bagi Siapa Saja

Dalam satu tahun terakhir, publik mulai mengenal Masjid Ar-Royyan dengan sebutan masjid ramah musafir. Sejak Agustus 2025 lalu, tercatat 119 musafir telah singgah dan menginap di masjid ini.

Sebagian besar datang karena sedang dalam perjalanan dan melewati Sidoarjo. Ada rombongan bikers dari luar kota yang hendak menghadiri acara di Sidoarjo. Alih-alih menginap di penginapan, mereka memilih singgah di Masjid Ar-Royyan untuk beristirahat sekaligus menunaikan salat wajib.

Namun tidak sedikit pula yang datang dengan alasan berbeda. Ada “tamu” yang sengaja singgah untuk menenangkan diri, mencari tempat mengadu di tengah persoalan hidup yang sedang dihadapi. Mereka mengaku merasa nyaman berada di rumah Allah, sembari menjaga agar salat tetap dapat ditunaikan tepat waktu.

Konsep ramah musafir ini bukan sekadar menyediakan ruang singgah. Bagi pengurusnya, masjid harus menjadi rumah bersama—tempat yang menghadirkan rasa aman, diterima, dan dilayani dengan baik.

Fasilitas Terbuka, Pelayanan Tanpa Sekat

Siapa pun diperbolehkan masuk dan menikmati fasilitas yang tersedia. Masjid menyediakan wifi tanpa kata sandi, tempat istirahat lengkap dengan kasur, serta fasilitas kamar mandi yang terbuka untuk umum. Di luar bulan puasa disiapkan makan siang gratis, sedangkan pada bulan Ramadan tersedia takjil dan buka bersama. Air mineral, teh, dan kopi pun dapat dinikmati secara bebas.

Prinsipnya sederhana: masjid adalah rumah bersama yang memberi kenyamanan bagi setiap orang, tanpa memandang latar belakang dan tanpa banyak pertanyaan.

Konsep ini menjadi jawaban atas kebutuhan para musafir yang sering kali kesulitan mencari tempat singgah yang aman dan nyaman. Di tengah perjalanan jauh, kehadiran masjid yang terbuka 24 jam dengan pelayanan ramah menjadi oase spiritual sekaligus tempat beristirahat.

Menurut Ketua Takmir Masjid Ar Royyan Muhammadiyah Buduran, Ustadz Ridwan Manan, masjid ini tidak hanya fokus pada pelayanan musafir, tetapi juga pada penguatan dakwah berbasis teknologi.

“Oleh karena itu, kami ingin masjid ini menjadi pusat dakwah yang adaptif dengan perkembangan zaman dan dikelola dengan manajemen masjid modern. Alhamdulillah, sudah ada beberapa kota dan kabupaten di Jawa Timur yang belajar ke sini,” ujar Ridwan yang juga sebagai kepala SMA Pondok Pesantren Al Fattah Buduran.

Ia menjelaskan bahwa pengurus tidak hanya mengembangkan dakwah digital secara internal, tetapi juga membina beberapa masjid di Sidoarjo dan Surabaya dalam bidang dakwah digital.

Ia mengatakan, tidak hanya unggul dalam dakwah digital, Masjid Ar-Royyan juga dikenal dengan konsep masjid ramah musafir.

Konsep ini menjadikan masjid bukan sekadar tempat ibadah ritual, tetapi pusat pelayanan umat yang responsif terhadap kebutuhan zaman—baik kebutuhan spiritual, sosial, maupun digital.

Pusat Pemberdayaan dan Gerakan Sosial

Dari sisi sosial, peran masjid juga dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar. Program bakti sosial sembako, beasiswa yatim, kafe gratis, pembagian sayur gratis, hingga program Jumat Berkah menjadi bagian dari gerakan pemberdayaan umat yang berkelanjutan.

Harapan untuk menjadikan masjid sebagai pusat peradaban, perekat ukhuwah, dan pemberdayaan UMKM perlahan mulai terwujud. Setiap pelaksanaan salat Jumat, jamaah membludak hingga area parkir tidak mampu menampung kendaraan. Begitu pula saat kajian rutin digelar, antusiasme jamaah terus meningkat.

Masjid ini kini berkembang sebagai pusat dakwah yang memberdayakan anak muda sebagai subjek dakwah. Energi generasi muda dipadukan dengan manajemen modern dan semangat pelayanan.

Masjid Ar-Royyan membuktikan bahwa lokasi di kawasan industri bukan penghalang untuk hidup dan berkembang. Justru dari ruang yang tak biasa, lahir gerakan yang menghidupkan makna masjid sebagai rumah bagi musafir, tempat singgah bagi yang lelah, dan pusat perubahan yang mencerahkan.

Sudah menjadi tekad kami, masjid ini terus menjadi ruang terbuka bagi siapa saja—tempat ibadah yang tidak hanya didatangi, tetapi juga dirindukan. (*)

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Search