Semangkuk Kuah dan Makna Keamanan Sosial Membaca Pesan Prof. Abdul Mu’ti

Semangkuk Kuah dan Makna Keamanan Sosial Membaca Pesan Prof. Abdul Mu'ti
*) Oleh : Haidir Fitra Siagian
Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar & Wakil Ketua LP2M PWM Sulsel
www.majelistabligh.id -

Dalam kegiatan Syawalan keluarga besar Muhammadiyah Sulawesi Selatan yang berlangsung pada 28 Maret 2026 di Makassar, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Abdul Mu’ti menyampaikan sebuah ungkapan yang sederhana namun sarat makna: “Pagar mangkok lebih kuat daripada pagar tembok.” Kalimat ini bisa jadi terdengar bagaikan peribahasa biasa, tetapi sesungguhnya mengandung pesan sosial yang sangat dalam.

Prof Mu’ti yang juga menjabat sebagai Menteri Pendidikan Nasional RI ini mengajak kita untuk merenungkan kembali bagaimana hubungan antar manusia justru menjadi sumber keamanan dan ketenangan yang sejati, melampaui sekadar perlindungan fisik.

Jika kita amati kehidupan masyarakat saat ini, terutama di kawasan perkotaan, kita sering menjumpai rumah-rumah dengan pagar tembok yang tinggi, tertutup rapat, bahkan dilengkapi sistem keamanan seperti satpam dan anjing penjaga. Dari sisi tertentu, hal ini tentu dapat dipahami sebagai bentuk perlindungan diri di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap gangguan yang tidak diinginkan.

Setiap pribadi sememangnya memiliki hak untuk menjaga keamanan dan privasinya. Namun, fenomena ini juga mencerminkan adanya perubahan dalam pola hubungan sosial. Tanpa disadari, rumah tidak lagi sekadar tempat tinggal kelaurga, tetapi menjadi ruang yang cenderung terisolasi dari lingkungan sekitar.

Akibatnya, interaksi antar tetangga menjadi semakin terbatas. Dalam beberapa kasus, seseorang bahkan tidak mengenal siapa yang tinggal di sebelah rumahnya sendiri. Pagar tembok yang tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pembatas fisik, tetapi juga secara simbolik menciptakan jarak sosial yang semakin lebar. Dalam konteks ini, kedekatan geografis tidak lagi menjamin adanya kedekatan emosional maupun sosial.

Pengalaman pribadi penulis beberapa tahun lalu dapat menjadi ilustrasi nyata. Saat hendak melayat ke rumah duka di pusat kota, penulis melihat seorang pria yang sedang mengeluarkan mobil dari garasinya, tepat di samping rumah yang sedang berduka. Mobil mewah dengan kacanya hitam. Ketika ditanya, penulis menjelaskan bahwa ada tetangganya yang meninggal dunia. Namun, pria tersebut justru tampak tidak mengetahui siapa yang dimaksud, meskipun rumahnya bersebelahan.

Sambil menaikkan kaca pintu mobilnya, ia kemudian pergi tanpa kepastian apakah akan melayat atau tidak. Mungkin saja dia pergi dulu bekerja sebentar, lalu kembali lagi melayat. Atau dia menelepon istri atau anaknya untuk mewakili dia pergi melayat. Saya tidak tahu. Akan tetapi, peristiwa ini mungkin tampak sederhana, tetapi sesungguhnya mencerminkan renggangnya hubungan sosial di tengah masyarakat modern.

Dalam konteks inilah, ungkapan “pagar mangkok lebih kuat daripada pagar tembok” menemukan relevansinya. “Pagar mangkok” menjadi simbol dari hubungan sosial yang hangat, yang dibangun melalui kepedulian, perhatian, dan kebersamaan. Tradisi berbagi makanan kepada tetangga, baik dalam suasana suka maupun duka, merupakan salah satu bentuk nyata dari nilai tersebut. Praktik ini telah lama menjadi bagian dari budaya bangsa Indonesia sebagai wujud gotong royong dan solidaritas sosial.

