*) Oleh: Dr. Ajang Kusmana
Apa pun yang terjadi di permukaan bumi ini adalah atas kehendak Allah Azza wa Jalla. Tidak ada apapun dan sesuatupun yang terjadi, keluar dari kehendak Allah.
Apa-apa yang Allah Azza wa Jalla kehendaki terjadi, pasti terjadi. Sebaliknya, apa-apa yang Allah Azza wa Jalla tidak kehendaki, tidak akan terjadi.
Maka segala apapun yang terjadi di alam semesta ini, kepada manusia, malaikat, jin, dan terhadap semesta, semuanya berjalan atas kehendak Allah Azza wa Jalla.
Jika Allah menolong seseorang, tak ada satu pun yang dapat mengalahkannya.
Itulah prinsip akidah seorang Mukmin.
Ia selalu menyandarkan segala sesuatunya hanya kepada Allah Azza wa Jalla. Menyandarkan kepada makhluk akan rapuh adanya. Meminta kepada manusia bisa kecewa, berharap berlebihan kepada seseorang bisa stress.
Lisan boleh saja meminta tolong secara manusiawi, sebagai makhluk sosial, dengan sesama. Namun hati tetap harus terhubung kepada Allah Azza wa Jalla.
Sebab, yang kita minta tolong juga makhluk yang tak punya apa-apa kecuali atas pemberian Allah Azza wa Jalla.
Maka, jika kita sudah berusaha maksimal, bekerja sungguh-sungguh, all out sampai detik terakhir, sampai injury time.
Maka, di sinilah letak kepasrahan dan ketawakkalan seorang hamba yang tak berdaya. Segala sesuatu yang di luar jangkauan manusia, maka tiada lain hanya kepada Allah Azza wa Jalla jualah kita bermunajat mohon pertolongan-Nya, kekuasaan-Nya, mukjizat-Nya, dan kasih sayang-Nya.
إِن يَنصُرۡكُمُ ٱللَّهُ فَلَا غَالِبَ لَكُمۡۖ وَإِن يَخۡذُلۡكُمۡ فَمَن ذَا ٱلَّذِى يَنصُرُكُم مِّنۢ بَعۡدِهِۦۗ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلۡيَتَوَكَّلِ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ
“Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu, dan jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu selain dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.” (QS. Ali Imran:160)
Sebagaimana juga disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu anhu,
وَاعْلَمْ أَنَّ اْلأُمَّةَ لَوْ اجْتَمَعَوا عَلَى أَنْ يَنْفَعُوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ اْلأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفِ
“Ketahuilah sesungguhnya jika seluruh umat berkumpul untuk mendatangkan manfaat kepadamu atas sesuatu, mereka tidak akan dapat memberikan manfaat sedikitpun kecuali apa yang telah Allah tetapkan bagimu, dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu atas sesuatu, niscaya mereka tidak akan mencelakakanmu kecuali kecelakaan yang telah Allah tetapkan bagimu. Pena telah diangkat dan lembaran telah kering.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi)
Allah Ta’ala tidak mungkin menzalimi makhluk-Nya. Walaupun bisa saja mungkin membuat kita atau suatu masyarakat kecewa.
Karena itu memandangnya dari sudut manusia yang lemah, tak berdaya, dan tak tahu apa-apa tentang masa depan. Bukan dari sudut pandang kehendak Allah Azza wa Jalla.
Semuanya itu berjalan benar-benar sesuai ketentuan Allah Azza wa Jalla, maka hanya milik Allah Azza wa Jalla hikmah dalam semua urusan.
Kita hanya dapat bermunajat dalam penuh kerendahan, “Laa haula walaa quwwata illaa bilaahil ‘aliyyil ‘adzim”. (Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung).
Dalam ayat lain, disebutkan, semuanya sudah tercatat di Lauhul Mahfudz. Dan ini hanya Allah yang Maha Tahu.
Karena ini domain Allah Azza wa Jalla. Domain kita akan mengetahui setelah terjadi,
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لاَيَعْلَمُهَآ إِلاَّ هُوَ وَيَعْلَمُ مَافِي الْبَرِّوَالْبَحْرِ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ يَعْلَمُهَا وَلاَحَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ اْلأَرْضِ وَلاَرَطْبٍ وَلاَيَابِسٍ إِلاَّ فِي كِتَابٍ مًّبِينٍ
“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya pula, dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz).” (QS. Al An’am: 59)
Ini akan membuat kita tunduk, patuh dan merendahkan diri serendah-rendahnya di hadapan Sang Maha Pencipta.
Dengan cara ruku dan sujud, berzikir dan bertaubat, bertasbih, bertahmid, bertakbir, dan bertahlil, karena Allah Azza wa Jalla.
Kemenangan itu sekali lagi bukan karena kekuatan kita, usaha kita, harta kita, orang-orang kita. Sekali lagi, semua karena Allah Azza wa Jallla. Tinggal kita perkuat dengan doa:
حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَڪِيلُ
“Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali Imran: 173).
نِعۡمَ ٱلۡمَوۡلَىٰ وَنِعۡمَ ٱلنَّصِيرُ
“Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.” (QS. Al-Anfal: 40)
Pada ayat lain juga disebutkan:
حَسۡبِىَ ٱللَّهُ لَآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَۖ عَلَيۡهِ تَوَڪَّلۡتُۖ وَهُوَ رَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ
“Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ’Arsy yang Agung.” (QS. At-Taubah: 129)
Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News
