Sedekah Tanpa Sadar: Pahala untuk Orang yang Kita Benci

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
www.majelistabligh.id -

Ada manusia, yang ketika diminta berbagi harta, langsung mengatupkan tangan rapat-rapat. Katanya, belum cukup. Katanya, sedang susah. Katanya, bukan prioritas.

Namun anehnya, ketika ada orang yang ia benci, tanpa sadar, ia justru begitu dermawan.

Bukan dalam bentuk uang. Bukan dalam bentuk barang. Tapi dalam bentuk yang tak kasat mata—yang jauh lebih berharga yaitu pahala.

Itulah hakikat ghibah. Perbuatan yang sering dianggap ringan, tapi diam-diam menguras tabungan akhirat.

Kau duduk di satu majelis, menggunjing si fulan. Kau membicarakan aibnya, mencela di belakangnya, mempreteli martabatnya dengan kalimat-kalimat yang mungkin bahkan belum tentu benar.

Dan saat itu terjadi, kamu sedang menyerahkan sesuatu yang sangat berharga, yaitu amalmu sendiri.

Betapa mengerikannya.

Pahala salatmu, puasa, sedekah, zikir, semua itu mungkin berpindah tangan.

Bukan kepada orang yang kau cintai. Tapi justru kepada orang yang tak kau sukai. Ironi yang menyesakkan.

Pernah suatu ketika, ada seseorang mengadu bahwa dirinya dibicarakan orang lain. Dan lihatlah apa yang dikatakan oleh seorang ulama besar, Fudhail bin Iyadh rahimahullah:

“قد جلب لك الخير جلبًا”

“Sungguh, dia telah menarikkan kebaikan untukmu, dengan paksa.”

Ya. Orang itu sedang memberimu hadiah. Bukan dalam bentuk bingkisan. Tapi berupa transfer pahala yang tak bisa kau tolak. Mau dia ikhlas atau tidak, amalnya kini jadi milikmu.

Tapi jangan senang dulu.

Karena bila kita membalik posisi, bisa jadi, kitalah yang sedang “berderma pahala” tanpa sadar. Kita lah yang sedang membuat “orang itu” tersenyum di hari penghisaban kelak, karena kita dengan ringan hati memberinya sebagian besar amal baik kita.

Lalu untuk apa kita mengisi hati dengan dendam, jika akhirnya kita justru menghadiahi pahala untuk orang yang kita benci?

Untuk apa lidah ini sibuk merangkai ghibah, jika akhirnya kita justru rugi di hari di mana semua akan diperhitungkan?

Maka, wahai jiwa. Belajarlah menahan. Jangan sampai apa yang selama ini kau kumpulkan dalam letih dan tangis—justru berpindah ke tangan yang tak pantas.

Karena dalam ghibah, yang tersenyum mungkin bukan kau. Tapi orang yang namanya kau cela. (*)

Tinggalkan Balasan

Search