لا توجد سعادة دائمة، ولا حزن باقٍ .. كلها فواصل لمراحل جديدة, فابتسم لأجملها، و
تجاهل أت
عسها… ”
“Tidak ada kebahagiaan abadi, ataupun kesedihan abadi, semuanya adalah jeda untuk tahap yang baru, tersenyumlah pada yang terindah, dan abaikan yang paling menyedihkan. Bersabarlah wahai diri, tak selamanya engkau akan diuji. Akan datang bahagia yang engkau nanti.”
Aku sedang membisiki hatiku, tenanglah. Hujan tak selamanya deras, matahari tak selamanya terik, langit tak selamanya biru. Sebab di dunia ini tak ada yang abadi, semuanya akan berlalu seiring berjalannya waktu. Segala hal bersifat sementara: Kesulitan, kesedihan, atau masa-masa berat pasti akan mereda, seperti hujan deras yang akhirnya berhenti. Menerima bahwa tidak ada yang abadi membantu meringankan beban pikiran saat kita sedang lelah atau sedih.
Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“إذا رأيت الله يعطي العبد من الدنيا على معاصيه ما يحب، فإنما هو استدراج.”
“Jika engkau melihat Allah memberikan nikmat duniawi kepada seorang hamba apa yang dia sukai dalam keadaan dia bermaksiat kepada-Nya, maka tiada lain itu adalah istidraj.” (HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahihul Jami’ 561)
Berhati-hatilah terhadap segala nikmat duniawi yang sudah didapatkan, harta benda berlimpah dan jabatan kekuasaan yang begitu disukainya, namun dalam keadaan dzalim. Itulah istidraj.
Banyak sudah yang terjadi dalam kehidupan ini, di mana orang mulia dalam sekejap menjadi hina dan orang hina drastis berubah jadi orang mulia. Semua bisa terjadi tanpa dapat kita duga.
Banyak peristiwa dalam hidup ini seringkali tidak masuk logika dan tidak pasti. Tapi nyata terjadi di depan kita. Seringkali tidak sesuai dengan harapan dan keinginan kita, tapi tetap terjadi dan harus kita terima juga.
Hidup memang selalu memberi ketidakpastian kepada kita. Namun kita harus berani hidup dalam hukum kepastian tentang kebajikan dan kejahatan. Bahwa kebaikan akan senantiasa berbalas kebaikan dan kejahatan akan senantiasa berbalas kejahatan ketika waktunya tiba.
: اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْ ۗ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَا
“Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri.” Al-Qur’an dari Surat Al-Isra’ ayat 7
Makna dan pelajaran hidup dari ayat tersebut adalah:
- Kembalinya Perbuatan: Segala amal kebaikan yang dilakukan seseorang tidak akan sia-sia; pahala dan manfaatnya akan kembali kepada orang itu lagi. Sebaliknya, dosa atau keburukan yang diperbuat akan membawa dampak buruk dan kerugian bagi pelakunya sendiri.
- Kemandirian Amal: Allah Swt Maha Kaya dan tidak membutuhkan kebaikan manusia. Manusialah yang justru sangat membutuhkan kebaikan tersebut untuk keselamatan dan ketenangan hidup di dunia maupun di akhirat.
- Hukum Sebab-Akibat: Apa pun yang diberikan atau dipantulkan seseorang ke lingkungan sekitar (baik ucapan, perbuatan, maupun niat) pada akhirnya akan berbalik kepada dirinya sendiri. (*)
