Di tengah sorotan tajam publik terhadap kasus keracunan massal dalam program Makanan Bergizi Gratis (MBG), SD Muhammadiyah 1 Ketelan, Solo, Jawa Tengah menjadi perhatian nasional. Pasalnya, sekolah ini justru berhasil membuktikan diri sebagai pelopor penyajian makanan sehat bergizi yang aman, tanpa insiden keracunan dalam pelayanan makanan bergizi sehat untuk 600 lebih siswanya.
Wali Kota Solo, Respati Ardi, mengapresiasi dan memberikan dukungan penuh terhadap keberhasilan dapur sehat di SD Muhammadiyah 1 Ketelan.
Kepada media, Wali Kota memastikan bahwa program tersebut tidak akan digantikan MBG, bahkan akan dijadikan percontohan nasional.
“Tidak ada yang ganti (MBG). Justru itu akan kita jadikan percontohan karena terbukti berhasil,” ujar Respati, seperti dikutip dari Kompas (29/9/2025).
Respati menjelaskan bahwa program dapur sehat ini sejalan dengan kebijakan Pemkot Solo dalam upaya menekan angka stunting. Pemkot juga telah menggandeng ibu-ibu PKK untuk program serupa di tingkat kampung.
“Dapur sehat itu sebenarnya sudah menjadi bagian dari program zero stunting. Kami langsung intervensi ke penerima dengan mengoptimalkan peran ibu-ibu PKK di masyarakat,” jelasnya.
10 Tahun kelola Dalur Sehat
Praktik dapur sehat di sekolah tersebut telah berjalan sejak 2015. Setiap hari, lebih dari 600 siswa mendapat asupan makan siang bergizi yang dimasak langsung di dapur sekolah.
Para juru masak mulai bekerja sejak pukul 06.00 WIB, menyiapkan bahan segar, dan menyajikan makanan pada pukul 11.30 WIB. Dengan skema ini, siswa mendapatkan kepastian gizi seimbang sekaligus keamanan pangan yang terjaga.
Keberhasilan SD Muhammadiyah 1 Ketelan ini membuat orangtua siswa semakin yakin untuk mempercayakan gizi anak-anak mereka kepada pihak sekolah. Salah satunya, Cici Wiyarsih (45), orangtua siswa yang menyampaikan bahwa dapur sehat sekolah telah teruji dan terbukti aman.
“Kami orangtua sangat ketakutan dengan kasus keracunan MBG di daerah lain. Tapi kami percaya pada dapur sehat SD Muhammadiyah 1 Ketelan karena sudah berjalan lama dan tidak pernah ada masalah,” ujarnya.
Cici menambahkan, orangtua siswa sangat menghargai program MBG pemerintah karena memberikan hak gizi bagi anak. Namun, mereka berharap sekolah diberi kewenangan untuk mengelola sendiri agar keamanan pangan lebih terjamin.
“Kami ingin dapur sehat sekolah ini tetap dipertahankan. Kami berharap pemerintah bisa memberi kebijakan agar SD Muhammadiyah 1 Ketelan tetap mengelola makanan anak-anak,” tegasnya.
Keberhasilan SD Muhammadiyah 1 Ketelan bahkan telah diakui secara nasional. Sekolah ini dua kali meraih predikat Kantin Sehat Nasional, sebuah penghargaan bergengsi yang menandakan standar kebersihan, kualitas pangan, dan pengelolaan yang baik.
Capaian ini menegaskan bahwa model dapur sehat berbasis sekolah bisa menjadi solusi nyata untuk program makan bergizi, tanpa harus mengorbankan keamanan siswa. Dengan situasi MBG yang kini tengah menuai kritik akibat gelombang keracunan di berbagai daerah, SD Muhammadiyah 1 Ketelan hadir sebagai contoh praktik baik.
Sekolah ini membuktikan bahwa kolaborasi sekolah, orangtua, dan pemerintah daerah dapat melahirkan sistem makan bergizi yang aman, terukur, dan berkelanjutan. Tidak hanya memenuhi gizi siswa, tetapi juga memberikan ketenangan bagi orangtua dan menjadi model nasional dalam pengelolaan pangan sehat di sekolah.
Berdasarkan Data dari sumber terpercaya, yang dirilis Badan Gizi Nasional (BGN) mengungkap, sebanyak 6.457 orang terdampak keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) per 30 September 2025.
BGN membagi 6.457 korban keracunan MBG itu ke dalam tiga wilayah, yakni Wilayah I yang mencakup Pulau Sumatera, Wilayah II di Pulau Jawa, dan Wilayah III mencakup wilayah Indonesia timur Indonesia. (m. roissudin)
