Selamat Jalan Pak Manajer: Mengenang Hangatnya Sosok Ust. Muhammad Mirdasy

Selamat Jalan, Pak Manajer: Mengenang Hangatnya Sosok Ust. Muhammad Mirdasy
*) Oleh : Abdul Wahab
Media Officer (MO) Hizbul Wathan Football Club tahun 2021
www.majelistabligh.id -

Innalillahi wa innaa ilaihi raaji’un. Kabar itu datang begitu tiba-tiba. Singkat, sederhana, namun terasa berat saat dibaca. Ucapan duka cita di grup Majelis Tabligh PW Muhammadiyah Jawa Timur pagi itu membuat penulis terdiam beberapa saat.

Nama yang tertulis di sana terasa begitu akrab: Ustaz Muhammad Mirdasy, S.IP, Ketua LHKP PWM Jawa Timur periode 2022–2027, telah berpulang.

Rasa kaget sulit disembunyikan. Sebab, belum lama berselang—di penghujung Ramadan—penulis masih sempat bertemu dan berbincang dengannya di sela buka bersama. Obrolan ringan tentang rencana kerja sama yang kala itu belum menemukan titik temu.

Tidak ada firasat apa pun. Tidak ada tanda perpisahan.

Penulis memang tidak terlalu dekat secara personal dengan sosok yang akrab disapa Mas Mirdasy. Namun sebagai jurnalis di RRI Surabaya, almarhum beberapa kali menjadi narasumber.

Sosoknya dikenal komunikatif, lugas, dan selalu terbuka berdiskusi.
Kedekatan justru terjalin lebih intens pada tahun 2021, saat penulis diminta membantu manajemen Hizbul Wathan Football Club (HWFC) sebagai Media Official ketika tim berlaga di Liga 2 di Stadion Manahan, Solo. Masa itu adalah masa pandemi—periode penuh keterbatasan, tetapi justru menjadi ruang tumbuhnya persahabatan.

Setidaknya setiap pekan, pertemuan hampir tak pernah absen. Persiapan pertandingan, evaluasi tim, hingga urusan kecil di balik layar menjadi rutinitas bersama.

Dari situlah penulis melihat sisi lain almarhum: hangat, humoris, dan penuh perhatian.

Salah satu kenangan yang masih teringat jelas adalah keluh kesahnya soal tes swab yang berulang kali harus dijalani.

“Bolak-balik swab, iso-iso irungku tambah gede,” selorohnya sambil tertawa.

Candaan sederhana itu selalu berhasil mencairkan suasana tegang di tengah ketatnya protokol kesehatan saat itu.

Sebagai Manajer HWFC yang berduet dengan Presiden Klub Suli Daim, almarhum dikenal sangat dekat dengan para pemain. Ia bukan hanya pemimpin administratif, tetapi juga sosok pengayom.

Demi kesejahteraan pemain dan tim manajemen, ia tak segan berdebat keras, memperjuangkan tanggung jawab persyarikatan maupun sponsor agar keberlangsungan tim tetap terjaga.

Baginya, HWFC bukan sekadar klub sepak bola. Ia melihatnya sebagai media dakwah kultural Muhammadiyah melalui olahraga—ruang pembinaan karakter sekaligus syiar nilai-nilai Islam.

Di balik sikapnya yang tegas, almarhum memiliki cara komunikasi yang santun. Saat sesi pra maupun pascakonferensi pers, ia kerap mengingatkan penulis soal kebutuhan publikasi tim. Tidak pernah terdengar seperti perintah, melainkan ajakan kerja bersama.

Namun di ruang ganti, sosoknya berubah menjadi penuh energi. Dengan suara khas yang meledak-ledak, ia membakar semangat para pemain agar berjuang demi kemenangan dan kebanggaan para pendukung. Gayanya yang ekspresif bahkan beberapa kali membuat wasit harus memberi peringatan dari pinggir lapangan.

Ketika HWFC gagal bertahan di Liga 2, semangatnya justru tidak surut. Ia mengajak seluruh tim pendukung untuk tetap berjuang, mencari celah agar klub tetap bisa bertahan. Optimisme itu menular, membuat banyak orang tetap percaya meski situasi tidak mudah.

Setelah HWFC akhirnya dibubarkan, komunikasi sempat terputus cukup lama. Hingga suatu hari, pesan WhatsApp darinya datang secara pribadi. Sebuah undangan resepsi pernikahan anaknya, Mas Ubay—yang juga pernah menjadi bagian dari perjalanan HWFC.

Undangan itu terasa sederhana, tetapi menunjukkan satu hal: almarhum tidak pernah melupakan orang-orang yang pernah berjalan bersamanya.

Kini, kabar kepergiannya meninggalkan ruang hening dan kenangan yang hangat.

Selamat jalan, Pak Manajer HWFC.
Penulis bersaksi, sampean adalah orang baik—seseorang yang selalu siap menolong, bahkan kepada mereka yang tidak dekat sejak awal dan bukan pula kader yang pernah sampean didik secara langsung.

Semoga Allah menerima seluruh amal ibadah, mengampuni segala khilaf, dan memuliakan tempat terbaik di sisi-Nya.

Husnul khatimah. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

 

Tinggalkan Balasan

Search