Sengaja Tak Puasa, Sehari Tak Tergantikan Meski Puasa Setahun

 Sengaja Tak Puasa, Sehari  Tak Terganti Meski Puasa Setahun
www.majelistabligh.id -

Kultum Salat Tarawih di Masjid Mukhlisin, Kemantren, Tulangan, Sidoarjo, Sabtu (28/2/2026), menghadirkan penceramah Ustad Ahmad Efendi. Dalam tausiyahnya, ia menyampaikan tentang keistimewaan Bulan Ramadan sekaligus ancaman bagi orang yang sengaja meninggalkan puasa tanpa alasan yang dibenarkan syariat.

Mengawali ceramahnya, Ustad Ahmad Efendi mengutip firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

Demikianlah (perintah Allah). Siapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah sesungguhnya hal itu termasuk dalam ketakwaan hati(QS. Al-Hajj ayat 32).

Ia menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan syiar-syiar Allah dalam ayat tersebut mencakup berbagai bentuk ibadah yang dimuliakan oleh Allah, di antaranya puasa Ramadan, salat tarawih, dan sedekah.

Menurutnya, Allah memerintahkan umat manusia untuk berpuasa bukan tanpa alasan. Di balik perintah tersebut terdapat hikmah besar sekaligus peringatan keras bagi siapa saja yang meremehkannya.

Ancaman bagi yang Meninggalkan Puasa

Salah satu alasan penting diwajibkannya puasa adalah adanya ancaman bagi orang yang sengaja meninggalkannya tanpa uzur syar’i, seperti sakit atau sedang melakukan perjalanan jauh.

Mereka yang dengan sengaja tidak berpuasa tanpa alasan yang dibenarkan syariat akan mendapatkan ancaman siksa di akhirat.

Seperti hadis berikut:

Dari Abu Umâmah al-Bâhili, dia berkata: Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ketika aku sedang tidur, tiba-tiba ada dua laki-laki yang mendatangiku, keduanya memegangi kedua lenganku, kemudian membawaku ke sebuah gunung terjal. Keduanya berkata kepadaku, “Naiklah!” Aku menjawab, “Aku tidak mampu”. Keduanya berkata, “Kami akan memudahkannya untukmu”. Maka aku naik. Ketika aku berada di tengah gunung itu, tiba-tiba aku mendengar suara-suara yang keras, maka aku bertanya, “Suara apa itu?” Mereka menjawab, “Itu teriakan penduduk neraka”. Kemudian aku dibawa, tiba-tiba aku melihat sekelompok orang tergantung (terbalik) dengan urat-urat kaki mereka (di sebelah atas), ujung-ujung mulut mereka sobek mengalirkan darah. Aku bertanya, “Mereka itu siapa?” Mereka menjawab, “Meraka adalah orang-orang yang berbuka puasa sebelum waktunya”.

Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa tidak puasa satu hari di bulan Ramadan tanpa adanya keringanan yang Allah ‘azza wa jalla berikan kepadanya, maka tidak akan bisa menjadi ganti darinya, sekalipun ia berpuasa selama satu tahun.” (HR Abu Hurairah)

Ustad Ahmad Efendi menjelaskan makna hadis tersebut. Menurutnya, puasa yang ditinggalkan di bulan Ramadan tidak akan bisa sepenuhnya tergantikan keutamaannya, meskipun seseorang berpuasa di luar Ramadan dalam waktu yang sangat lama.

Maksudnya dari hadis tersebut: Puasa qadha’ tidak bisa menjadi pengganti dari puasa satu hari di bulan Ramadan yang ditinggalkan, yaitu bahwa satu hari puasa di bulan Ramadan tidak sama keutamaannya dibanding dengan puasa di selain Ramadan sekalipun puasa terus menerus.

Ramadan, Bulan yang Penuh Keistimewaan

Lebih lanjut ia menegaskan, tidak ada bulan yang memiliki keistimewaan seperti bulan Ramadan. Allah SWT memberikan kesempatan istimewa kepada umat Islam untuk melipatgandakan pahala sekaligus menghapus dosa-dosa yang telah lalu.

Dan orang yang bisa menahan hawa nafsu,

Dari Abu Bakar bin Abi Syaibah dari Muhammad bin Fudhail dari Yahya bin Sa’id dari Abi Salamah dari Abi Hurairah berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: Siapa yang berpuasa pada bulan Ramadan dengat niat karena Allah dan mengharap pahala dari Allah, akan diampuni dosanya di masa lampau. “

Dengan menahan lapar dan haus, serta mengendalikan hawa nafsu, seorang Muslim sedang menjalani proses penyucian diri. Dalam proses itu, Allah SWT menjanjikan ampunan bagi hamba-hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam beribadah.

Ia juga mengingatkan bahwa orang-orang yang dengan sengaja tidak berpuasa bisa jadi telah tertutup mata hatinya.

Orang-orang yang tidak berpuasa dapat dipastikan, mereka menganggap dirinya tidak ada dosa dan mereka tidak pernah takut ancaman Allah SWT, sehingga akhirnya ditutup mata hatinya.

Di akhir tausiyahnya, Ustad Ahmad Efendi mengajak jamaah untuk tetap istiqamah menjalani ibadah di bulan suci ini, meskipun terasa berat karena padatnya aktivitas ibadah.

“Semoga kita semua yang berlelah-lelah melaksanakan padatnya ibadah di bulan Ramadan akan diganti Allah SWT, dengan balasan luar biasa di akhirat,” ujarnya.

Ia juga mengingatkan agar ketika rasa lelah mulai datang, umat Islam mengingat kembali janji Allah yang penuh rahmat dan ampunan.

Ketika mulai lelah dengan padatnya ibadah di bulan suci Ramadan, ingatlah ada ampunan dan rahmat Allah SWT yang menunggu kita di bulan suci Ramadan, yang menghapus dosa-dosa kita, dan akan diangkat derajat kita. Pada akhirnya, kita berharap dapat dikumpulkan bersama orang-orang saleh terdahulu. (*/tim)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search