Nilai-nilai ini sejalan dengan prinsip dalam Pancasila. Sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab, menekankan pentingnya empati dan kepedulian terhadap sesama. Sila ketiga, Persatuan Indonesia, mengingatkan kita untuk menjaga kebersamaan di tengah perbedaan. Sementara sila kelima, Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, juga mencakup keadilan dalam relasi sosial, di mana setiap individu merasa dihargai dan tidak terasing dalam lingkungannya.

Dalam perspektif agama, khususnya Islam, nilai ini diperkuat oleh ajaran Nabi Muhammad yang menekankan pentingnya menjaga hubungan baik dengan tetangga. Dalam hadis riwayat Sahih Muslim, Rasulullah Saw. bersabda:

“Wahai Abu Dzar, apabila engkau memasak makanan berkuah, maka perbanyaklah kuahnya, lalu lihatlah tetanggamu dan berikanlah sebagian kepada mereka dengan cara yang baik.”

Pesan ini menunjukkan bahwa berbagi tidak harus menunggu kelapangan rezeki. Bahkan sesuatu yang sederhana seperti kuah makanan pun dapat menjadi sarana untuk membangun hubungan sosial yang hangat. Dari tindakan kecil inilah tumbuh rasa kedekatan, kepedulian, dan solidaritas antar sesama.

Dari sudut pandang komunikasi sosial, “pagar mangkok” dapat dipahami sebagai bentuk komunikasi interpersonal yang bersifat simbolik. Memberikan makanan kepada tetangga bukan hanya tindakan fisik, tetapi juga pesan sosial yang menyampaikan perhatian, penghargaan, dan keinginan untuk menjalin hubungan. Ini adalah bentuk komunikasi nonverbal yang memiliki kekuatan emosional karena menyentuh aspek afektif manusia.

Dalam kajian filsafat komunikasi, praktik ini mencerminkan konsep intersubjektivitas, yaitu hubungan antar manusia yang dibangun atas dasar saling memahami dan saling mengakui. Komunikasi tidak lagi sekadar pertukaran informasi, tetapi menjadi proses membangun makna bersama. Semangkuk makanan yang dibagikan menjadi “bahasa” yang menghadirkan kedekatan tanpa harus banyak kata.

Sebaliknya, “pagar tembok” mencerminkan kecenderungan komunikasi yang tertutup, kurang bergaul dengan sesama. Pada dasarnya memang ia berusaha memberikan rasa aman secara fisik, tetapi juga berpotensi mengurangi interaksi sosial. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan kepercayaan sosial dan mengurangi rasa kebersamaan dalam masyarakat. Lingkungan yang minim interaksi cenderung lebih rentan terhadap konflik dan ketidakpedulian.

Sebaliknya, lingkungan yang dibangun dengan “pagar mangkok” akan lebih harmonis. Hubungan yang erat antar warga menciptakan rasa aman kolektif, di mana setiap individu merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap lingkungannya. Keamanan tidak hanya bergantung pada sistem fisik, tetapi juga pada kekuatan relasi sosial yang terbangun.

Dengan demikian, ungkapan yang disampaikan oleh Abdul Mu’ti tersebut bukan sekadar nasihat moral, tetapi juga refleksi sosial yang relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Ia mengingatkan kita untuk kembali menghidupkan nilai-nilai kebersamaan yang menjadi ciri khas budaya Indonesia.

Pada akhirnya, di tengah arus modernisasi dan gaya hidup yang semakin individualistik, kita perlu menyadari bahwa keamanan sejati tidak hanya dibangun melalui tembok yang tinggi, tetapi melalui hubungan yang hangat. Menyapa tetangga, berbagi makanan, dan hadir dalam berbagai situasi kehidupan adalah bentuk komunikasi sederhana yang memiliki dampak besar. Dari situlah “pagar mangkok” menunjukkan kekuatannya, sebagai pagar yang tidak terlihat, tetapi mampu menjaga keharmonisan dan ketahanan sosial dalam kehidupan bersama. Wallahu’alam. (*)

Catatan : tulisan ini merupakan elaborasi dari materi hikmah Syawalan Keluarga Besar Muhammadiyah Sulawesi Selatan yang dilaksanakan pada Sabtu, 28 Maret 2026 di Makassar.

 

Tinggalkan Balasan

Search