Seni Diam: Menjaga diri di Dunia yang Bising

Seni Diam: Menjaga diri di Dunia yang Bising
*) Oleh : Ubaidillah Ichsan, S. Pd. K. Mdy
Tapak Suci Putra Muhammadiyah (TSPM) Pimda 030 Jombang
www.majelistabligh.id -

“Your silence will never trigger regret, but your words can become a burden for the rest of your life”
“(Diammu tidak akan pernah memicu penyesalan, namun ucapanmu bisa menjadi beban seumur hidup)”

​Dunia saat ini sangat bising dengan komentar dan perdebatan. Padahal, bicara seperlunya adalah tanda kedewasaan. Jangan biarkan lidah atau jemari kita menjadi liar hanya demi mengikuti tren. Ingatlah, tidak semua ucapan membawa manfaat; banyak yang justru menjadi fitnah.

​Orang yang hobi bicara tanpa jeda cenderung terjebak dalam ghibah dan sering kali memperlihatkan kekurangan dirinya sendiri. Sebaliknya, diam adalah penutup aib yang paling anggun.

Saat menghadapi energi negatif dari orang bodoh, pilihlah diam sebagai jalan bijak. Seperti kata Imam Syafi’i, diam adalah perniagaan yang aman: kita mungkin tidak untung secara materi, tapi kita pasti tidak akan rugi secara harga diri. Allah SWT berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan Purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.“(Qs.Al-Hujurat:12)

Ayat ini mengingatkan kita bahwa banyak bicara sering kali berujung pada mencari kesalahan orang lain (ghibah). Di dunia digital, ayat ini adalah peringatan agar kita tidak mudah menghakimi atau menyebarkan aib orang lain di ruang publik.

Dalam hadis, dari hafsh bin Ashim, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

كَفَى بِالْمَرْءِ كَذِبًا أَنْ يُحَدِّثَ بِكُلِّ مَا سَمِعَ
Artinya:
“Cukup seseorang dikatakan dusta, jika ia menceritakan segala apa yang ia dengar.” (HR. Muslim No. 5)

Hadis ini menekankan pentingnya menyaring informasi, karena tidak semua yang didengar itu benar, sehingga menyebarkannya tanpa saring dapat menyebabkan seseorang masuk kategori pendusta meski tanpa sengaja, karena bisa jadi mengandung kebohongan atau informasi yang tidak lengkap, dan ini menjadi peringatan keras agar kita selektif dan bertanggung jawab dalam menyampaikan berita.

​Di zaman di mana semua orang ingin didengar, menjadi pribadi yang tahu kapan harus diam adalah sebuah keistimewaan. Dengan membatasi bicara, kita menjaga hati dari polusi kata-kata dan menyelamatkan diri dari penyesalan di masa depan.

Semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Search