Sebelum Sia-Sia Ibadah Siyammu

Sebelum Sia-Sia Ibadah Siyammu
*) Oleh : M. Mahmud
Ketua PRM Kandangsemangkon Paciran Lamongan Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

Siyam bukan sekedar menahan lapar dan dahaga, melainkan latihan menyadari siapa diri kita sebenarnya. Ia adalah jeda yang sengaja diciptakan, agar manusia tidak terus menerus tenggelam dalam arus keinginan.

Dalam diamnya perut yang kosong, kita belajar bahwa tidak semua yang bisa dimiliki harus dimiliki. Bahwa keinginan bukanlah raja, dan diri bukanlah budak dari nafsu. Siyam mengajarkan jarak, jarak antara dorongan dan keputusan, antara hasrat dan hikmah.

Secara hakikat, siyam adalah perjalanan pulang. Pulang dari kebisingan dunia menuju sunyi batin. Ketika tubuh dilemahkan justru jiwa dikuatkan. Ketika dunia terasa ditahan, kesadaran diperluas. Kita mulai menyadari bahwa hidup bukan hanya soal memenuhi, tetapi juga memahami.

Siyam adalah dialog rahasia antara hamba dan Tuhannya. Tidak semua oranng tahu apakah kita benar-benar menahan diri atau tidak. Di situlah kejujuran diuji – bukan dihadapan manusia, tetapi dihadapan nurani dan Yang Maha Melihat.

Dalam laku siyam, kita dilatih untuk merasakan. Merasakan lapar agar tumbuh empati. Merasakan haus agar tumbuh syukur. Merasakan batas agar tumbuh kebijaksanaan. Sebab manusia yang tidak pernah merasa kekurangan, sering kali lupa arti cukup.

Hakikat bersiyam adalah membebaskan diri dari penjajahan ego. Ia bukan meniadakan dunia, tetapi menempatkan dunia pada tempatnya. Bukan tentag menyiksa raga, melainkan menyucikan makna.

Dan pada akhirnya, siyam mengajarkan satu kebenaran sunyi: bahwa kekuatan terbesar manusia bukan terletak pada apa yang ia miliki, melainkan pada apa yang mampu ia kendalikan.

Sebelum sia-sia ibadah siyammu sebuah peringatan lembut agar siyam tidak berhenti hanya pada menahan lapar dan dahaga, tetapi benar-benar menjadi ibadah yang bernilai. Dalam tradisi Qur’ani dan hadis, siyam bukan sekadar ritual fisik, melainkan latihan spiritual yang melibatkan:

* Menjaga lisan dan hati: Tidak mengucapkan kata-kata sia-sia, tidak menyakiti orang lain, dan menjaga pikiran dari prasangka buruk.

* Menguatkan kontrol diri: Siyam melatih kesabaran, menahan amarah, dan mengendalikan hawa nafsu.

* Meningkatkan empati sosial: Merasakan lapar membuat kita lebih peduli terhadap orang miskin dan mendorong berbagi.

* Menghidupkan ibadah batin: Dzikir, doa, tilawah Qur’an, dan refleksi diri agar siyam menjadi jalan mendekat kepada Allah.

Dengan kata lain, ibadah siyam bisa sia-sia bila hanya menjadi rutinitas fisik tanpa menghadirkan nilai spiritual dan akhlak. Justru inti siyam adalah menjadikan kita lebih bertaqwa – seperti yang ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah:183.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Syam tidak berhenti pada bentuk lahiriah, tetapi benar-benar mejadi jalan menuju taqwa:

1. Dimensi Lahiriah
• Menahan lapar dan dahaga adalah syarat minimal.
* Namun, Rasulullah ﷺ mengingatkan: “Banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.”
* Artinya, jika puasa hanya sebatas fisik, ia bisa sia-sia.

2. Dimensi Akhlak
* Puasa adalah madrasah akhlak: menjaga lisan dari ghibah, menjaga hati dari iri, menjaga tangan dari menyakiti.
* Kesia-siaan muncul bila seseorang berpuasa tetapi tetap berbuat zalim, berkata kasar, atau menipu.
* QS. Al-Hujurat:11–12 menegaskan pentingnya menjaga kehormatan orang lain, yang sangat relevan dalam konteks siyam.

3. Dimensi Sosial
* Siyam melatih empati: merasakan lapar agar peduli pada fakir miskin.
* Jika siyam tidak melahirkan kepedulian sosial, maka ia kehilangan ruhnya.
* Sedekah, berbagi makanan, dan memperkuat ukhuwah adalah buah nyata dari siyam yang tidak sia-sia.

4. Dimensi Spiritual
* Siyam adalah jalan menuju takwa (QS. Al-Baqarah:183).
* Dzikir, doa, tilawah, dan refleksi diri adalah inti yang menghidupkan siyam
* Tanpa dimensi ini, siyam bisa menjadi rutinitas kosong.

 

Tinggalkan Balasan

Search