“Sebujur Bangkai” adalah lagu legendaris Rhoma Irama yang menggugah kesadaran akan kefanaan hidup dan kesia-siaan mengejar dunia.
Lagu ini bukan sekadar hiburan, tetapi sebuah renungan mendalam tentang makna hidup, kematian, dan nilai-nilai abadi. Berikut syairnya:
Badan pun tak berharga
Sesaat ditinggal nyawa
Anak-istri tercinta
Tak sudi lagi bersama
Secepatnya jasad dipendam
Secepatnya jasad dipendam
Kar’na tak lagi dibutuhkan
Diri yang semula dipuja
Kini bangkai tak berguna, oh
Dari kamar yang indah
Kasur empuk, tilam putih
Kini harus berpindah
Terkubur dalam perut bumi
Kalau selama ini diri berhiaskan
Emas, intan permata bermandi cahaya
Tetapi kali ini di dalam kuburan
Gelap pekat mencekam tanpa seorang teman
Terputuslah pergaulan
Terbujurlah sendirian
Diri terbungkus kain kafan
Wajah dan tubuh indah
Yang dulu dipuja-puja
Kini tiada lagi
Orang sudi menyentuhnya
Jadi santapan cacing tanah
Jadi santapan cacing tanah
Sampai yang tersisa kerangka
Begitulah suratan badan
Ke bumi dikembalikan
Kebanyakan manusia
Terlena sehingga lupa
Bahwa maut ‘kan datang
Menjelang
Berikut inti pesannya:
Makna Lagu “Sebujur Bangkai”
* Tema utama: Kematian dan kefanaan dunia. Lagu ini menggambarkan bagaimana tubuh manusia yang dulu dipuja, setelah mati hanya menjadi bangkai yang segera dikubur dan dilupakan.
* Kritik sosial: Rhoma Irama menyindir keras gaya hidup yang mengejar harta, jabatan, dan kemewahan, namun melupakan bekal akhirat.
* Nada spiritual: Liriknya mengajak pendengar untuk merenung dan kembali kepada nilai-nilai ketuhanan, menekankan bahwa hanya amal yang akan menemani setelah mati.
Lirik ini menyentuh dan menyadarkan bahwa cinta duniawi pun akan meninggalkan kita saat ajal tiba.
Banyak ayat yang menggambarkan kondisi manusia setelah mati dan mengingatkan akan kefanaan dunia. Berikut beberapa ayat yang relevan:
1. QS. Yasin (36): 78–79
وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَّنَسِيَ خَلْقَهٗۗ قَالَ مَنْ يُّحْيِ الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيْمٌ قُلْ يُحْيِيْهَا الَّذِيْٓ اَنْشَاَهَآ اَوَّلَ مَرَّةٍ ۗوَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيْمٌ ۙ
Artinya: Dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan asal penciptaannya. Dia berkata, “Siapakah yang bisa menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur luluh?”
Katakanlah (Nabi Muhammad), “Yang akan menghidupkannya adalah Zat yang menciptakannya pertama kali. Dia Maha Mengetahui setiap makhluk.
Makna: Ayat ini menegaskan bahwa tubuh manusia yang telah menjadi tulang belulang pun akan dibangkitkan kembali oleh Allah. Ini mengingatkan bahwa jasad yang menjadi bangkai bukan akhir dari segalanya.
QS. Al-Mu’minun (23): 15–16
ثُمَّ اِنَّكُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ لَمَيِّتُوْنَ ۗ ثُمَّ اِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ تُبْعَثُوْنَ
Artinya: Kemudian, sesungguhnya kamu setelah itu benar-benar akan mati.
Kemudian, sesungguhnya kamu pada hari Kiamat akan dibangkitkan.
Makna: Kematian adalah keniscayaan, dan jasad yang dikubur akan dibangkitkan kembali untuk mempertanggungjawabkan amal.
QS. Al-Hajj (22): 7
وَّاَنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيْهَاۙ وَاَنَّ اللّٰهَ يَبْعَثُ مَنْ فِى الْقُبُوْرِ
Artinya: Sesungguhnya kiamat itu pasti datang, tidak ada keraguan padanya dan sesungguhnya Allah akan membangkitkan siapa pun yang di dalam kubur.
Makna: Jasad yang telah menjadi bangkai di dalam kubur akan dibangkitkan kembali oleh Allah.
Refleksi Spiritual:
Metafora “sebujur bangkai” mengandung pesan mendalam:
* Tubuh yang dulu dipuja akan hancur dan dilupakan.
* Harta, jabatan, dan pujian dunia tidak akan menemani ke alam kubur.
* Hanya amal dan iman yang akan menjadi bekal abadi. (*)
